Gencatan Senjata Gaza Kandas? 1.352 Tewas Sejak 11 Oktober, Total 73.000 Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Dalam 24 jam terakhir, serangan Israel di Gaza menewaskan lima warga dan melukai 30 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan setempat.
- Gencatan senjata yang berlaku sejak 11 Oktober tidak menghentikan kekerasan; tercatat 1.352 kematian dan 4.511 luka-luka selama periode tersebut.
- Akumulasi korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 telah menembus 73.000 orang, dengan kekhawatiran jumlah sebenarnya lebih tinggi karena korban masih tertimbun reruntuhan.

Serangan militer Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa, menandakan rapuhnya gencatan senjata yang baru berjalan beberapa bulan. Dalam kurun 24 jam terakhir, sedikitnya lima warga Palestina tewas dan tiga puluh lainnya menderita luka-luka, sebagaimana dilaporkan Kementerian Kesehatan Gaza pada Senin. Angka ini menjadi bukti bahwa kesepakatan penghentian tembak-menembak yang disepakati 11 Oktober lalu belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Menurut pernyataan resmi kementerian, dua dari lima korban tewas tersebut meninggal dunia akibat luka parah yang diderita sebelumnya, sementara tiga lainnya menjadi korban langsung serangan terbaru. Petugas medis dan tim pertahanan sipil masih kesulitan menjangkau sejumlah lokasi, sehingga dikhawatirkan masih ada korban yang tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang hancur atau di jalan-jalan yang belum dapat diakses. Kondisi ini memperparah kesulitan dalam mendata jumlah korban secara akurat.
Data yang dirilis kementerian menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, total korban tewas telah mencapai 1.352 orang, dengan 4.511 lainnya mengalami luka-luka. Selama periode yang sama, tim penyelamat baru berhasil mengevakuasi 826 jenazah dari reruntuhan. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa intensitas serangan tidak berkurang secara signifikan meskipun ada kesepakatan damai, dan warga sipil tetap menjadi pihak yang paling terdampak.
Secara keseluruhan, konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini telah merenggut nyawa lebih dari 73.000 orang sejak 7 Oktober 2023. Angka tersebut menjadikan konflik ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah modern kawasan. Para pengamat menilai bahwa meskipun ada tekanan internasional untuk menghentikan pertempuran, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan, dan gencatan senjata yang ada hanya bersifat parsial dan rapuh.
Bagi Indonesia, eskalasi di Gaza memiliki resonansi yang mendalam. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah berulang kali mengecam kekerasan dan mendesak diakhirinya blokade serta serangan terhadap warga sipil. Sikap ini sejalan dengan mandat konstitusi untuk ikut serta dalam perdamaian dunia, namun juga menempatkan Indonesia pada posisi yang menuntut konsistensi dalam diplomasi internasional.
โGencatan senjata yang ada saat ini tidak lebih dari sekadar jeda taktis. Tanpa adanya komitmen politik yang kuat dari semua pihak, warga sipil akan terus menjadi korban,โ ujar seorang analis politik Timur Tengah yang enggan disebutkan namanya.
Lebih jauh, situasi ini berpotensi memicu gelombang pengungsi baru dan krisis kemanusiaan yang lebih parah. Infrastruktur kesehatan di Gaza yang sudah hancur akibat pemboman berkepanjangan semakin kewalahan menangani korban yang terus berdatangan. Organisasi kemanusiaan internasional, termasuk yang berbasis di Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan bantuan akibat pembatasan akses dan ketidakamanan di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah komunitas internasional mampu mendorong kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan menghidupkan kembali proses perdamaian yang lebih substantif. Tanpa adanya jaminan keamanan yang jelas bagi warga sipil dan mekanisme pengawasan yang efektif, gencatan senjata berikutnya hanya akan menjadi siklus kekerasan yang berulang. Bagi Indonesia, dukungan diplomatik yang kuat dan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan menjadi instrumen penting untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina, sekaligus menjaga relevansi peran Indonesia di panggung global.



