Enam Asosiasi Sepak Bola Nordik Nyatakan Tak Percaya pada Infantino, Desak Reformasi FIFA
Baca dalam 60 detik
- Enam federasi sepak bola Nordik secara kolektif menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Gianni Infantino, menuntut perubahan tata kelola FIFA.
- Langkah ini memperkuat desakan tiga konfederasi besar (UEFA, AFC, CONCACAF) agar presiden FIFA mundur dan penyelidikan independen atas rencana privatisasi Piala Dunia.
- Krisis kepercayaan ini berpotensi mempengaruhi arah kebijakan FIFA menjelang pemilihan presiden tahun depan, dengan implikasi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Enam asosiasi sepak bola dari kawasan Nordik secara serentak menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan menuntut perombakan menyeluruh dalam tata kelola organisasi sepak bola dunia tersebut. Pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan di Helsinki pada Minggu (23/8) ini menjadi pukulan telak bagi Infantino yang tengah bersiap mencalonkan diri untuk periode keempat.
Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Kepulauan Faroeโyang tergabung dalam enam anggota FIFA dari kawasan Nordikโmenegaskan dukungan mereka terhadap seruan mundur yang sebelumnya dilontarkan oleh tiga konfederasi regional besar: UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia). Mereka juga mendukung tuntutan penyelidikan independen atas rencana kontroversial Infantino untuk menjual sebagian hak kepemilikan ajang seperti Piala Dunia kepada investor swasta, sebuah gagasan yang akhirnya dibatalkan setelah mendapat tentangan global.
"Kami, enam asosiasi sepak bola Nordik, telah kehilangan kepercayaan terhadap presiden FIFA dan prihatin terhadap tata kelola serta pengambilan keputusan di tingkat tertinggi organisasi ini," demikian bunyi pernyataan resmi mereka. Mereka juga menuntut jaminan mengikat dari FIFA bahwa tata kelola dan kompetisi tidak akan pernah lagi dibuka untuk kepemilikan swasta. Langkah ini mempertegas sikap Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU) yang sebelumnya berjanji mencari kandidat alternatif yang kredibel untuk melawan Infantino pada pemilihan presiden tahun depan.
Tekanan terhadap Infantino semakin nyata setelah tiga konfederasi besar membahas kemungkinan mosi tidak percaya. Dalam pernyataannya, asosiasi Nordik juga mendukung tuntutan AFC, CONCACAF, dan UEFA agar dibentuk investigasi eksternal yang sepenuhnya independen terhadap proposal FIFA Forward Enterprise. Mereka pun mendesak FIFA melakukan tinjauan menyeluruh atas kerangka tata kelola yang diadopsi pada 2016 untuk memastikan independensi, checks and balances, transparansi, dan akuntabilitas sesuai yang diinginkan.
Sementara itu, Infantino justru menghadiri pertemuan dengan pejabat Uni Sepak Bola Karibia (CFU) di Republik Dominika pada akhir pekan ini. Kehadirannya sempat ditentang oleh Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, yang khawatir akan mengalihkan perhatian dari turnamen remaja U-14 yang sedang berlangsung. Infantino membela kunjungannya dengan menyebut pentingnya berdialog dan menyampaikan pandangan, seraya menekankan bahwa turnamen tersebut dapat terselenggara berkat program FIFA Forward.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia kerap menjadi sorotan dalam kebijakan FIFA, terutama terkait pembinaan usia muda dan pengembangan infrastruktur. Jika reformasi tata kelola benar-benar terjadi, Indonesia berpotensi mendapatkan manfaat dari transparansi yang lebih baik dalam alokasi dana pengembangan, seperti yang selama ini dikritik oleh berbagai pihak. Namun, ketidakstabilan di pucuk pimpinan FIFA juga bisa berdampak pada kelancaran program-program yang sedang berjalan, termasuk yang melibatkan PSSI.
Krisis kepercayaan ini menempatkan FIFA pada persimpangan jalan. Pertanyaan besarnya, akankah tekanan dari negara-negara Nordik dan konfederasi besar mampu memaksa Infantino mundur atau setidaknya mengubah arah kebijakannya? Atau justru sebaliknya, Infantino akan bertahan dan semakin mengkonsolidasikan kekuasaannya? Yang jelas, pemilihan presiden FIFA tahun depan akan menjadi ajang uji kredibilitas organisasi ini di mata dunia.



