Gemuruh 70 Ribu Suporter di SUGBK Antar Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu.
- Dukungan lebih dari 70 ribu penonton di SUGBK dinilai menjadi faktor krusial yang membangkitkan semangat pemain.
- Gelar ini mengakhiri puasa trofi senior selama 35 tahun, terakhir kali diraih pada SEA Games 1991.

Timnas Indonesia memastikan diri sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menundukkan Thailand lewat drama adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Laga yang berlangsung hingga babak tambahan waktu itu berakhir imbang 2-2, sebelum skuad asuhan John Herdman menunjukkan ketenangan dari titik putih.
Kemenangan ini bukan sekadar trofi biasa. Ini adalah gelar pertama Timnas Indonesia di level senior sejak SEA Games 1991โsebuah penantian yang berlangsung 35 tahun. Menariknya, pada final 1991 silam, Indonesia juga mengalahkan Thailand dengan skor 4-3, juga melalui adu penalti. Sejarah seolah mengulang dengan cara yang nyaris identik.
Lebih dari 70 ribu suporter memadati SUGBK, menciptakan atmosfer yang oleh banyak pihak disebut sebagai faktor pembeda. Direktur Akademi Persis Solo, Rasiman, menilai dukungan masif tersebut memberikan dorongan psikologis yang signifikan bagi para pemain. "Atmosfer di GBK sangat membantu motivasi pemain. Terbukti saat tertinggal 2-1 di perpanjangan waktu, mereka masih mampu menyamakan kedudukan," ujarnya kepada Bola.com, Selasa (6/10/2026).
Rasiman juga menyoroti aspek teknis dan fisik. Menurutnya, Thailand tetap lawan yang tangguh secara teknis, tetapi kondisi fisik mereka menurun drastis menjelang adu penalti. "Pemain Thailand terlihat sangat kelelahan. Fokus dan kualitas teknis menurun saat kondisi sudah capek," tambahnya. Kelelahan itu diperparah oleh kartu merah yang diterima bek Nicholas Mickleson, sehingga Thailand harus bermain dengan 10 orang sejak babak kedua.
"Kerja keras pemain dan dukungan penonton yang luar biasa membuat situasi di lapangan menguntungkan kami." โ Rasiman, Direktur Akademi Persis Solo
Dengan keunggulan jumlah pemain, Indonesia mampu mengontrol tempo pertandingan, terutama di fase krusial. Rasiman menilai kombinasi antara kerja keras pemain dan dukungan suporter menjadi kunci utama kesuksesan Tim Garuda. "Salah satu kunci kemenangan adalah bermain melawan 10 orang, sehingga Thailand kelelahan luar biasa. Di fase menentukan, kita terlihat lebih fresh dan siap," jelasnya.
Kemenangan ini juga menjadi pembuktian bagi John Herdman yang baru menangani tim. Meski sempat tertinggal, ia mampu membangun mentalitas juara dalam skuad. Keberhasilan ini diharapkan menjadi titik balik bagi sepak bola Indonesia untuk bersaing di level Asia, terutama menjelang turnamen-turnamen besar berikutnya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Apakah gelar ini akan menjadi awal kebangkitan sepak bola Indonesia, atau hanya kilatan sesaat? Publik menanti langkah nyata dari federasi dan tim pelatih untuk membangun fondasi yang lebih kokoh.



