Yaman Rebut Pelabuhan Mokha dari Houthi, Harga Minyak Bertahan di US$100
Baca dalam 60 detik
- Pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah menguasai kembali Kota Pelabuhan Mokha dari milisi Houthi yang didukung Iran.
- Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menyepakati langkah pencegahan bersama serta pengerahan pasukan untuk menghadapi eskalasi Houthi.
- Pasar energi masih gelisah; Brent bertahan di kisaran US$100 per barel karena risiko gangguan pasokan di Timur Tengah belum mereda.

Pasukan pemerintah Yaman, Senin (5/10/2026), mengumumkan keberhasilan merebut kembali Kota Pelabuhan Mokha di Laut Merah dari cengkeraman milisi Houthi yang didukung Iran. Klaim ini menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun dan berpotensi mengubah peta kekuatan di jalur pelayaran strategis Selat Bab el-Mandeb.
Menurut pernyataan yang dikutip CNBC, operasi kilat tersebut dilakukan setelah pertempuran sengit melawan apa yang disebut sebagai "milisi teroris Houthi yang didukung Iran". Pemerintah Yaman yang berbasis di Aden juga mengklaim telah menguasai sejumlah titik penting di sepanjang pantai sekitar Bab el-Mandeb. Selain itu, mereka meluncurkan "serangan strategis" menuju Sanaa, ibu kota yang dikuasai Houthi sejak 2014. Namun, CNBC belum dapat memverifikasi klaim ini secara independen, dan pihak Houthi dilaporkan membantah bahwa Mokha telah jatuh.
Mokha, yang terletak sekitar 75 kilometer di utara Bab el-Mandeb, secara historis dikenal sebagai pusat ekspor kopi utama kawasan dan menjadi asal istilah "mocha". Penguasaan kembali kota ini menjadi pukulan telak bagi Houthi, yang baru merebutnya pada awal September 2026. Saat itu, perebutan Mokha oleh Houthi dianggap sebagai pukulan berat bagi Arab Saudi karena meningkatkan kemungkinan kelompok tersebut mengendalikan Bab el-Mandeb, salah satu jalur minyak paling vital di dunia.
Ketegangan kian memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur minyak strategis lain di sisi lain Semenanjung Arab. Penutupan itu telah mengguncang pasar energi global dan memicu gelombang kejutan di perekonomian dunia. Dalam perkembangan terbaru, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Senin sepakat mengaktifkan "langkah-langkah pencegahan" dan mengerahkan pasukan dengan cepat untuk mendukung kerajaan kaya minyak tersebut melawan serangan Houthi. Kesepakatan itu dicapai setelah pertemuan darurat para menteri pertahanan di Riyadh, yang menegaskan komitmen kolektif terhadap pertahanan bersama.
Serangan terhadap dua bandara di Arab Saudi menambah kekhawatiran. Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi (GACA) menyatakan bahwa bandara di Jazan dan Najran menjadi target pada Senin malam. GACA tengah berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memastikan keamanan fasilitas dan sistem penerbangan sipil kerajaan. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Houthi.
Pasar energi masih diliputi kecemasan. Pada Selasa pagi, harga minyak sedikit melemah karena pelaku pasar terus mencermati konflik yang meluas di Timur Tengah—yang dimulai dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. "Meskipun ada tanda-tanda pemulihan aliran minyak dari Teluk Persia, pasar tetap gelisah terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan. Ini yang menahan harga tetap tinggi untuk saat ini," ujar strategis energi ING dalam catatan riset yang diterbitkan Selasa. "Kegelisahan ini kemungkinan akan berlanjut hingga ada tanda-tanda kemajuan dalam kesepakatan antara AS dan Iran. Sementara itu, risiko eskalasi lebih lanjut masih sangat nyata," tambah mereka.
Bagi Indonesia, gejolak di Laut Merah dan potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi perhatian serius. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak berantai terhadap inflasi, terutama melalui harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif angkutan. Selain itu, jalur pelayaran Bab el-Mandeb adalah rute penting bagi ekspor-impor Indonesia ke Eropa dan Afrika; gangguan di sana bisa memperlambat pengiriman dan menaikkan biaya logistik.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada apakah kesepakatan AS-Iran dapat terwujud untuk meredakan ketegangan. Jika tidak, risiko eskalasi militer di Yaman dan sekitarnya akan terus membayangi stabilitas pasokan energi global. Sementara itu, keberhasilan pemerintah Yaman merebut Mokha bisa menjadi titik balik, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan arah konflik. Apakah Houthi akan melancarkan serangan balasan besar-besaran, dan sejauh mana intervensi negara-negara tetangga akan mengubah dinamika? Waktu yang akan menjawab, tetapi pasar tidak bisa menunggu terlalu lama.



