Trump Sebut Iran Boleh 'Hancurkan' Los Angeles dan San Diego, Gubernur California: Tidak Waras dan Berbahaya
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump memicu kemarahan setelah menyarankan Iran menyerang dua kota besar California, Los Angeles dan San Diego, dalam pidato kampanye di Nebraska.
- Gubernur Gavin Newsom dan para wali kota mengecam pernyataan itu sebagai ancaman tidak bertanggung jawab terhadap lebih dari 10 juta warga Amerika.
- Insiden ini menambah ketegangan politik menjelang pemilu sela November dan mempertanyakan batas retorika presiden terhadap keamanan domestik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah dalam sebuah rapat umum di Nebraska, Senin malam waktu setempat, ia menyatakan bahwa Iran dipersilakan "menghancurkan" Los Angeles dan San Diego. Pernyataan itu langsung ditafsirkan sebagai ancaman terhadap dua kota besar di California yang selama ini menjadi sasaran kritik keras pemerintahan Trump.
Dalam pidato yang berlangsung hampir satu setengah jam dan cenderung melompat-lompat antar topik, Trump menyinggung harga barang yang melonjak akibat perang dengan Iran. Menurutnya, kenaikan itu adalah "harga kecil yang harus dibayar untuk menjaga dunia tetap aman". Ia lantas menambahkan, "Mereka bisa menghancurkan satu kota. Biarkan mereka menghancurkan Los Angeles. Biarkan mereka menghancurkan San Diego." Ucapan itu disambut tepuk tangan hadirin di Grand Island.
Gubernur California Gavin Newsom merespons dengan nada tajam melalui akun media sosial X. Ia menilai pernyataan presiden sebagai "tidak waras dan berbahaya", terutama setelah sebelumnya Trump mengirim Garda Nasional dan Marinir ke California. "Mari kita perjelas: Presiden sedang menganjurkan serangan terhadap lebih dari 10 juta penduduk AS di dua kota terbesar Amerika. Ini tidak normal. Tidak ada yang normal dari ini," tulis Newsom dari akun kantor persnya.
Wali Kota Los Angeles Karen Bass mengecam apa yang disebutnya sebagai "ancaman tidak bertanggung jawab" yang berpotensi membahayakan keselamatan kota terbesar kedua di AS itu. "Tugas seorang presiden adalah melindungi negara, bukan mengancamnya dan mendorong serangan terhadap nyawa warga Amerika," ujarnya dalam sebuah pernyataan. Sementara Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kotanya "bukan korban sampingan" dalam perang yang dipicu presiden. "Kami tidak bisa dikorbankan. Dan kami tidak pernah menjadi 'harga kecil'. Jauhkan kota kami dari pembicaraan perang Anda yang sembrono," tulisnya di X.
Di dunia maya, komentar tersebut memicu perdebatan sengit mengenai maksud sebenarnya. Sebagian pihak menduga Trump hanya melontarkan lelucon kasar tentang dua kota liberal, namun ada pula yang menduga ia tanpa sengaja membocorkan informasi intelijen rahasia tentang potensi target Iran. Sejumlah aktivis konservatif berargumen bahwa Trump sebenarnya merujuk pada harga bensin yang tinggi, bukan kemampuan Iran menghancurkan kota AS. Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Pejabat pertahanan AS sebelumnya menyatakan bahwa Iran saat ini tidak memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan rudal langsung ke daratan Amerika. Dalam pidato-pidatonya, Trump memang kerap menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir yang mengancam kota-kota AS. Pada pidato kenegaraan terakhirnya, ia bahkan mengklaim Iran sedang membangun rudal yang "segera" mampu menjangkau wilayah Amerika.
"Tiga belas juta warga California tinggal di Los Angeles dan San Diego. Hidup mereka bukan 'harga kecil' atau bahan lelucon bagi Donald Trump." โ Xavier Becerra, calon gubernur dari Partai Demokrat
Pernyataan Trump ini juga menjadi sorotan dalam konteks politik domestik AS. Di Nebraska, persaingan kursi Senat yang tak terduga ketatnya membuat Partai Republik gelisah. Trump mendesak pendukungnya untuk menganggap namanya ada di surat suara pada November nanti. Namun di California, komentarnya justru merugikan kandidat gubernur dari Partai Republik yang didukungnya, Steve Hilton, yang tengah berupaya mengejutkan. Xavier Becerra, calon dari Demokrat, memanfaatkan momen ini untuk menegaskan bahwa nyawa warga tidak bisa dijadikan bahan lelucon.
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan antara Trump dan negara bagian California, yang sering menjadi target kebijakan kontroversialnya. Lebih dari sekadar retorika, pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan serius tentang batas antara kebebasan berbicara seorang presiden dan tanggung jawab melindungi warga negaranya. Apakah ini sekadar gaya bicara Trump yang blak-blakan, atau cerminan pendekatan yang mengabaikan keselamatan publik demi keuntungan politik? Publik Amerika, dan dunia, menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih.



