Diane Morgan Akui Sempat Ragu 'Ann Droid' Diterima Penonton: 'Bisa Gagal Total'
Baca dalam 60 detik
- Diane Morgan mengaku sempat pesimistis terhadap sitkom 'Ann Droid' yang dibintanginya, khawatir konsep robot sosial untuk lansia dianggap aneh.
- Kekhawatiran itu muncul karena proyek berisiko tinggi, namun respons positif dari pemutaran awal mengubah pandangannya.
- Serial ini menjadi sorotan karena mengangkat isu AI dan perawatan lansia, relevan dengan tren serupa yang mulai muncul di berbagai negara.

Diane Morgan, aktris sekaligus penulis skenario berusia 50 tahun, mengakui bahwa ia sempat diliputi keraguan besar saat pertama kali menggarap sitkom 'Ann Droid'. Ia khawatir penonton tidak akan menerima konsep cerita yang mengangkat robot humanoid sebagai pendamping lansia, dan justru menganggapnya terlalu aneh untuk sebuah tayangan komedi.
Dalam wawancara terbarunya di acara 'The Romesh Ranganathan Show', Morgan menceritakan bagaimana ia dan tim produksi sempat gamang menilai respons publik. "Ini taruhan besar. Anda membayangkan, apakah ini akan berhasil atau justru orang-orang berkata, 'Apa-apaan ini?' Bisa saja dengan mudah menjadi bumerang," ujarnya. Namun, setelah beberapa kali pemutaran awal yang mendapat sambutan positif, ia mulai menaruh harapan, meski tetap berusaha menahan diri agar tidak terlalu optimistis.
Konsep 'Ann Droid' sendiri lahir dari kegelisahan Morgan terhadap perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan robot untuk merawat lansia di Jepang. Ide itu kemudian ia diskusikan dengan sahabatnya, Pippa, yang juga produser acara tersebut. "Awalnya kami hanya ingin membuat satu sama lain tertawa. Saya bahkan tidak menyangka akan sampai sejauh ini," kenang Morgan. Meski mengangkat isu teknologi yang serius, ia menegaskan bahwa serial ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan politik, melainkan lebih kepada eksplorasi hubungan manusia dan mesin dengan balutan humor.
Kesuksesan 'Ann Droid' tidak lepas dari dukungan para pemain dan kru. Pada 2025, Sue Johnston, aktris senior berusia 82 tahun yang dikenal lewat perannya di 'The Royle Family', bergabung dalam serial ini. Johnston mengaku antusias bisa kembali berkarya di BBC Comedy. "Diane dan Sarah [Kendall, rekan penulis] telah menciptakan komedi yang akan menyentuh banyak penonton dengan cara berbeda. Saya tidak sabar untuk memulai," katanya saat itu. Jon Petrie, Direktur Komedi BBC, juga memuji kepiawaian Morgan dalam meramu cerita. Menurutnya, 'Ann Droid' berhasil memadukan kehangatan dan kekacauan yang menghibur, terutama lewat hubungan tak biasa antara pensiunan yang lincah dan robot yang terlalu perhatian.
Fenomena 'Ann Droid' menarik untuk disandingkan dengan konteks Indonesia, di mana populasi lansia terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi penduduk lanjut usia mencapai 12% pada 2024, dan angka ini diprediksi naik. Meski penggunaan robot pendamping masih jauh dari realitas, diskusi tentang perawatan lansia dan teknologi menjadi semakin relevan. Kisah 'Ann Droid' bisa menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia untuk mulai memikirkan solusi kreatif dalam menghadapi tantangan demografi, tanpa kehilangan sentuhan humanis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah 'Ann Droid' akan berlanjut ke musim kedua, dan bagaimana respons penonton global terhadap tema AI yang diangkat. Dengan keberanian Morgan mengambil risiko, serial ini membuktikan bahwa komedi bisa menjadi medium untuk membahas isu-isu besar dengan cara yang ringan namun bermakna. Apakah penonton Indonesia akan menyambut hangat kisah robot dan lansia ini jika suatu saat tayang di platform streaming? Waktu yang akan menjawab.



