Messi Kena Denda Usai Tampar Lawan di MLS: Emosi di Tengah Duka Sang Ayah
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi dijatuhi sanksi finansial oleh MLS setelah insiden tamparan kepada Quinn Sullivan dalam laga imbang 2-2 melawan Philadelphia Union.
- Insiden ini terjadi di tengah masa berkabung Messi atas wafatnya sang ayah, Jorge Messi, yang juga berperan sebagai agennya.
- Liga juga menghukum pemain Miami lainnya, Ian Fray, sementara kartu merah Cavan Sullivan dianulir setelah tinjauan ulang.

Lionel Messi kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena gol atau aksi magisnya, melainkan karena insiden tidak sportif yang berujung pada sanksi finansial dari Major League Soccer (MLS). Megabintang Inter Miami itu terbukti menampar pemain Philadelphia Union, Quinn Sullivan, saat laga sengit yang berakhir imbang 2-2 di Subaru Park, Rabu (12/3) waktu setempat. Momen emosional tersebut terjadi di pengujung pertandingan, ketika Messi merasa dirinya dilanggar oleh Sullivan setelah melepaskan bola.
Menurut laporan resmi MLS, Messi yang kini berusia 39 tahun melakukan tamparan ke bagian belakang kepala Sullivan sebagai reaksi atas dugaan sikut yang diterimanya. Sullivan yang jelas terprovokasi langsung merespons dengan kemarahan, namun wasit sigap memisahkan keduanya sebelum situasi semakin memanas. Meski demikian, liga tidak merinci besaran denda yang dijatuhkan kepada kapten timnas Argentina tersebut, sebuah keputusan yang lazim dalam kasus pelanggaran ringan di kompetisi Amerika Serikat.
Insiden ini menambah daftar panjang tensi tinggi dalam laga yang berlangsung sengit sejak menit awal. Tidak hanya Messi, rekan setimnya di Inter Miami, Ian Fray, juga menerima hukuman serupa setelah tertangkap kamera mencengkeram leher Sullivan saat kedua pemain terlibat kontak fisik di area kotak penalti. Kejadian bermula ketika Sullivan kehilangan keseimbangan dan saling jegal dengan Fray, memicu aksi balasan yang berujung pada sanksi.
Pertandingan yang berjalan panas itu bahkan harus diakhiri dengan dua kartu merah pada masa injury time. Yannick Bright dari Miami dan Cavan Sullivan, adik dari Quinn, sama-sama diusir wasit setelah terlibat adu mulut dan dorong-mendorong. Namun, setelah dilakukan tinjauan ulang melalui video assistant referee (VAR), larangan bermain satu pertandingan untuk Cavan Sullivan resmi dicabut, sebuah keputusan yang meredakan kekecewaan kubu Philadelphia.
Di balik hiruk-pikuk sanksi, ada nuansa personal yang menyelimuti performa Messi. Gol yang dicetaknya ke gawang Philadelphia merupakan yang pertama sejak ayahnya, Jorge Messi, meninggal dunia pada usia 68 tahun setelah berjuang melawan penyakit berkepanjangan. Sang ayah bukan sekadar orang tua, melainkan juga agen yang setia mendampingi karier Messi sejak awal. Dalam unggahan penghormatan terakhirnya, Messi sempat melontarkan pernyataan yang menggantung, bahwa ia mungkin tidak akan lama lagi bermain sepak bolaโsebuah sinyal yang langsung memicu spekulasi soal masa depannya di dunia sepak bola.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kabar ini tentu menarik perhatian, mengingat Messi adalah salah satu ikon global yang paling banyak dikagumi. Meski kompetisi MLS tidak setenar liga Eropa, kehadiran Messi telah meningkatkan popularitas sepak bola Amerika di kancah internasional, termasuk di Asia Tenggara. Sanksi ini juga menjadi pengingat bahwa bahkan pemain terbaik pun tidak kebal terhadap aturan dan emosi di lapangan.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah apakah Messi akan mampu menjaga fokusnya di tengah duka dan tekanan, serta bagaimana Inter Miami akan bersaing di puncak klasemen. Dengan selisih tujuh poin dari Nashville, setiap poin sangat berharga. Akankah insiden ini menjadi titik balik bagi Messi untuk membuktikan profesionalismenya, atau justru menjadi awal dari akhir karier yang gemilang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: mata dunia tetap tertuju pada langkah berikutnya dari sang maestro.



