Jelang Muktamar ke-35, PBNU Peringatkan Banjir Hoaks dan Seruan Jaga Adab pada Ulama
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PBNU Saifullah Yusuf meminta peserta Muktamar ke-35 mengabaikan kabar bohong yang beredar di media sosial dan tetap menjaga ketenangan.
- Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran perpecahan internal, dengan sejumlah pihak dinilai mulai melontarkan kritik yang tidak menghormati kiai dan ulama.
- Muktamar yang dijadwalkan pada 27โ31 Agustus 2026 di Jombang diharapkan berjalan kondusif dan menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi warga NU.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan peringatan keras menjelang gelaran Muktamar ke-35: waspadai gelombang informasi palsu yang berpotensi memecah belah organisasi. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengimbau seluruh peserta dan warga NU untuk tidak mudah percaya pada berita-berita yang belum terverifikasi di media sosial, seraya menegaskan bahwa banyak konten yang beredar jauh dari fakta dan bernuansa fitnah.
Dalam keterangannya di Jombang, Jawa Timur, Jumat, Gus Ipul yang juga menjabat Menteri Sosial menyoroti maraknya potongan-potongan berita dan komentar di platform digital yang dinilai sengaja dirancang untuk mengganggu kekhidmatan musyawarah tertinggi organisasi. "Di medsos itu banyak sekali komentar-komentar, potongan-potongan berita yang jauh dari kenyataan," ujarnya, menegaskan bahwa sebagian isu yang beredar bahkan tidak layak untuk ditanggapi karena kadar kebohongannya yang tinggi.
Yang menarik, Gus Ipul tidak merinci isu-isu spesifik yang dimaksud. Ia justru memilih untuk tidak menyebut satu per satu, dengan alasan khawatir justru memperkeruh suasana. "Saya tidak tahu ada unsur kesengajaan atau tidak. Isu-isu yang marak itu saya terus terang enggak mau menyebut satu per satu. Tapi banyak yang hoaks, banyak yang palsu, banyak yang fitnah," katanya. Sikap ini mengindikasikan bahwa PBNU lebih memilih meredam gejolak daripada memperpanjang polemik yang bisa mengganggu jalannya muktamar.
Lebih dari sekadar imbauan anti-hoaks, Gus Ipul juga mengingatkan soal pentingnya menjaga adab dan tradisi NU dalam menghormati ulama, kiai, dan guru. Ia menyayangkan adanya sebagian kalangan di lingkungan internal yang mulai "kehilangan kendali diri" dan melontarkan pernyataan yang tidak seharusnya, yang berpotensi merendahkan martabat para tokoh. "Dari awal kita dididik untuk menghormati ulama, menghormati kiai, menghormati guru-guru kita. Sekarang kita lihat ada sebagian di antara kita, di lingkungan ulama, yang mulai kehilangan kendali diri dan memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak seharusnya," tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika politik dan sosial yang kian memanas menjelang muktamar. Beberapa tokoh dan kiai memang kerap melontarkan pandangan yang berbeda, namun perbedaan tersebut dinilai tidak semestinya disampaikan dengan cara yang menyerang pribadi. Gus Ipul menilai bahwa menjaga suasana kondusif adalah bagian dari penghormatan terhadap warisan para pendiri NU, sebuah organisasi yang selama ini dikenal dengan tradisi tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran).
Muktamar ke-35 ini menjadi ajang permusyawaratan tertinggi NU yang akan dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan mengusung semangat kegembiraan, kerukunan, dan kemaslahatan, forum ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang membawa manfaat bagi jam'iyah Nahdlatul Ulama dan umat secara luas. Namun, di balik harapan tersebut, ada kekhawatiran yang mengemuka: apakah perbedaan pandangan yang ada akan mampu dikelola secara dewasa, atau justru meledak menjadi konflik terbuka yang merusak citra organisasi?
Para pengamat politik dan tokoh NU menilai bahwa imbauan Gus Ipul ini merupakan sinyal bahwa PBNU ingin memastikan muktamar berjalan mulus tanpa gangguan berarti. Dengan persiapan yang sudah dinyatakan tuntas, fokus kini tertuju pada bagaimana para peserta dapat menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya. "Kita harus sama-sama menjaga ketenangan, kesejukan," kata Gus Ipul, mengajak seluruh elemen untuk berkonsentrasi pada substansi muktamar, bukan pada riuh rendah kabar di dunia maya.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang diundang untuk membuka muktamar juga menambah dimensi politis pada acara ini. Meski demikian, PBNU menegaskan bahwa muktamar bukanlah ajang politik praktis, melainkan forum untuk memperkuat ukhuwah dan merumuskan langkah organisasi ke depan. Pertanyaannya, akankah hiruk-pikuk politik nasional ikut mewarnai jalannya muktamar? Atau justru sebaliknya, NU mampu menunjukkan kedewasaan berorganisasi di tengah tekanan informasi yang begitu deras? Semua akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan.



