Kansas yang Selalu Aman bagi GOP Kini Jadi Medan Tempur: Marshall Terjepit, Hamilton Menekan
Baca dalam 60 detik
- Senator petahana Roger Marshall menghadapi tantangan serius dari pendeta Adam Hamilton di negara bagian yang sudah 94 tahun tak memilih senator Demokrat.
- Kebijakan perdagangan, impor daging, dan imigrasi pemerintahan Trump memukul sektor pertanian, peternakan, dan kedirgantaraan Kansas, membuka celah bagi oposisi.
- Komite aksi politik pendukung Marshall menggelontorkan dana puluhan juta dolar untuk mempertahankan kursi yang menentukan mayoritas Senat.

Kansas, negara bagian yang sejak 1932 tidak pernah mengirim senator Demokrat ke Washington, mendadak masuk peta pertarungan Senat menjelang pemilu tengah masa 2026. Senator petahana Roger Marshall dari Partai Republik kini berhadapan dengan pendeta megachurch Adam Hamilton dalam persaingan yang semakin ketat, memaksa mesin politik nasional GOP mengucurkan dana besar-besaran di wilayah yang biasanya aman.
Pemicunya bukan pergeseran ideologis mendadak, melainkan akumulasi tekanan ekonomi. Kebijakan perdagangan Gedung Putih, lonjakan harga solar, dan razia imigrasi telah mengguncang tiga pilar ekonomi Kansas: pertanian, peternakan sapi, dan industri kedirgantaraan di Wichita. Marshall, yang selama bertahun-tahun menjadi pendukung setia Presiden Donald Trump, kini harus bermanuver menjauh dari beberapa kebijakan yang merugikan konstituennya tanpa kehilangan basis konservatif.
Cook Political Report pada 23 September menggeser status kursi ini dari "Likely Republican" menjadi "Lean Republican". Survei Emerson College/Nexstar terhadap 750 pemilih kemungkinan menempatkan Hamilton di 45% dan Marshall di 43%—selisih dalam margin of error 3,6%. Angka itu mengejutkan karena Trump memenangi Kansas dengan selisih 16 poin pada 2024, sementara tingkat persetujuannya di negara bagian itu hanya 40%, dengan 53% tidak setuju.
Bagi Marshall, dilema terbesar datang dari kebijakan yang seharusnya memperkuat basisnya. Pada Agustus, Trump menurunkan tarif untuk tambahan 300.000 metrik ton impor daging sapi tanpa lemak demi menekan harga daging giling. Langkah itu membuat peternak lokal meradang. Asosiasi Peternakan Kansas, yang mendukung Marshall pada 2016 dan 2020, tahun ini memilih tidak memberikan dukungan kepada siapa pun.
"Campur tangan di Washington justru lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Banyak anggota kami lebih suka pembuat kebijakan membiarkan pasar bekerja," ujar Matt Teagarden, CEO Asosiasi Peternakan Kansas.
Di sektor kedirgantaraan, ancaman Trump untuk melarang penjualan pesawat buatan Bombardier—perusahaan Kanada yang mempekerjakan sekitar 1.500 orang di Wichita—menempatkan Marshall dalam posisi sulit. Ia mengklaim telah memperjuangkan pekerjaan lokal "di dalam Ruang Oval", tetapi tetap enggan menentang perang dagang yang memicunya. Sementara itu, petani terjepit dari dua sisi: harga gandum dan kedelai tertekan tarif balasan, sedangkan biaya solar melonjak hampir satu dolar per galon dalam rentang 30 hari pada musim panen, menurut data AAA.
Razia Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Kansas barat daya memperparah situasi. Wilayah itu menampung beberapa rumah potong hewan dan feedlot terbesar di AS. Teagarden menyebut banyak pekerja migran memilih tinggal di rumah, memaksa pabrik memangkas shift, memperlambat lini produksi, atau membatalkan operasi. Dampaknya, feedlot menahan sapi lebih lama dan biaya membengkak di industri yang sudah kekurangan tenaga kerja. Marshall merespons dengan kritik terukur pada 23 September, menuntut ICE berkoordinasi dengan penegak hukum lokal.
Masalah lain datang dari rekam jejak pribadinya. The New York Times pada 8 September melaporkan bahwa Marshall, seorang dokter, menggugat lebih dari 700 pasien kliniknya karena tagihan tak terbayar. Dalam 81 kasus, pasien ditangkap setelah melewatkan jadwal pengadilan; upah dan rekening bank mereka disita, dengan bunga tahunan 18%. Kubu Marshall membantah premis serangan itu sebagai "kebohongan", menegaskan Konstitusi Kansas melarang penjara karena utang dan bahwa senator tinggal di properti seluas 300 hektare di negara bagian itu.
Di sisi lain, Hamilton membawa daya tarik lintas partai yang jarang dimiliki kandidat Demokrat di Kansas. Ia menghabiskan tiga dekade membangun jemaat United Methodist terbesar di AS, dengan jaringan yang menjangkau jauh melampaui lingkaran Demokrat tradisional. Ia pernah terdaftar sebagai Republik dan Demokrat, serta sempat menjadi independen tahun ini. Menurut analis politik Bob Beatty dari Washburn University, latar belakang itu "menciptakan struktur izin" bagi Republikan moderat dan independen untuk menyeberang. Hamilton telah menerima dukungan dari mantan Gubernur Republikan Bill Graves dan Mike Hayden, serta Arch Naramore, penantang Marshall di primari.
Meski demikian, Partai Republik Kansas mengingatkan bahwa pola serupa pernah terjadi. Setelah Bob Dole nyaris kalah pada 1974 pasca-Watergate, setiap calon senator Republik di Kansas selalu menang dengan selisih dua digit. Pada 2014, Pat Roberts sempat terlihat terdesak sebelum menang 11 poin; enam tahun kemudian Marshall juga menang 11 poin atas Barbara Bollier. Ketua Partai Republik Kansas, Danedri Herbert, menyatakan pemilih yang ragu biasanya kembali ke partai menjelang hari pemilihan.
Namun kali ini, GOP tidak mau mengambil risiko. Senate Leadership Fund memulai kampanye iklan multi-juta dolar di Kansas dan mengalihkan dana dari North Carolina—tanda bahwa sumber daya partai kini tersedot ke medan yang dulu dianggap aman. Pertanyaannya, apakah gelombang ketidakpuasan ekonomi di jantung Amerika Serikat cukup kuat untuk meruntuhkan tembok merah Kansas, atau sejarah panjang negara bagian itu kembali meneguhkan dominasi Republik?



