Menua di Negeri Orang: Perempuan Filipina di Jepang dan Tarik-Menarik Pulang ke Kampung Halaman
Baca dalam 60 detik
- Gelombang migrasi perempuan Filipina ke Jepang pada era bubble ekonomi kini memasuki fase penuaan, memicu dilema tempat menghabiskan sisa hidup.
- Kisah Julieta Suda dan Maria Niwa menggambarkan kompleksitas ikatan keluarga, identitas, dan perawatan kesehatan di usia senja.
- Keputusan untuk kembali ke Filipina atau tetap di Jepang akan membentuk pola migrasi dan kebijakan sosial kedua negara di masa depan.

Nagoya – Ribuan perempuan Filipina yang datang ke Jepang pada 1980-an dan 1990-an untuk bekerja dan menikah kini memasuki usia senja. Di tengah hiruk-pikuk kota seperti Nagoya, mereka menghadapi pertanyaan eksistensial: pulang ke kampung halaman atau menetap di negeri yang telah menjadi rumah selama puluhan tahun? Dua kisah berikut mengungkap kompleksitas pilihan tersebut, yang tidak hanya menyangkut tempat tinggal, tetapi juga ikatan keluarga, identitas, dan akses layanan kesehatan.
Julieta Suda, 58 tahun, adalah salah satu dari ribuan perempuan yang memutuskan menikah dengan pria Jepang melalui perjodohan. Pada Februari 1987, saat berusia 18 tahun, ia terbang dari Manila ke Narita. Di bandara, seorang pria 25 tahun lebih tua telah menantinya—calon suaminya. Suda mengaku memilih jalan ini karena di Filipina saat itu sulit mendapatkan pekerjaan. "Tidak ada pekerjaan meski saya tetap di Filipina," kenangnya. Suaminya memiliki kedai kopi di Nagoya, duda dengan dua anak, dan Suda harus beradaptasi dengan peran sebagai istri sekaligus ibu tiri.
Kehidupan Suda tidak mudah. Anak tertua suaminya hanya empat tahun lebih muda darinya. "Saya tidak bisa menjadi ibu atau kakak perempuan," akunya. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang terbatas, ia berjuang memahami budaya dan norma setempat—dari membaca pengumuman sekolah anak-anaknya hingga membuang sampah sesuai jadwal. "Setiap hari saya membuka kamus dan berusaha mati-matian menghadapi apa yang ada di depan saya," tuturnya. Perjuangan ini mencerminkan pengalaman banyak migran yang harus menyeimbangkan asimilasi dan mempertahankan identitas asal.
Dua puluh tahun lalu, hubungan Suda dengan anak-anak suaminya memburuk, dan ia sempat berpisah. Ia membawa dua anaknya dan bekerja di pabrik pembuat kotak makan siang untuk menyambung hidup. Namun, beberapa tahun kemudian, mantan suaminya memintanya kembali untuk merawatnya di usia tua. Kini, Suda merawat suaminya yang berusia 83 tahun, memasak untuknya bersama putrinya. Meski demikian, ia telah mengambil keputusan bulat: "Ketika suami saya meninggal, saya akan kembali ke Filipina." Baginya, Jepang adalah tempat yang baik, tetapi "hati saya merasa tenang di Filipina. Jepang tidak pernah menjadi negara saya."
Kisah berbeda datang dari Maria Niwa, 55 tahun, yang tinggal di Prefektur Aichi. Ia datang ke Jepang 32 tahun lalu sebagai penghibur, lalu menikah dengan pria Jepang dan membesarkan tiga anak. Dua tahun lalu, ia divonis menderita kanker payudara. Setelah berdiskusi dengan suaminya, ia sempat pulang ke Filipina untuk bertemu keluarga besarnya, dengan perasaan mungkin tidak akan bertemu lagi. Namun, pada akhirnya ia memilih menjalani perawatan di Jepang. Alasannya sederhana: "Suami dan anak-anak saya di Jepang. Keluarga saya di sini. Saya ingin bekerja keras di Jepang dan membantu anak-anak saya membesarkan cucu mereka."
Kisah Suda dan Niwa merefleksikan dilema generasi migran Filipina di Jepang. Di satu sisi, ada ikatan emosional dan kewajiban keluarga yang mengikat mereka ke Jepang. Di sisi lain, ada kerinduan akan kampung halaman dan keinginan untuk menghabiskan masa tua di lingkungan yang lebih familiar. Fenomena ini juga menyentuh isu yang lebih luas: bagaimana negara-negara dengan populasi migran yang menua—seperti Jepang—menyediakan layanan sosial dan kesehatan yang inklusif bagi warga asing. Sementara itu, Filipina berpotensi kehilangan tenaga kerja terampil yang justru dibutuhkan untuk pembangunan domestik.
Bagi Indonesia, kisah ini memiliki relevansi yang kuat. Banyak pekerja migran Indonesia di Jepang, baik melalui jalur formal maupun informal, menghadapi persoalan serupa ketika memasuki usia senja. Mereka harus memilih antara tetap di negara tempat mereka bekerja atau kembali ke tanah air. Pilihan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga pada pengiriman remitansi dan transfer pengetahuan. Pemerintah Indonesia dapat belajar dari pengalaman Jepang dalam mengelola integrasi migran lansia, termasuk akses layanan kesehatan dan jaminan sosial.
Ke depan, keputusan Suda dan Niwa akan menjadi cermin bagi ribuan migran lain yang berada di persimpangan jalan. Apakah mereka akan memilih kembali ke Filipina, atau menetap di Jepang dengan segala konsekuensinya? Jawabannya akan menentukan pola migrasi dan kebijakan sosial di kedua negara. Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah "rumah" selalu merujuk pada tempat kelahiran, atau pada tempat di mana hati dan keluarga berada?



