Debut Tonali di Tottenham Berujung Petaka: Rekor 115 Juta Euro Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Gelandang termahal Italia, Sandro Tonali, menuai ejekan publik usai performa buruk di laga perdananya bersama Tottenham.
- Kekalahan 0-3 dari Brentford memicu kritik tajam, dengan BBC Sport memberi rating 4/10 untuk mantan bintang Newcastle tersebut.
- Nilai transfer 115 juta euro yang ditebus Tottenham kini diragukan, terutama karena Tonali dinilai gagal tampil tanpa Bruno Guimaraes.

Laga perdana Sandro Tonali bersama Tottenham Hotspur di Premier League berakhir dengan mimpi buruk. Gelandang asal Italia itu menjadi sasaran ejekan suporter tuan rumah saat timnya tumbang 0-3 dari Brentford di Gtech Stadium, Sabtu (15/8/2026). Kekalahan ini sekaligus menjadi awal yang pahit bagi manajer anyar Roberto De Zerbi di kompetisi tertinggi Inggris.
Tonali, yang diboyong dari Newcastle United dengan nilai transfer mencapai 115 juta euro pada bursa musim panas ini, gagal menunjukkan kualitas yang diharapkan. Ia bahkan mendapat sorotan tajam setelah beberapa aksinya berakhir dengan kegagalan. BBC Sport, dalam laporannya, memberi rating 4/10 untuk penampilan Tonali dan menyebutnya sebagai 'debut yang sangat buruk'.
Sepanjang pertandingan, sorak-sorai sinis terdengar setiap kali Tonali menguasai bola. Salah satu momen paling memalukan terjadi ketika ia melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti yang justru melambung jauh ke arah pojok lapangan, bukan ke gawang. Suporter Brentford pun ramai-ramai mencemooh, bahkan beberapa kali melontarkan ejekan keras saat Tonali kehilangan bola di area pertahanan lawan.
Kritik tidak hanya datang dari tribun. Di media sosial, tagar yang menyoroti performa Tonali langsung ramai. Sejumlah akun penggemar Newcastle ikut angkat bicara, mengaitkan penampilan buruk Tonali dengan kepergian Bruno Guimaraes dari tim. Mereka menilai Tonali tidak bisa tampil maksimal tanpa kehadiran rekan setimnya yang dulu menjadi partner duet di lini tengah.
โPenampilan hari ini adalah gambaran nyata bagaimana dia bermain tanpa Bruno. Mereka pikir merekrut pemain yang bisa mengatur permainan, tapi kenyataannya dia tidak bisa,โ tulis salah satu akun penggemar Newcastle. Cuitan lain bahkan menyindir, โTidak ada pengembalian dana, Spurs.โ
Bagi pengamat sepak bola Italia, performa Tonali ini menjadi ironi tersendiri. Sebelumnya, ia dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik generasinya, terutama setelah tampil impresif bersama AC Milan dan Newcastle. Namun, tekanan sebagai pemain termahal tampaknya menjadi beban berat. Apalagi, De Zerbi, pelatih yang dikenal dengan gaya bermain menyerang, tentu berharap banyak dari Tonali sebagai pengatur ritme permainan.
Kekalahan ini juga menjadi sinyal buruk bagi Tottenham yang musim lalu finis di papan tengah. Dengan investasi besar yang dikeluarkan, ekspektasi publik terhadap Tonali dan De Zerbi sangat tinggi. Jika performa ini berlanjut, bukan tidak mungkin kritik akan semakin tajam, bahkan berujung pada pertanyaan tentang masa depan keduanya di klub.
Di sisi lain, bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Tonali ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana tekanan finansial bisa memengaruhi performa pemain. Di Liga Indonesia, fenomena pemain mahal yang gagal memenuhi ekspektasi juga kerap terjadi, seperti yang dialami beberapa klub saat mendatangkan bintang asing dengan biaya besar. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari besarnya nilai transfer, melainkan bagaimana pemain beradaptasi dengan lingkungan dan sistem permainan baru.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Tonali mampu bangkit dan membuktikan nilai transfernya? Atau akankah ia menjadi contoh lain dari pemborosan terbesar dalam sejarah Premier League? Musim masih panjang, dan De Zerbi tentu akan memberikan kesempatan kedua. Namun, tekanan di laga-laga berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mantan pemain Brescia tersebut.



