Kekacauan Deadline Day: Suporter Everton Berontak, Manajemen Friedkin Group Terpojok
Baca dalam 60 detik
- Manajemen Everton menuai kecaman setelah gagal total di hari pamungkas bursa transfer, termasuk batalnya transfer Folarin Balogun yang sudah di depan mata.
- Kekuatan skuat The Toffees justru melemah dengan hanya menyisakan satu striker murni, memicu kekecewaan publik dan aksi protes kelompok suporter.
- Kepercayaan terhadap pemilik baru, Friedkin Group, dan CEO Angus Kinnear berada di titik nadir, membayangi performa tim di sisa musim.

Kegagalan Everton di hari pamungkas bursa transfer musim panas ini memicu gelombang kemarahan suporter yang menuntut pertanggungjawaban pemilik The Friedkin Group (TFG) dan CEO Angus Kinnear. Kekacauan yang terjadi pada detik-detik terakhir penutupan jendela transfer, yang berujung pada batalnya transfer Folarin Balogun, menjadi puncak dari serangkaian manajemen yang dianggap amatir oleh para penggemar.
Seperti dilansir BBC, proses transfer Balogun dari AS Monaco senilai 40 juta poundsterling berubah menjadi sandiwara yang memalukan. Masalah dalam pemeriksaan medis memaksa negosiasi ulang di menit-menit akhir. Striker asal Amerika Serikat itu bahkan sempat berada di fasilitas latihan Finch Farm, namun akhirnya memilih hengkang tanpa menandatangani kontrak. Padahal, berkas kesepakatan telah ditandatangani kedua klub dan pemain setelah tenggat waktu resmi.
Kegagalan mendatangkan pengganti yang layak membuat Everton hanya memiliki satu striker senior, Thierno Barry, dan total 18 pemain outfield. Situasi ini jelas bertolak belakang dengan pernyataan Kinnear beberapa waktu lalu yang mengklaim skuat dalam 'kondisi baik'. Kini, pernyataan itu menjadi bumerang dan membuat manajer David Moyes harus bekerja ekstra dengan keterbatasan yang ada.
Kemarahan suporter bukan tanpa sebab. Mereka menilai manajemen klub tidak kompeten dalam perencanaan rekrutmen. Petisi daring untuk memecat Kinnear pun beredar luas. Kelompok suporter The 1878s, yang terkenal dengan koreografi spektakulernya, bahkan mengumumkan mundur dari aktivitas dukungan di stadion sebagai bentuk protes. Mereka menyatakan kekecewaan mendalam atas arah kebijakan klub yang dinilai tidak profesional.
Kegagalan di bursa transfer ini juga menyoroti masalah struktural yang lebih dalam. Keputusan untuk menjual pemain muda potensial Harrison Armstrong ke Nottingham Forest, yang batal di menit akhir karena reaksi keras suporter, menunjukkan kurangnya kepekaan manajemen terhadap nilai-nilai klub. Di sisi lain, kepergian pemain kunci seperti Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan nilai 65 juta poundsterling semakin memperjelas bahwa Everton kehilangan daya saing di papan atas.
Bagi pengamat sepak bola, kekacauan ini adalah buah dari perencanaan yang buruk dan komunikasi yang tidak efektif antara pemilik, direksi, dan staf pelatih. Meski mendatangkan Jack Grealish dengan status pinjaman dan Ainsley Maitland-Niles menjadi sedikit penyejuk, namun secara keseluruhan skuat Everton musim ini lebih lemah dibanding musim lalu. Publik menantikan langkah konkret TFG untuk memulihkan kepercayaan yang jebol.
Konteksnya, situasi ini mengingatkan pada pentingnya tata kelola klub yang profesional, sebuah pelajaran yang relevan bagi klub-klub di Indonesia yang sedang berbenah. Kepercayaan suporter adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang. Jika tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin krisis kepercayaan ini akan berlarut dan menghambat performa tim di lapangan. Pertanyaannya, akankah Friedkin Group belajar dari kesalahan ini atau justru mengulang pola yang sama?



