Perang Rusia-Ukraina Meluas: Serangan Balasan Drone Menyasar Infrastruktur Minyak, Korban Sipil Terus Berjatuhan
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Rusia dan Ukraina dalam 24 jam terakhir menewaskan sedikitnya 10 orang, sehari setelah serangan Rusia ke pusat perbelanjaan di Kryvyi Rih menewaskan 16 orang.
- Rusia mengintensifkan serangan rudal balistik ke Kyiv, memanfaatkan kelangkaan sistem pertahanan udara Patriot Ukraina, sementara Ukraina membalas dengan menyerang kilang minyak dan gudang logistik di wilayah Rusia.
- Serangan jarak jauh Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan mengganggu logistik e-commerce, menandakan pergeseran strategi perang ke arah sasaran ekonomi.

Serangan rudal dan drone dalam 24 jam terakhir di Ukraina dan Rusia menewaskan sedikitnya sepuluh orang, memperpanjang rentetan kekerasan yang telah menewaskan puluhan warga sipil dalam sepekan terakhir. Di Ukraina, tujuh orang tewas akibat serangan Rusia, sementara tiga lainnya, termasuk dua anak-anak, menjadi korban serangan drone Ukraina di wilayah Krasnodar, Rusia selatan.
Serangan terbaru ini terjadi sehari setelah Rusia menghantam pusat perbelanjaan di Kryvyi Rih, kota asal Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, menewaskan 16 orang dan melukai 130 lainnya. Pemerintah setempat masih mencari empat orang yang dilaporkan hilang. Zelenskyy menyebut serangan itu menggunakan taktik "double-tap", di mana gelombang drone pertama diikuti gelombang kedua yang menyasar tim penyelamat, sebuah pola yang semakin sering digunakan Rusia untuk memaksimalkan korban.
Di Kyiv, rudal balistik Rusia menghantam infrastruktur kereta api, menewaskan satu orang dan melukai lainnya, menurut keterangan Zelenskyy. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghantam depot lokomotif. Sementara itu, di wilayah Zaporizhzhia, serangan drone dan rudal menewaskan empat orang dan melukai belasan lainnya. Wilayah ini telah menjadi salah satu titik paling berdarah dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Serangan Rusia yang semakin intensif ke ibu kota Ukraina memanfaatkan kelangkaan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat, satu-satunya senjata yang mampu menembak jatuh rudal balistik. Menurut data PBB, Kyiv menjadi salah satu kota paling terdampak pada Juli lalu, dengan sedikitnya 54 warga sipil tewas dan 202 luka-luka. Pola serangan Rusia yang terus berulang menunjukkan bahwa Moskow tidak menunjukkan tanda-tanda melunak, bahkan cenderung meningkatkan agresi di tengah kebuntuan diplomatik.
Di sisi lain, Ukraina semakin agresif membawa perang ke wilayah Rusia melalui serangan drone jarak jauh yang menyasar fasilitas minyak. Serangan ini telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia dan mengganggu operasional logistik perusahaan e-commerce besar seperti Wildberries dan Ozon. Pada Sabtu, Ukraina mengklaim berhasil membakar kilang minyak Novokuibyshevsk di Samara, yang terletak sekitar 1.000 kilometer dari garis depan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Ukraina untuk melemahkan ekonomi Rusia dan menekan moral publiknya.
Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam pernyataan yang disiarkan melalui Telegram, mengakui bahwa serangan ke sasaran sipil "menyebabkan kerusakan ekonomi" dan "menimbulkan kerugian", namun ia menegaskan bahwa konflik belum mencapai titik balik dan Kyiv "tidak akan pernah mendapatkan keuntungan". Pernyataan ini menunjukkan bahwa Moskow tetap pada pendiriannya, meskipun tekanan ekonomi mulai terasa.
Bagi Indonesia, eskalasi perang ini memiliki implikasi tidak langsung, terutama terhadap harga energi dan stabilitas pasokan pangan global. Rusia dan Ukraina adalah eksportir utama gandum dan minyak, dan gangguan di kedua negara tersebut dapat memicu lonjakan harga komoditas yang berimbas pada inflasi di dalam negeri. Selain itu, ketegangan yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko fragmentasi geopolitik yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia yang non-blok.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serangan balasan Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia akan mampu mengubah kalkulasi Moskow, atau justru memicu eskalasi lebih lanjut yang menyeret lebih banyak korban sipil. Dengan musim dingin yang akan segera tiba, tekanan terhadap pasokan energi Eropa dan Ukraina akan semakin besar, dan dunia akan menyaksikan apakah diplomasi dapat menemukan celah di tengah baku tembak yang tak kunjung reda.



