Franz Beckenbauer Supercup: Bayern Munich Kokoh di Puncak, Rekor demi Rekor Tercipta
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich mengoleksi 11 gelar Supercup Jerman, terbanyak sepanjang sejarah turnamen pemanasan musim ini.
- Kompetisi yang sempat vakum dan berganti format ini kembali digelar sejak 2010, dengan enam edisi ditentukan lewat adu penalti.
- Edisi 2025 menjadi yang pertama memakai nama Franz Beckenbauer, sekaligus menandai kembalinya antusiasme penonton pasca-pandemi.

Bayern Munich menegaskan dominasinya di panggung domestik Jerman dengan meraih gelar juara Franz Beckenbauer Supercup 2025 setelah menaklukkan VfB Stuttgart dengan skor 2-1 di MHP Arena, Stuttgart. Kemenangan ini sekaligus memperpanjang rekor Bayern sebagai tim paling sukses di ajang yang mempertemukan juara Bundesliga dan pemegang Piala DFB tersebut, dengan total sebelas trofi.
Turnamen yang lazim disebut sebagai pembuka musim ini memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika. Sejak pertama kali digelar pada 1987, Supercup sempat dikelola oleh federasi sepak bola Jerman (DFB) hingga 1996, kemudian vakum dan digantikan oleh Piala Liga (Ligapokal). Baru pada 2010, DFL selaku operator liga menghidupkannya kembali dengan format yang lebih sederhana: satu pertandingan tunggal antara juara liga dan juara piala. Jika ada tim yang meraih double, maka runner-up Bundesliga yang berhak tampil.
Edisi 2025 menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya turnamen ini menyandang nama Franz Beckenbauer, legenda sepak bola Jerman yang wafat pada Januari 2024. Penghormatan ini sekaligus menjadi pengingat akan besarnya kontribusi Beckenbauer bagi sepak bola Jerman, baik sebagai pemain maupun pelatih. Keputusan DFL ini disambut positif oleh para penggemar, yang melihatnya sebagai bentuk apresiasi yang layak bagi sang 'Kaiser'.
Sepanjang sejarahnya, Supercup Jerman kerap menyajikan drama. Enam dari 25 edisi yang pernah digelar harus diselesaikan melalui adu penalti, termasuk final 2024 yang dimenangkan Bayer Leverkusen atas Stuttgart. Rekor kemenangan terbesar masih dipegang Bayern Munich yang menghancurkan Eintracht Frankfurt 5-0 pada 2018, dengan hat-trick Robert Lewandowski. Pemain Polandia itu hingga kini masih memegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Supercup dengan tujuh gol.
Selain Lewandowski, nama-nama seperti Otto Rehhagel dan Manuel Neuer juga mencatatkan namanya dalam buku rekor. Rehhagel, pelatih legendaris Bundesliga, tercatat lima kali membawa timnya tampil di Supercup dan tiga kali menjadi juara. Sementara Neuer, kiper Bayern, menjadi pemain dengan penampilan terbanyak (12 kali) dan gelar terbanyak (8 kali) di ajang ini. Konsistensi Neuer menjadi bukti kualitasnya yang tak lekang oleh waktu.
Fenomena menarik lainnya adalah kembalinya animo penonton pasca-pandemi. Setelah sempat digelar tanpa penonton pada 2020 dan dengan kapasitas terbatas pada 2021, edisi 2022 hingga 2025 semuanya terjual habis. Hal ini menunjukkan bahwa Supercup tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi publik Jerman, meski kerap dianggap sebagai ajang pemanasan sebelum musim resmi bergulir.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan Supercup Jerman ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks kompetisi domestik yang juga kerap menghadirkan format serupa, seperti Piala Presiden atau Piala Menpora. Meski pamornya mungkin tidak sebesar liga utama, turnamen semacam ini terbukti mampu membangkitkan gairah suporter dan menjadi ajang uji coba bagi tim-tim sebelum kompetisi resmi dimulai. DFL pun dinilai sukses dalam mengemas Supercup sebagai produk yang menarik secara komersial.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah mampukah tim-tim lain memecah dominasi Bayern Munich di ajang ini? Dengan kekuatan finansial dan skuad yang dimiliki, Bayern sepertinya akan tetap menjadi favorit di setiap edisi. Namun, sejarah membuktikan bahwa kejutan selalu mungkin terjadi, seperti yang dilakukan RB Leipzig pada 2023 atau Bayer Leverkusen pada 2024. Satu hal yang pasti, Franz Beckenbauer Supercup akan terus menjadi panggung persaingan sengit antara kasta tertinggi sepak bola Jerman.



