Pogacar Tersingkir dari Vuelta: Mimpi Grand Slam Hancur di Tengah Jalan
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar gagal melanjutkan Vuelta a Espana setelah crash di etape kedelapan, mengakhiri ambisinya memenangi tiga grand tour dalam satu musim.
- Kecelakaan terjadi 33 km sebelum finis, menyebabkan cedera bahu kiri dan wajah; ini kali pertama ia mundur dari grand tour sepanjang kariernya.
- Kehilangan Pogacar membuka peluang bagi pembalap lain, dengan setidaknya enam kandidat kini berpeluang merebut jersey merah, sekaligus mempertanyakan kesiapannya di Kejuaraan Dunia September mendatang.

Tadej Pogacar, pemimpin klasemen Vuelta a Espana, harus mengakhiri perjalanannya secara dramatis setelah terlibat kecelakaan pada etape kedelapan, Rabu (27/8). Insiden yang terjadi sekitar 33 kilometer sebelum garis finis itu memaksa sang juara dunia asal Slovenia mundur dari balapan tiga minggu tersebut, sekaligus memupus harapannya untuk menyapu bersih tiga grand tour dalam satu musim.
Pogacar, yang baru saja memenangkan Tour de France kelima kalinya bulan lalu, sedang dalam performa terbaiknya. Ia memulai etape dengan keunggulan 3 menit 50 detik atas Enric Mas dari Spanyol. Namun, nasib berkata lain. Dalam tayangan ulang, terlihat ia terjatuh di tengah peleton, mengalami cedera bahu kiri dan luka di wajah. Sempat mencoba melanjutkan, ia akhirnya berjalan sendiri menuju ambulans, menandai pertama kalinya ia gagal menyelesaikan grand tour sepanjang kariernya.
Kecelakaan ini menjadi pukulan telak bagi UAE Team Emirates-XRG, yang berharap Pogacar bisa menjadi pembalap kesembilan dalam sejarah yang memenangi Tour de France, Giro d'Italia, dan Vuelta a Espana. Sebelumnya, ia telah mengoleksi lima gelar Tour de France dan satu Giro d'Italia, serta 13 kemenangan monument, termasuk tiga kali Tour of Flanders dan lima kali Il Lombardia. Pada 2025, ia juga mencatatkan finis kedua di Paris-Roubaix, mempertegas dominasinya di berbagai medan.
Kehilangan Pogacar tidak hanya mengubah peta persaingan di Vuelta, tetapi juga berdampak pada rating dan animo penonton. Kehadirannya selama sepekan terakhir telah meningkatkan jumlah penonton secara signifikan. Kini, dengan absennya sang favorit, balapan diprediksi menjadi lebih terbuka. Setidaknya enam pembalap yang sebelumnya tertinggal jauh kini memiliki peluang nyata untuk mengenakan jersey merah di Madrid.
Di tengah kekecewaan, muncul pertanyaan besar mengenai kesiapan Pogacar untuk membela jersey pelangi di Kejuaraan Dunia yang akan berlangsung di Kanada bulan depan. Cedera bahu kiri bisa menjadi penghambat, mengingat waktu pemulihan yang singkat. Meski demikian, Pogacar dikenal sebagai pembalap yang tangguh dan memiliki waktu karier yang panjang untuk mencoba lagi. Namun, kegagalan ini menjadi pengingat bahwa dalam olahraga sekeras ini, tidak ada yang kebal terhadap risiko.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kejadian ini menegaskan betapa dinamisnya dunia balap jalanan. Meski jarang ada pembalap Indonesia di level ini, momen seperti ini sering menjadi sorotan dan meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga yang menuntut ketahanan fisik dan mental luar biasa. Dengan absennya Pogacar, Vuelta tahun ini justru bisa menjadi ajang kejutan, di mana nama-nama baru berpeluang mencuri perhatian.
Akankah salah satu dari enam kandidat mampu memanfaatkan peluang ini? Atau justru akan muncul pembalap di luar dugaan yang merebut mahkota? Yang jelas, Vuelta a Espana 2025 kini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian, dan justru itulah yang membuat balapan ini semakin menarik untuk diikuti.



