300–400 Personel Komcad Dikerahkan untuk Percepatan Pemulihan NTT Pascagempa
Baca dalam 60 detik
- Kemhan menyiagakan 300–400 personel Komcad di NTT untuk membantu pemulihan pascagempa, tersebar di Timor, Sumba, Alor, dan Flores.
- Sebagian personel telah bergerak mandiri tanpa menunggu komando, menunjukkan kesiapan operasional di lapangan.
- Dukungan ini melengkapi distribusi 954 ton bantuan logistik dari BNPB, menandakan sinergi sipil-militer dalam penanganan bencana.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan sekitar 300–400 personel Komponen Cadangan (Komcad) di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah disiagakan untuk mempercepat pemulihan wilayah yang dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu. Kesiapan ini diumumkan Kepala Badan Cadangan Nasional Kemhan, Letjen TNI Gabriel Lema, di Lapangan Brigade Parako 1 Pasgat, Jakarta Timur, Senin (24/8).
Personel Komcad tersebut tersebar di sejumlah pulau utama NTT, mencakup daratan Timor, Sumba, Alor, dan Flores. Menurut Gabriel, mereka akan bersinergi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, serta instansi terkait dalam penanganan dampak gempa. Yang menarik, sebagian personel telah turun langsung membantu masyarakat atas inisiatif sendiri, tanpa menunggu instruksi resmi—sebuah indikasi kesiapan operasional yang tinggi di tengah situasi darurat.
“Kendali ada di pemerintah daerah setempat. Kami tidak bisa menyebut jumlah pastinya, tetapi yang jelas begitu tiba di lokasi, Komcad langsung bertindak, baik yang berseragam loreng maupun pakaian dinas,” ujar Gabriel. Ia menegaskan bahwa personel hingga kini masih aktif di lapangan dan diminta memberikan pelayanan terbaik agar kehadiran mereka benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Ini wujud wajah hati Komcad—tidak menunggu perintah,” tambahnya.
Gempa tektonik yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB itu sempat memicu peringatan dini tsunami, yang kemudian dicabut BMKG pada pukul 07.30 WIB. Hingga 19 Agustus pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 2.768 gempa susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2, termasuk 24 kejadian di atas magnitudo 5. Kondisi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi, tidak hanya dari aparat sipil tetapi juga elemen pertahanan.
Di sisi lain, pemerintah pusat terus mengalirkan bantuan logistik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sekitar 954 ton bantuan telah didistribusikan dari Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo dan Maumere sejak 15 hingga 22 Agustus. Angka ini menunjukkan skala besar operasi kemanusiaan yang berjalan paralel dengan mobilisasi personel Komcad.
Keterlibatan Komcad dalam penanganan bencana ini menegaskan peran ganda kekuatan cadangan militer, yang tidak hanya untuk pertahanan negara tetapi juga tanggap darurat kemanusiaan. Langkah ini sejalan dengan doktrin bela negara yang menekankan kesiapsiagaan sipil dalam menghadapi ancaman non-militer. Bagi masyarakat NTT, kehadiran Komcad diharapkan mempercepat pemulihan infrastruktur dan layanan dasar, mengingat akses ke daerah terdampak kerap terhambat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana koordinasi antara Komcad, TNI, dan BNPB akan berkelanjutan, terutama dalam rehabilitasi jangka panjang. Akankah model mobilisasi cepat ini menjadi prototipe penanganan bencana di wilayah rawan gempa lainnya di Indonesia? Dengan pengalaman NTT, diharapkan lahir standar operasi yang lebih matang untuk respons bencana di masa mendatang.



