Cedera ACL, Maddison Terpuruk, Lalu Kelahiran Anak Kembar Menjadi Penyelamat: Kisah Gelandang Tottenham yang Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Tottenham James Maddison mengaku musim 2025-26 menjadi periode paling sulit dalam kariernya setelah cedera ACL memaksanya absen 375 hari.
- Di tengah pemulihan, Maddison dan pasangannya menyambut kelahiran anak kembar kedua, yang menjadi pelarian positif di tengah tekanan fisik dan mental.
- Kepercayaan pelatih anyar Roberto De Zerbi yang memulihkan rasa percaya diri Maddison menjadi kunci kebangkitannya menjelang musim 2026-27.

James Maddison, gelandang Tottenham Hotspur, mengungkapkan bahwa kelahiran anak kembar keduanya di tengah masa pemulihan cedera lutut yang parah menjadi penyelamat hidupnya. Pemain berusia 29 tahun itu harus menepi selama 375 hari akibat robeknya ligamen anterior cruciate (ACL) pada Agustus 2025, sebuah pukulan telak yang membuatnya absen hampir sepanjang musim 2025-26. Namun, di balik rasa sakit dan frustrasi, hadir sebuah berkah yang tak terduga: kehadiran dua bayi baru yang memaksanya untuk tetap tegar.
Dalam wawancara eksklusif dengan Kelly Somers untuk program The Football Interview yang tayang di BBC One, Maddison menggambarkan tahun tersebut sebagai "tahun terberat dalam hidupnya". Ia dan pasangannya harus mengurus lima anak berusia di bawah empat tahun, termasuk dua pasang kembar, sementara ia berjuang memulihkan kondisi fisiknya. "Kami benar-benar di parit," ujarnya, menggambarkan kekacauan rumah tangga yang penuh popok dan kecelakaan kecil, namun justru menjadi pengalih perhatian yang ia butuhkan.
Maddison mengakui bahwa kehamilan pasangannya menjadi fokus positif yang menyelamatkannya dari keterpurukan mental. "Saya butuh distraksi positif itu, harus ada untuknya dan melupakan diri sendiri, meski saya sedang mengalami trauma melalui lutut saya," tuturnya. Anak-anaknya, terutama putra sulungnya, Leo, menjadi saksi bisu perjuangannya. Leo bahkan sempat mengira ayahnya telah meninggalkan Tottenham karena terlalu lama tidak melihatnya bermain. "Saya melewatkan satu tahun sepak bola, dan satu tahun dalam kehidupan anakโdari usia tiga setengah hingga empat setengahโitu jelas sangat besar," kata Maddison, menyadari betapa berharganya momen yang hilang.
Ketidakhadirannya di lapangan juga berdampak pada performa Tottenham yang nyaris terdegradasi. Spurs hanya finis dua poin di atas zona merah, dan Maddison mengaku frustrasi karena tidak bisa membantu tim. "Kami mungkin kesulitan dalam kreativitas, dan saya menonton pertandingan sambil berpikir, 'apa yang akan saya lakukan di sana?'," kenangnya. Namun, kehadiran pelatih anyar Roberto De Zerbi pada Maret lalu menjadi titik balik. Maddison memuji pendekatan De Zerbi yang sederhana namun efektif: mengembalikan kecintaan bermain sepak bola sebelum hal-hal taktis yang rumit.
Salah satu langkah pertama De Zerbi adalah mengadakan makan malam tim dengan alkohol, sebuah cara untuk merekatkan hubungan para pemain. "Dia ingin kami bersantai, dan perasaan itu membuat semua orang merasa lebih terikat," jelas Maddison. De Zerbi juga dengan cerdik memasukkan Maddison ke bangku cadangan meski belum pulih total, sebagai bentuk dukungan moral. "Dia bilang saya bisa duduk di bangku cadangan dengan sandal jika saya mau. Dia hanya ingin saya berada di sekitar tim," ungkap Maddison, yang menganggapnya sebagai pujian besar.
Kisah Maddison menyoroti beban mental yang dihadapi atlet profesional saat cedera panjang, sebuah isu yang juga relevan di Indonesia. Banyak pesepak bola Tanah Air yang mengalami cedera serupa, seperti ACL, dan harus menjalani rehabilitasi berbulan-bulan tanpa kepastian karier. Dukungan keluarga, seperti yang dialami Maddison, menjadi faktor krusial dalam pemulihan. Psikolog olahraga Indonesia pun menekankan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan aspek mental dan sosial, bukan hanya fisik, agar pemain bisa kembali ke performa terbaiknya.
Kini, setelah melewati masa sulit, Maddison menatap musim 2026-27 dengan optimisme. Ia mengaku bekerja keras untuk mencapai kebugaran penuh dan berharap bisa menikmati sepak bola tanpa cedera. "Jika saya fit dan sehat, saya tahu apa yang mampu saya lakukan. Saya bisa memengaruhi pertandingan lebih dari banyak pemain di liga ini," tegasnya. Pertanyaannya, akankah Maddison mampu kembali ke level terbaiknya dan membawa Tottenham bersaing di papan atas? Atau akankah cedera tersebut meninggalkan bekas yang sulit hilang? Musim depan akan menjadi jawabannya.



