Honda Uji Coba Pengisian Daya Nirkabel di Jalan Tol Jepang, Mulai 2027
Baca dalam 60 detik
- Honda menggandeng Taisei dan Taisei Rotec untuk mengembangkan sistem pengisian daya nirkabel bagi kendaraan listrik yang melaju di jalan.
- Uji coba perdana di jalan tol Jepang dijadwalkan pada tahun fiskal yang dimulai April 2027, dengan target awal sektor logistik dan truk besar.
- Efisiensi biaya dibandingkan fast charging masih belum diungkap, sementara implikasi bagi Indonesia terganjal kesiapan infrastruktur dan regulasi.

Honda Motor Co. resmi mengumumkan pengembangan teknologi pengisian daya listrik nirkabel untuk kendaraan listrik yang bergerak di jalan. Uji coba sistem tersebut direncanakan di jalan tol Jepang pada tahun fiskal yang dimulai April 2027, menandai langkah ambisius menuju era kendaraan yang tidak perlu berhenti untuk mengisi baterai.
Proyek riset ini dijalankan bersama perusahaan konstruksi Taisei dan kontraktor pembuat jalan Taisei Rotec. Sistem bekerja dengan menanam unit pemancar listrik di dalam struktur jalan, lalu mentransfer arus secara nirkabel ke kendaraan yang melintas. Honda menilai pendekatan ini dapat memangkas frekuensi kendaraan berhenti di stasiun pengisian daya, sebuah persoalan yang hingga kini menjadi salah satu penghambat utama adopsi kendaraan listrik, terutama untuk armada niaga.
Meski begitu, Honda belum bersedia membeberkan rincian efisiensi biaya jika dibandingkan dengan jaringan pengisian daya cepat konvensional. Para insinyur perusahaan menyatakan evaluasi kelayakan ekonomi masih memerlukan kajian lebih lanjut. Sinyal kehati-hatian itu wajar: infrastruktur pengisian dinamis menuntut investasi awal besar pada konstruksi jalan, pemeliharaan, dan integrasi dengan jaringan listrik.
Honda menargetkan penerapan awal pada sektor logistik dan transportasi. Perusahaan beralasan, kendaraan niaga dapat mengisi energi selama beroperasi sehingga waktu istirahat untuk pengisian daya bisa ditekan. Bagi operator logistik, efisiensi waktu berarti penghematan biaya operasional dan peningkatan utilitas armada. Namun, tanpa angka pasti soal biaya, klaim tersebut masih perlu dibuktikan di lapangan.
Jika teknologi ini terbukti layak secara komersial, lanskap industri otomotif dan infrastruktur jalan berpotensi berubah signifikan. Jalan tol tidak lagi sekadar jalur transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan energi. Hal ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor: pemerintah, kontraktor jalan, produsen kendaraan, dan perusahaan listrik. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang standar keselamatan, interoperabilitas antar-merek, serta regulasi yang harus disiapkan.
"Kami masih mempelajari kelayakan ekonomi dari teknologi ini. Untuk tahap awal, sektor logistik dinilai paling siap memanfaatkan pengisian daya dinamis," ujar perwakilan Honda, seperti dikutip dari situs resmi perusahaan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan gambaran tentang arah masa depan mobilitas listrik. Pemerintah tengah mendorong percepatan kendaraan listrik melalui insentif dan pembangunan stasiun pengisian daya. Namun, adopsi pengisian nirkabel di jalan raya masih menghadapi tantangan besar: kesiapan infrastruktur jalan tol, biaya investasi, dan regulasi yang belum ada. Meski demikian, wacana ini bisa menjadi bahan pertimbangan jangka panjang, terutama untuk koridor logistik padat seperti Jawa bagian utara.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal kecepatan Honda merealisasikan uji coba, tetapi juga apakah model bisnis pengisian daya dinamis mampu bersaing dengan pengisian cepat yang terus berkembang. Jika berhasil, jalan raya bisa berubah menjadi jaringan pengisian raksasa yang mengubah cara kita memandang energi dan transportasi.



