Kebakaran TPA Galuga: Akses Sempit Jadi Biang Kerok, Penyambungan Selang 500 Meter Tak Cukup
Baca dalam 60 detik
- Petugas pemadam kebakaran kesulitan menjangkau titik api di TPA Galuga karena lokasinya di ujung belakang dan medan yang tidak bisa dilalui mobil damkar.
- Untuk mengatasi keterbatasan akses, petugas menyambung selang hingga 400-500 meter, namun konsekuensinya tekanan air melemah saat mencapai sumber api.
- Kebakaran yang mulai terjadi Senin sore itu masih dalam penanganan, dan Bupati Bogor telah turun langsung memantau proses pemadaman.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, memantau langsung proses pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Cibungbulang, dan menemukan kendala utama: akses menuju titik api yang sangat terbatas. Mobil pemadam kebakaran tak mampu menjangkau lokasi karena api berada di ujung paling belakang area pembuangan yang luasnya puluhan hektare.
Menurut Rudy, titik api tidak berada di tengah timbunan sampah yang masih aktif, melainkan di bagian paling ujung. Kondisi ini memaksa petugas untuk menyambung selang dari jarak jauh. "Dari beberapa selang yang ada, kami sambung-sambung menjadi satu dengan panjang total mencapai 400 hingga 500 meter," ujarnya, Selasa (8/9/2026). Konsekuensinya, tekanan air menurun drastis ketika mencapai titik api, sehingga proses pemadaman berjalan lambat.
Kebakaran ini pertama kali dilaporkan pada Senin (7/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Api mulanya membakar lahan kosong di seberang TPA, lalu merambat hingga memasuki area pembuangan. Hingga Selasa, api masih belum sepenuhnya padam. Dansek Leuwiliang Damkar Kabupaten Bogor, Mulyana, menyatakan situasi masih dalam penanganan intensif.
Persoalan akses ini bukan hal baru dalam penanganan kebakaran di TPA. Di berbagai daerah, lokasi pembuangan akhir kerap berada di area yang sulit dijangkau, terutama saat musim kemarau ketika sampah kering mudah terbakar. Namun, kasus Galuga menyoroti kelemahan infrastruktur penanggulangan kebakaran di Indonesia, khususnya di fasilitas pengelolaan sampah yang seharusnya memiliki sistem proteksi kebakaran yang memadai.
Bupati Rudy mengakui tantangan ini luar biasa. "Kendala yang luar biasa adalah akses, karena titik api berada di ujung paling belakang sehingga mobil pemadam tidak bisa masuk," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya evaluasi menyeluruh terhadap desain TPA di Indonesia, termasuk penyediaan jalur khusus pemadam kebakaran dan sumber air alternatif.
Bagi warga sekitar dan pengelola lingkungan, kejadian ini menjadi pengingat akan risiko kebakaran yang meningkat di musim kemarau. TPA Galuga sendiri melayani sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor, sehingga gangguan operasional akibat kebakaran dapat berdampak pada pengelolaan sampah harian. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah pemerintah daerah akan memperbaiki infrastruktur pemadaman di TPA-TPA lain sebelum musim kemarau berikutnya tiba?



