Gempa NTT: 150 Ribu Jiwa Mengungsi, BNPB Kewalahan Hadapi Ribuan Gempa Susulan
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pengungsi akibat gempa NTT menembus 150.576 jiwa, bertambah 20 ribu dalam sehari.
- Lebih dari 5.000 gempa susulan tercatat hingga 22 Agustus, memicu kekhawatiran akan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
- BNPB mengerahkan ribuan personel dan relawan, namun kebutuhan dasar warga terdampak masih menjadi tantangan utama.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menembus angka 150.576 jiwa per Sabtu (22/8/2026). Lonjakan signifikan ini terjadi hanya dalam hitungan hari, seiring masih berlangsungnya gempa-gempa susulan yang memaksa warga bertahan di lokasi pengungsian.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa angka pengungsi terus bertambah dari sebelumnya sekitar 130 ribu jiwa. "Pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130-an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa," ujarnya dalam konferensi pers daring, Sabtu. Kondisi ini menggambarkan betapa masifnya dampak bencana yang belum mereda, dengan ribuan warga masih mengungsi di berbagai titik.
Data BNPB menunjukkan hingga 22 Agustus 2026, telah terjadi 5.012 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,1 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, 124 gempa terasa kuat dan sempat memicu kepanikan warga. Intensitas gempa susulan yang tinggi ini menjadi faktor utama yang menghambat proses evakuasi dan pemulihan, sekaligus meningkatkan risiko trauma psikologis bagi para pengungsi.
Distribusi pengungsi terkonsentrasi di sejumlah kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah pengungsi tertinggi dengan 41.427 orang, disusul Nagekeo (34.256 orang), dan Manggarai Timur (31.372 orang). Sementara itu, korban jiwa dilaporkan mencapai 90 orang, dengan rincian: Manggarai 31 orang, Manggarai Timur 30 orang, Nagekeo 13 orang, Sikka 9 orang, Ngada 4 orang, Ende 2 orang, dan Manggarai Barat 1 orang. Selain itu, 1.298 orang mengalami luka-luka, 336 di antaranya dalam kondisi luka berat dan membutuhkan perawatan intensif.
Respons penanganan bencana melibatkan kolaborasi lintas sektor. Sebanyak 5.832 personel TNI, 238 personel Polri, dan 903 relawan dari 104 lembaga telah dikerahkan untuk membantu evakuasi dan distribusi bantuan. Pemerintah pusat dan daerah juga telah mengirimkan logistik, termasuk 777 ton bantuan melalui jalur udara. Namun, dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan dipastikan menjadi prioritas utama.
Berton menegaskan komitmen pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. "Kolaborasi ini menjadi wujud nyata gotong royong dalam memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak bencana dapat terpenuhi. Kami memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas," katanya. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah, namun juga menyiratkan tantangan logistik yang besar di tengah kondisi geografis NTT yang sulit.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi ujian nyata bagi kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi gempa bumi besar. NTT terletak di kawasan cincin api Pasifik yang rawan gempa, dan kejadian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan infrastruktur tahan gempa serta sistem peringatan dini yang lebih efektif. Selain itu, dampak ekonomi dan sosial jangka panjang perlu diantisipasi, mengingat banyak warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat mampu mempercepat pemulihan pascabencana, terutama dalam membangun kembali hunian dan memulihkan roda ekonomi lokal. Akankah tragedi ini menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan bencana nasional, atau justru terulang kembali dengan dampak yang lebih parah? Jawabannya membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak.



