Apollo Global Kena Retas: Data Pribadi Karyawan dan Klien Bocor, Begini Modusnya
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan investasi raksasa Apollo Global Management mengonfirmasi akses ilegal ke platform cloud-nya pada awal Juli lalu.
- Serangan siber yang memanfaatkan rekayasa sosial via telepon ini menimpa puluhan institusi keuangan AS, termasuk Uber dan Levi Strauss.
- Investigasi masih berjalan, namun Apollo telah menyediakan layanan perlindungan identitas bagi para korban yang datanya terekspos.

Manajer aset global Apollo Global Management mengonfirmasi telah terjadi kebocoran data pribadi pada platform cloud-nya, menyusul serangan siber yang menargetkan puluhan perusahaan keuangan besar di Amerika Serikat. Dalam surat resmi yang dirilis Jumat lalu, perusahaan yang bermarkas di New York itu mengakui peretas berhasil mengakses sejumlah data sensitif antara 6 hingga 10 Juli 2024.
Insiden ini menjadi bagian dari gelombang serangan yang lebih luas, di mana para peretas menggunakan taktik rekayasa sosial melalui panggilan telepon untuk mengelabui karyawan. Menurut laporan Reuters, puluhan institusi keuangan dan perusahaan terkemuka lainnya menjadi sasaran, termasuk Uber Freight dan Levi Strauss yang juga tengah menyelidiki akses tidak sah ke sistem mereka.
Data yang berpotensi terekspos mencakup nama lengkap, tanggal lahir, informasi kontak, alamat rumah, hingga nomor jaminan sosial. Apollo menyatakan telah melibatkan aparat penegak hukum serta tim ahli keamanan siber dan forensik eksternal untuk menyelidiki insiden ini. Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa data yang dicuri telah disalahgunakan untuk pencurian identitas atau penipuan, meski investigasi masih berjalan.
Menariknya, serangan ini justru memanfaatkan metode yang tergolong sederhanaโpanggilan teleponโdi tengah maraknya ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI). Para ahli menilai taktik low-tech semacam ini masih sangat efektif karena mengeksploitasi faktor manusia, bukan celah teknis. Ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesadaran dan pelatihan karyawan.
Bagi Indonesia, insiden ini relevan mengingat sektor keuangan domestik juga tengah gencar melakukan transformasi digital. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan nasional telah berulang kali mengingatkan soal risiko serangan siber, terutama yang menyasar data nasabah. Kasus Apollo menunjukkan bahwa bahkan perusahaan sekelas raksasa investasi global pun bisa menjadi korban, sehingga kewaspadaan dan investasi pada keamanan siber menjadi keniscayaan.
Apollo sendiri telah menawarkan layanan perlindungan identitas dan pemantauan kredit gratis bagi individu yang datanya terdampak, seperti diungkapkan Matthew Breitfelder, Head of Human Capital Apollo. Langkah ini menjadi standar industri dalam merespons insiden serupa, namun pertanyaan besarnya adalah: apakah perusahaan-perusahaan lain, termasuk di Indonesia, sudah memiliki protokol yang setara? Di tengah meningkatnya serangan siber yang makin canggih, kolaborasi antara regulator, industri, dan aparat penegak hukum menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa.



