Serie A Pekan Kedua: Frosinone Hancurkan Pesta Centenario Fiorentina, Berardi Langsung Berdampak untuk Sassuolo
Baca dalam 60 detik
- Frosinone, tim promosi, mengejutkan Fiorentina dengan kemenangan telak 3-0 di laga perayaan 100 tahun klub, membuat La Viola tanpa gol dalam dua laga awal.
- Sassuolo meraih kemenangan perdana musim ini berkat gol Cristian Volpato dan aksi instan Domenico Berardi yang baru masuk sebagai pemain pengganti.
- Udinese memanfaatkan blunder Monza untuk menang 3-2, sementara Juventus yang dilanda krisis cedera bersiap menghadapi Parma di laga penutup giornata.

Laga pekan kedua Serie A yang berlangsung serentak pada Sabtu sore menghadirkan kejutan besar: Fiorentina, yang tengah merayakan seratus tahun berdirinya klub, harus menelan kekalahan memalukan 0-3 dari tim promosi Frosinone di Stadio Artemio Franchi. Hasil ini membuat total kebobolan La Viola dalam dua pertandingan awal menjadi tujuh gol tanpa satu pun balasan, sebuah awal terburuk yang mungkin tidak pernah dibayangkan para pendukungnya.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi ambisi Fiorentina yang pada musim lalu tampil konsisten di papan atas. Antonio Raimondo menjadi mimpi buruk tuan rumah dengan dua golnya, sementara sundulan Gabriele Bracaglia menutup pesta centenario yang berubah menjadi bencana. Yang menarik, atmosfer di tribun Franchi tidak seperti biasanya; alih-alih cemoohan keras, penonton justru terlihat bingung dan nyaris terdiam menyaksikan tim kesayangan mereka tampil tanpa perlawanan berarti. Frosinone, yang baru kembali ke kasta tertinggi, justru tampil percaya diri dan efisien dalam memanfaatkan peluang.
Sementara itu, Sassuolo akhirnya memetik kemenangan perdana musim ini setelah menaklukkan Torino dengan skor 2-1. Cristian Volpato membuka keunggulan, namun sorotan utama tertuju pada Domenico Berardi. Masuk sebagai pemain pengganti, Berardi langsung menunjukkan kualitasnya dengan sebuah gol spektakuler dari jarak 12 yard yang menembus kerumunan pemain. Kontribusi instan pemain yang sempat dikaitkan dengan kepindahan ke klub besar ini menjadi sinyal positif bagi Neroverdi yang musim lalu nyaris terdegradasi. Pelatih Sassuolo tentu berharap performa ini bisa berlanjut untuk menjauh dari zona merah.
Di laga lain, Udinese berhasil membawa pulang tiga poin dari kandang Monza setelah menang dramatis 3-2. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan lini belakang Monza dimanfaatkan dengan dingin oleh tim tamu, termasuk sebuah gol indah dari Jurgen Ekkelenkamp yang menjadi sorotan. Meski Monza sempat memperkecil ketertinggalan dan terus menekan di akhir laga, Udinese mampu bertahan dan mengamankan kemenangan yang sangat berarti bagi moral tim. Kekalahan ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi pelatih Monza yang harus segera membenahi konsistensi permainan timnya.
Perhatian publik Italia pada malam harinya tertuju pada duel Juventus melawan Parma. Juventus yang tengah dilanda krisis cedera mencoba membangun momentum setelah hasil kurang memuaskan di laga pembuka. Dengan skuat yang tidak full team, pelatih Thiago Motta harus meramu strategi untuk menghadapi Parma yang juga berusaha bangkit. Pertandingan ini diprediksi berjalan ketat, mengingat Parma bukanlah lawan yang mudah, terutama jika mereka tampil dengan motivasi tinggi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, hasil-hasil ini menunjukkan betapa kompetitifnya Serie A musim ini. Tim-tim promosi seperti Frosinone tidak bisa dianggap remeh, dan hal ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang seringkali kesulitan menghadapi tim yang baru naik kasta. Selain itu, performa pemain-pemain muda seperti Raimondo dan Ekkelenkamp menegaskan bahwa talenta muda Eropa terus bermunculan, sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan pemain muda di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Fiorentina bangkit dari keterpurukan ini? Jadwal padat dan tekanan dari tifosi akan menjadi ujian mental bagi skuat asuhan Raffaele Palladino. Sementara itu, konsistensi menjadi kata kunci bagi Sassuolo dan Udinese untuk bisa bersaing di papan tengah. Pekan ketiga akan menjadi momentum bagi setiap tim untuk menunjukkan karakter sebenarnya.



