Pangeran Harry Lobi Menteri Dalam Negeri Inggris demi Keamanan Keluarga saat Bersiap Kembali ke London
Baca dalam 60 detik
- Harry dikabarkan menghubungi langsung Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood untuk meminta kejelasan perlindungan polisi bagi keluarganya yang berencana menetap di Inggris.
- Penilaian risiko oleh Ravec telah selesai pada akhir Juli, namun hasilnya belum disampaikan; keputusan Sussex untuk tinggal permanen mengubah dasar penilaian tersebut.
- Kepindahan ini membalik pernyataan Harry sebelumnya yang menolak membawa keluarga kembali ke Inggris sebelum jaminan keamanan jelas.

Langkah Pangeran Harry untuk kembali menetap di Inggris ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Di tengah persiapan kepulangan, Duke of Sussex dilaporkan secara pribadi menghubungi Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, untuk mendesak kejelasan mengenai pengawalan polisi bagi dirinya, Meghan Markle, serta kedua anak mereka. Langkah ini diambil setelah penilaian risiko resmi oleh komite keamanan kerajaan selesai dilakukan, namun hasilnya belum juga disampaikan kepada Harry.
Menurut laporan Daily Telegraph, Harry yang kini berusia 41 tahun telah menghubungi langsung Mahmood karena khawatir dengan tingkat perlindungan yang akan diterima keluarganya. Penilaian risiko yang dilakukan oleh Royal and VIP Executive Committee (Ravec) pada akhir Juli itu diselesaikan sebelum Harry mengonfirmasi rencana keluarganya untuk pindah permanen ke Inggris. Padahal, perubahan status dari sekadar berkunjung menjadi menetap dianggap mengubah fundamental penilaian keamanan.
Keputusan Sussex untuk tinggal tetap di Inggris, bukan sekadar kunjungan sesekali, disebut oleh sumber pemerintah sebagai faktor yang "mengubah sifat" penilaian keamanan. Sebelumnya, Ravec mendasarkan rekomendasi pada fakta bahwa Harry dan Meghan tinggal di luar negeri. Kini, dengan rencana menetap, sudah barang tentu diperlukan evaluasi ulang yang menyeluruh. Namun, Kementerian Dalam Negeri Inggris dengan tegas menolak membuka detail pengaturan keamanan individu, dengan alasan hal itu dapat membahayakan efektivitas pengamanan itu sendiri.
Kepulangan ini terjadi enam tahun setelah Harry dan Meghan memutuskan mundur dari tugas kerajaan dan pindah ke Amerika Utara pada 2020. Mereka dijadwalkan menempati kediaman pribadi di luar London, sementara Archie dan Lilibet telah didaftarkan di sekolah Inggris dan akan mulai bersekolah pada September mendatang. Meski kembali ke Inggris, pasangan ini tidak akan mengambil peran sebagai working royals, dan mereka tetap mempertahankan rumah di California dan Portugal.
Isu keamanan memang menjadi duri dalam daging bagi Harry sejak ia melepas statusnya sebagai anggota kerajaan yang bekerja. Hak otomatis atas pengawalan polisi yang didanai pembayar pajak dicabut, dan upaya hukum yang ia ajukan pun kandas pada Mei 2025. Kala itu, Harry sempat menyatakan kepada BBC bahwa ia tidak bisa membayangkan membawa istri dan anak-anaknya kembali ke Inggris. Kini, keadaan berubah drastis, dan ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa keamanan tidak lagi otomatis.
Di tengah ketidakpastian ini, hubungan Harry dengan keluarga kerajaan juga masih memanas. Pada Juli lalu, Harry, Meghan, dan anak-anak sempat bertemu Raja Charles dan Ratu Camilla di Highgrove, namun rencana kepindahan tidak dibahas saat pertemuan itu. Charles baru diberi tahu beberapa hari sebelum kabar tersebut bocor ke publik. Sementara itu, hubungan dengan Pangeran William tetap renggang, dan menjadi salah satu tema utama dalam memoar Harry, Spare, yang terbit pada 2023.
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, enggan berkomentar banyak. Ia hanya menyebut ini urusan pribadi Harry dan Meghan, serta mendoakan yang terbaik untuk langkah mereka. Sikap senada ditunjukkan Kementerian Dalam Negeri yang menegaskan bahwa sistem keamanan protektif pemerintah Inggris bersifat ketat dan proporsional, namun detailnya tidak akan diungkap ke publik demi menjaga integritas dan keamanan individu.
Bagi publik Indonesia, kisah ini menarik untuk disimak karena menyoroti bagaimana sebuah keputusan pribadi bisa berbenturan dengan protokol keamanan negara. Di tengah era di mana privasi dan keamanan menjadi komoditas yang mahal, kasus Harry menjadi pengingat bahwa status sosial tidak selalu menjamin kemudahan. Pertanyaannya, akankah Ravec mengabulkan permintaan Harry? Atau justru kepindahan ini akan memicu babak baru perseteruan dengan institusi kerajaan?



