Otoritas Moneter Singapura Gelontorkan S$220 Juta untuk Pacu Inovasi Fintech
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengalokasikan dana segar sebesar S$220 juta untuk mempercepat inovasi sektor fintech dalam tiga tahun ke depan.
- Skema FSTI 4.0 ini dirancang untuk memperkuat posisi Singapura sebagai pusat fintech global, dengan fokus pada AI, teknologi kuantum, dan pengembangan talenta.
- Inisiatif ini diharapkan dapat menjawab tantangan kekurangan talenta dan mendorong adopsi teknologi di tengah persaingan regional yang semakin ketat.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengumumkan komitmen pendanaan sebesar S$220 juta (sekitar US$173 juta) untuk mempercepat inovasi di sektor teknologi finansial (fintech). Langkah ini merupakan bagian dari skema Financial Sector Technology and Innovation (FSTI) 4.0 yang diluncurkan pada Senin (31/8), dan akan berjalan selama tiga tahun ke depan. Inisiatif ini dinilai sebagai respons strategis untuk menjaga daya saing Singapura di tengah lanskap fintech global yang semakin kompetitif.
Skema FSTI 4.0 hadir dengan enam jalur utama yang mencakup inovasi institusional, adopsi kecerdasan buatan (AI), pengembangan infrastruktur dan platform, serta pembinaan talenta. Deputi Perdana Menteri sekaligus Ketua MAS, Gan Kim Yong, menegaskan bahwa investasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem yang mampu mendorong institusi keuangan, perusahaan fintech, dan pekerja untuk berinovasi serta berkembang. "Upaya ini akan membantu mereka memanfaatkan peluang yang muncul," ujarnya dalam konferensi pers.
Salah satu sorotan utama FSTI 4.0 adalah penciptaan jalur talenta melalui program magang yang ditargetkan mencapai 1.000 kesempatan dalam tiga tahun. MAS akan menanggung 80 persen biaya magang bulanan, dengan batas maksimal S$1.000 per bulan untuk setiap peserta. Selain itu, diluncurkan portal khusus bernama fintechinternships.sg yang dikelola oleh Singapore FinTech Association (SFA) untuk menghubungkan perusahaan dengan mahasiswa dari institusi pendidikan tinggi. Langkah ini diambil untuk menjawab kelangkaan talenta di bidang AI, data sains, keamanan siber, dan arsitektur cloud yang selama ini menjadi hambatan pertumbuhan industri.
Di luar aspek sumber daya manusia, FSTI 4.0 juga menekankan adopsi teknologi mutakhir seperti AI, distributed ledger, dan komputasi kuantum. Melalui jalur AI Pathfinder, MAS akan mempercepat penggunaan solusi AI yang telah teruji pasar dan terdaftar di PathFin.ai. Sementara itu, jalur Centre of Excellence dirancang untuk menarik fungsi bernilai tinggi dari institusi keuangan global agar beroperasi di Singapura. MAS memberikan dukungan pendanaan hingga 50 persen untuk biaya tenaga kerja warga negara Singapura dan 25 persen untuk non-warga negara selama 24 bulan.
Skema ini juga memperkenalkan GFH Scale-up Grant, sebuah hibah lanjutan hingga S$500.000 bagi finalis Global FinTech Hackcelerator untuk mengembangkan solusi mereka pasca-kompetisi. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2015, FSTI telah mendukung lebih dari 350 proyek fintech dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari S$3,8 miliar melalui program Hackcelerator. Gan Kim Yong menambahkan bahwa Singapura saat ini memiliki lebih dari 1.800 perusahaan fintech yang mempekerjakan sekitar 10.000 orang, dengan total investasi fintech mencapai hampir S$3 miliar pada 2025.
Menanggapi kekhawatiran tentang persaingan dengan pusat keuangan lain seperti Hong Kong, Gan menegaskan bahwa industri keuangan bukanlah "permainan zero-sum". Menurutnya, peningkatan kualitas di Singapura akan berdampak positif bagi kawasan secara keseluruhan. "Ketika kita menjadi lebih baik, Hong Kong dan pusat keuangan lain juga akan menjadi lebih baik. Kita harus memastikan kita terus melaju," katanya. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa kolaborasi regional justru akan memperkuat posisi Asia sebagai episentrum inovasi keuangan global.
Pelaku industri menyambut baik inisiatif ini. Presiden SFA, Holly Fang, menilai FSTI 4.0 memberikan dukungan menyeluruh dari tahap inovasi hingga komersialisasi. Sementara itu, CEO YouTrip, Caecilia Chu, melihat skema ini datang di saat yang tepat di tengah lesunya pendanaan ventura. Ia berharap jalur AI Pathfinder dapat mendorong perusahaan untuk lebih berani mengembangkan produk AI. Namun, Kelvin Teo dari Funding Societies mengingatkan bahwa tantangan terbesar tetap pada penarikan talenta level menengah dan senior, yang kerap bersaing dengan bank dan perusahaan teknologi global. Ia menyarankan adanya insentif khusus untuk karier menengah dan kepastian jalur permukiman bagi talenta asing berpengalaman.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi sinyal penting dalam persaingan fintech di Asia Tenggara. Dengan ekosistem yang semakin matang, Singapura berpotensi menjadi magnet bagi talenta dan modal asing, yang dapat berdampak pada arus investasi di kawasan. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan merespons dengan kebijakan serupa untuk mempertahankan daya saing industri fintech nasional? Ke depan, dinamika ini akan menarik untuk dicermati, terutama dalam hal regulasi dan pengembangan sumber daya manusia di sektor keuangan digital.



