Bandara Soekarno-Hatta, Halim, dan Husein Kembali Beroperasi: Penumpang Diminta Cek Jadwal dan Opsi Refund
Baca dalam 60 detik
- Tiga bandara utama yang sempat lumpuh akibat abu vulkanik Anak Krakatau telah dibuka kembali secara bertahap sejak Selasa dini hari.
- Maskapai penerbangan menyediakan fleksibilitas penuh bagi penumpang terdampak, mulai dari reschedule tanpa biaya hingga pengembalian dana penuh.
- Normalisasi operasional ini menjadi sinyal pemulihan sektor aviasi nasional, namun penumpang tetap diimbau memantau jadwal secara berkala.

Setelah sempat terhenti akibat hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, tiga bandara utama di Pulau Jawa—Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara—kembali melayani penerbangan mulai Selasa (8/9) dini hari. Pembukaan ini dilakukan setelah otoritas kebandarudaraan memastikan kondisi sebaran abu sudah aman bagi keselamatan operasional pesawat.
PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menetapkan waktu pembukaan secara berjenjang: Bandara Soekarno-Hatta mulai beroperasi pukul 00.30 WIB, disusul Halim Perdanakusuma pada 00.40 WIB, dan Husein Sastranegara sepuluh menit kemudian. Penutupan sebelumnya dipicu oleh erupsi yang menyemburkan kolom abu setinggi ribuan meter, mengganggu jarak pandang dan berpotensi merusak mesin pesawat.
Meski landasan pacu telah dibuka, pemulihan penuh jadwal penerbangan tidak terjadi seketika. Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengimbau calon penumpang untuk tidak berangkat ke bandara tanpa konfirmasi status penerbangan. “Silakan hubungi Contact Center InJourney Airports di 172 untuk informasi kebandarudaraan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Kebijakan fleksibilitas menjadi perhatian utama bagi ribuan penumpang yang jadwalnya tertunda. Garuda Indonesia, melalui pengumuman resminya, menyatakan kesiapan membantu perubahan jadwal atau pengembalian dana penuh sesuai ketentuan. Citilink juga membuka opsi serupa tanpa biaya tambahan, sementara Pelita Air memberikan ruang yang sama bagi penumpang terdampak. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga kepercayaan publik di tengah ketidakpastian operasional.
Peristiwa ini mengingatkan kembali pada dinamika geologis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memiliki sejarah erupsi signifikan—termasuk letusan 2018 yang memicu tsunami. Bagi industri penerbangan nasional, kejadian seperti ini menjadi uji ketahanan koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan lembaga vulkanologi. Pemulihan cepat yang terjadi kali ini menunjukkan protokol keselamatan yang semakin matang, namun juga menyisakan pertanyaan: seberapa siap infrastruktur kita menghadapi gangguan serupa yang lebih lama?
Ke depan, penumpang diharapkan terus memantau informasi resmi dari maskapai dan pengelola bandara. Meski operasional telah pulih, potensi perubahan jadwal susulan masih mungkin terjadi seiring proses normalisasi slot penerbangan. Bagi para pelancong yang terdampak, memanfaatkan kanal resmi untuk reschedule atau refund adalah langkah paling bijak. Pertanyaannya, apakah maskapai akan memperpanjang kebijakan fleksibel ini jika aktivitas vulkanik kembali meningkat?



