Kebakaran Kalimantan Ancam Habitat Orangutan, Upaya Penyelamatan Dipercepat
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan terbakar di Kalimantan mencapai 57.000 hektare hingga akhir Juli, mengancam habitat orangutan yang sudah terfragmentasi.
- Organisasi konservasi seperti IAR dan BOSF meningkatkan patroli dan penyelamatan, termasuk relokasi tiga orangutan di Ketapang ke Taman Nasional Gunung Palung.
- Asap kebakaran berpotensi memicu gangguan pernapasan dan kelangkaan pangan, yang dapat memperlambat reproduksi dan mendorong spesies ini menuju kepunahan.

Kebakaran hutan dan lahan gambut yang melanda Kalimantan telah mendorong pemerintah serta lembaga konservasi untuk mempercepat evakuasi orangutan dari habitat aslinya. Data Kementerian Kehutanan mencatat sedikitnya 57.000 hektare lahan hangus hingga akhir Juli, dan sebagian di antaranya merupakan rumah bagi orangutan Borneo yang statusnya sudah kritis.
Populasi orangutan Borneo diperkirakan mencapai 57.350 ekor yang tersebar di hutan yang terpotong-potong oleh konsesi industri. Hanya sekitar 20 persen habitat mereka yang berada di kawasan lindung. Kondisi ini membuat satwa dilindungi itu semakin rentan ketika api melahap sisa-sisa hutan yang menjadi sumber pangan utama mereka.
Karmele Llano Sanchez, CEO International Animal Rescue (IAR) Indonesia, mengungkapkan bahwa kebakaran memaksa orangutan keluar dari habitatnya untuk mencari makanan, sehingga kerap berujung konflik dengan manusia di perkampungan dan lahan pertanian. Salah satu contohnya terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat, di mana tiga orangutan berhasil dievakuasi pada 19 Agustus setelah sebelumnya terlihat di perkebunan warga. Mereka kemudian dipindahkan ke Taman Nasional Gunung Palung.
IAR tidak berhenti pada tiga individu tersebut. Organisasi itu telah menyelamatkan satu orangutan lagi dan terus memantau beberapa ekor lainnya di dekat area terbakar. Sanchez mengingatkan bahwa potensi penyelamatan lebih banyak masih terbuka lebar dalam beberapa pekan ke depan. Sementara itu, Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) telah bersiaga sejak Januari dengan memantau titik api dan menyiapkan sumber air di kawasan konservasinya sebagai antisipasi musim kemarau akibat El Nino.
BOSF melaporkan belum ada orangutan liar maupun hasil rehabilitasi yang perlu dievakuasi, dan pusat rehabilitasi mereka aman dari api. Namun, sekitar 48 hektare hutan di area restorasi Mawas, Kalimantan Tengah, ikut terbakar. Area gambut seluas 309.000 hektare itu menjadi rumah bagi lebih dari 2.500 orangutan liar. Direktur BOSF, Jamartin Sihite, menekankan bahwa dampak asap yang mencapai pusat rehabilitasi sama seriusnya dengan api itu sendiri.
Sebagai langkah pencegahan, BOSF memberikan multivitamin kepada orangutan di fasilitas mereka untuk menjaga daya tahan tubuh. Namun, orangutan liar yang terpapar asap berisiko tinggi terkena infeksi saluran pernapasan. Gangguan ini dapat mengganggu kemampuan navigasi mereka dan berujung pada keluarnya satwa dari hutan. Ekolog Didik Prasetyo dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta mengingatkan bahwa asap tebal menghalangi sinar matahari menembus kanopi, sehingga mengganggu produksi buah-buahan yang menjadi makanan utama orangutan. Kondisi serupa pernah terjadi pasca kebakaran besar 2015.
Keterbatasan pangan memaksa orangutan menunda reproduksi, padahal spesies ini sudah memiliki siklus kelahiran yang lambat—sekitar satu bayi setiap tujuh hingga delapan tahun. Direktur Program Hutan dan Satwa Liar WWF Indonesia, Muhammad Ali Imron, menegaskan bahwa kebakaran dapat mendorong populasi yang sudah rentan ini menuju kepunahan. Ia menyerukan kolaborasi semua pihak—pemerintah, masyarakat, pengguna lahan, bisnis, dan konservasionis—untuk menjaga habitat, konektivitas, dan kapasitasnya.
Sanchez dari IAR menilai strategi terbaik adalah mencegah kebakaran melalui pengelolaan lahan yang lebih ketat dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan untuk pertanian. Kementerian Kehutanan sendiri telah meningkatkan patroli, memadamkan api di habitat kunci, mengamankan koridor satwa, dan memindahkan hewan dari zona berisiko tinggi. Pada 26 Agustus, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung Berau, Kalimantan Timur, untuk memastikan kebakaran tidak mengancam habitat orangutan. Ia menegaskan bahwa respons kebakaran tidak hanya untuk melindungi manusia, tetapi juga satwa liar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah upaya pencegahan dan penegakan hukum mampu berjalan konsisten sepanjang musim kemarau, atau akankah kebakaran kembali menjadi momok tahunan yang menggerus populasi orangutan. Tanpa langkah kolektif yang lebih tegas, bukan tidak mungkin spesies ikonik Indonesia ini semakin mendekati jurang kepunahan.



