Revitalisasi Sekolah di Bojonegoro: Menko PMK Tegaskan Infrastruktur Pendidikan Kunci Pemerataan SDM
Baca dalam 60 detik
- Menko PMK Pratikno meresmikan gedung baru SMPN 1 Padangan, bagian dari program revitalisasi tiga sekolah di Bojonegoro untuk pemerataan pendidikan.
- Program ini menyasar perbaikan infrastruktur fisik sekaligus penguatan kapasitas digital, sejalan dengan target pemerintah menyelesaikan revitalisasi satuan pendidikan pada 2029.
- Pratikno mengingatkan pentingnya kolaborasi orang tua dan sekolah dalam mengelola dampak media sosial, termasuk fenomena FOMO, di tengah percepatan digitalisasi pendidikan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meresmikan gedung baru SMPN 1 Padangan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (22/8/2026). Peresmian ini menjadi penanda komitmen pemerintah dalam merevitalisasi sekolah-sekolah di daerah, sebuah langkah strategis untuk mewujudkan pemerataan pendidikan nasional yang selama ini masih timpang antara Jawa dan luar Jawa.
Dalam sambutannya, Pratikno menegaskan bahwa revitalisasi sekolah bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan bagian dari program prioritas Presiden untuk membangun kualitas manusia Indonesia. "Program presiden salah satunya revitalisasi sekolah, artinya infrastrukturnya baik, seperti SMPN 1 Padangan yang selesai dibangun dan diresmikan sekarang ini," ujarnya. Ia menambahkan, perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing bangsa di tengah persaingan global.
Di Bojonegoro, setidaknya ada tiga sekolah yang menjadi sasaran revitalisasi: SMPN 1 Padangan, SMKN Ngambon, dan SMAN 2 Bojonegoro. Ketiganya diharapkan menjadi contoh bagaimana perbaikan infrastruktur pendidikan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Namun, Pratikno juga mengingatkan bahwa pembangunan manusia tidak berhenti pada fisik sekolah. Ia menyoroti pentingnya kesehatan SDM secara holistik, mencakup fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Lebih jauh, Menko PMK menyoroti tantangan baru yang dihadapi generasi muda: paparan media sosial yang masif. Anak-anak kini dengan mudah mengakses berbagai gambaran kehidupan, yang dapat memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). "Kemampuan anak dalam menyaring informasi dan memahami dampak dari hal yang mereka lihat di media sosial belum tentu berkembang secara optimal," kata Pratikno. Ia menekankan bahwa orang tua dan sekolah harus bahu-membahu mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital, dan telepon seluler jangan sampai menjadi pengganti peran pengasuh.
Sebagai respons atas tantangan digital, pemerintah mempercepat digitalisasi pendidikan melalui penyediaan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) di sekolah-sekolah. Teknologi ini diharapkan dapat membantu guru menyajikan pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. "Perangkat tersebut untuk mempercepat kualitas pembelajaran dengan bantuan teknologi, guru bisa semakin mudah mengajari anak didiknya dengan cara lebih menarik," jelas Pratikno. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk menyelesaikan revitalisasi satuan pendidikan hingga 2029, termasuk menjangkau pulau-pulau terluar yang selama ini terabaikan.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya orang tua dan pendidik, langkah revitalisasi ini membawa angin segar. Namun, keberhasilan program tidak hanya diukur dari gedung baru atau perangkat canggih. Pertanyaannya, bagaimana memastikan guru-guru di daerah mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara optimal? Dan, akankah pemerataan pendidikan ini benar-benar mengubah kualitas lulusan, atau hanya sekadar mempercantik wajah sekolah?
Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa revitalisasi fisik berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas guru dan kurikulum yang adaptif. Tanpa itu, investasi miliaran rupiah hanya akan menjadi proyek mercusuar yang tidak berdampak signifikan pada kualitas SDM Indonesia. Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, ketika para siswa yang belajar di sekolah-sekolah baru ini mulai memasuki dunia kerja dan perguruan tinggi.



