Voynich Manuscript: Peneliti Ungkap Kesalahan Penjilidan yang Mengubah Pemahaman
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menyatakan bahwa urutan halaman manuskrip Voynich selama ini salah karena kesalahan penjilidan pada abad ke-15.
- Temuan ini menggeser teori 'jenius tunggal' menjadi kemungkinan karya komunitas yang mewariskan pengetahuan secara turun-temurun.
- Jika hipotesis ini benar, pendekatan baru terhadap teks 'Voynichese' dapat membuka jalan dekripsi setelah berabad-abad kebuntuan.

Selama ratusan tahun, manuskrip Voynich—kodeks abad pertengahan yang dipenuhi ilustrasi botani, diagram astronomi, dan aksara tak terbaca—telah menjadi teka-teki terbesar bagi para kriptografer dan sejarawan. Kini, sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal Digital Medievalist menawarkan penjelasan mengapa konsensus ilmiah tentang maknanya begitu sulit tercapai: bukan semata karena isinya yang misterius, tetapi karena halaman-halamannya selama ini dibaca dalam urutan yang salah.
Colin Layfield, dosen senior sistem informasi di University of Malta, bersama Lisa Fagin Davis, pakar tulisan tangan abad pertengahan, berargumen bahwa lembaran-lembaran manuskrip itu semula mungkin ditumpuk sebagai singulion—mirip tumpukan kartu ucapan—namun kemudian dijilid secara nested (bersarang) pada pertengahan hingga akhir abad ke-15. Kesalahan penjilidan ini, menurut mereka, mengacaukan alur bacaan dan menyembunyikan koherensi teks.
Meski temuan ini belum menguraikan arti aksara yang disebut "Voynichese", para penulis menegaskan bahwa implikasinya besar terhadap fungsi manuskrip. "Banyak orang ingin percaya Voynich diciptakan oleh seorang jenius tunggal yang bekerja di loteng di London abad pertengahan," ujar Davis. "Padahal bukti menunjukkan ini objek komunal, mungkin kumpulan buklet yang mewariskan informasi dari generasi ke generasi—gagasan 'jenius tunggal' sudah tertepikan."
Sejak muncul dalam catatan kolektor abad ke-17, manuskrip ini telah memicu spekulasi liar. Ketika dibeli pada 1912 oleh Wilfrid Voynich, seorang revolusioner Polandia dan pedagang buku di Soho Square, London, banyak yang mengira itu adalah buku harian ilmiah Roger Bacon, polymath abad ke-13. Ada pula yang mengaitkannya dengan Leonardo da Vinci. Namun, analisis kimia modern mematahkan klaim tersebut.
Sebagian sarjana sempat menuduh teks itu sekadar omong kosong atau pemalsuan. Namun, analisis linguistik terkini cenderung menunjukkan bahwa itu ditulis dalam bahasa alami yang belum teridentifikasi. Pada 2019, seorang asisten peneliti biologi di University of Bristol mengklaim manuskrip itu menggunakan "proto-Romance kaligrafis", tetapi klaim tersebut dibantah dan universitas menghapus referensinya dari situs web.
Layfield dan Davis menggunakan alat analisis numerik untuk membandingkan blok teks. Mereka menemukan bahwa banyak halaman yang terpisah jauh justru memiliki skor koherensi tinggi, menandakan salah penjilidan. Petunjuk visual juga memperkuat: dalam penjilidan saat ini, ilustrasi aliran sungai atau pipa yang menjorok ke gutter (ruang kosong di tepi dalam) tidak menyambung dengan gambar di halaman seberang. "Ketika diperlakukan sebagai lembaran lepas yang ditumpuk, semua anomali artistik itu tiba-tiba menyatu," kata Layfield.
"Hipotesis kami memperbaiki banyak masalah struktur manuskrip dengan cara yang sangat elegan," ujar Davis.
Davis menambahkan bahwa satu-satunya manuskrip abad pertengahan lain yang ia temukan dalam susunan singulion adalah Al-Qur'an dari Afrika Utara, yang kemungkinan dibagikan sebagai buklet kecil untuk keperluan pengajaran. "Saya menduga kita sedang melihat objek serupa: buatan komunitas yang ingin mewariskan pengetahuannya," ujarnya. Dukungan lain datang dari analisis paleografis yang menunjukkan hingga lima penulis berbeda.
Beberapa gambar dalam manuskrip menyerupai sistem reproduksi wanita, sementara yang lain mengisyaratkan pengetahuan herbal dan astrologi. "Jika semua ini digabungkan, rasanya seperti buku pengetahuan rakyat perempuan yang dilestarikan," kata Davis. "Tapi itu belum bisa dibuktikan."
Mengenai misteri bahasanya, Davis tidak menutup kemungkinan adanya manuskrip lain berbahasa Voynichese. "Masalahnya, sangat sedikit manuskrip abad pertengahan yang bertahan karena tidak dijilid. Ironinya, siapa pun yang salah menjilid manuskrip ini justru berjasa besar karena telah memastikan kelestariannya," pungkasnya.
Dengan temuan ini, para peneliti berharap pendekatan baru terhadap urutan halaman dapat membuka jalan dekripsi. Namun, pertanyaan besar tetap ada: apakah Voynichese benar-benar bahasa alami, atau justru sistem simbol yang diciptakan untuk tujuan tertentu? Jawabannya mungkin tersembunyi di antara lembaran-lembaran yang kini telah tersusun ulang secara hipotetis.



