The Odyssey Cetak Sejarah: Film R-Rated Pertama Tembus US$1,35 Miliar, Kalahkan Deadpool & Wolverine
Baca dalam 60 detik
- Adaptasi epik Homer garapan Christopher Nolan meraup US$1,352 miliar secara global, memecahkan rekor film berperingkat R terlaris sepanjang masa.
- Pencapaian ini menegaskan daya tarik sinema Nolan yang mampu menggaet penonton dewasa di tengah dominasi film superhero dan franchise.
- Kritik pedas dari penerjemah The Odyssey, Emily Wilson, menyoroti kedalaman karakter dan narasi, memicu perdebatan tentang adaptasi sastra klasik.

Christopher Nolan kembali menorehkan tinta emas di industri perfilman global. Film epiknya, The Odyssey, resmi memecahkan rekor sebagai film berperingkat R (dewasa) terlaris sepanjang masa dengan pendapatan kotor US$1,352 miliar di seluruh dunia. Angka tersebut melampaui capaian Deadpool & Wolverine yang meraup US$1,338 miliar pada 2024, sekaligus menegaskan posisi Nolan sebagai sutradara yang mampu menyulap kisah klasik menjadi fenomena komersial.
Keberhasilan ini bukan sekadar angka. The Odyssey—yang diadaptasi dari puisi epik Homer—menjadi film pertama dengan rating R yang berhasil menembus pendapatan di atas US$1,35 miliar. Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh film superhero yang dibintangi Ryan Reynolds. Menariknya, Reynolds justru menjadi salah satu orang pertama yang memberi ucapan selamat. Dalam unggahannya di X, ia menulis, "Selamat kepada seluruh pemeran dan kru The Odyssey atas pencapaian sebagai film R-rated terlaris sepanjang masa. Itu kendaraan yang luar biasa."
Bagi Nolan, pencapaian ini melengkapi rentetan sukses kariernya. The Odyssey—yang dibintangi Matt Damon, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Tom Holland, Charlize Theron, dan Zendaya—telah menjadi film terlaris dalam filmografi sutradara asal Inggris tersebut. Sebelumnya, rekor itu dipegang oleh The Dark Knight Rises (2012) yang mengumpulkan US$1,085 miliar, disusul The Dark Knight (2008) dengan US$1,005 miliar. Dengan tambahan ini, total pendapatan seluruh film Nolan kini menembus US$7 miliar secara global.
Eksekutif Universal Pictures, Jim Orr, yang menjabat presiden distribusi teater domestik, menilai keberhasilan ini sebagai buah dari kepercayaan penonton terhadap kualitas garapan Nolan. "Christopher Nolan telah mendapatkan kepercayaan penonton dengan konsisten menghadirkan tontonan teatrikal yang wajib disaksikan, dan The Odyssey adalah puncak kemampuannya," ujarnya. Senada, Veronika Kwan Vandenberg, presiden distribusi Universal, menyebut film ini sebagai "epik global yang beresonansi dengan penonton di mana-mana melalui skala besar dan visi tanpa kompromi".
Namun, di balik gemerlap box office, The Odyssey menuai kritik tajam dari Emily Wilson, akademisi klasik yang terjemahan puisinya pada 2017 menjadi salah satu inspirasi film. Dalam esainya di London Review of Books, Wilson menilai film ini gagal menangkap kedalaman karya Homer. "The Odyssey menampilkan kombinasi biasa dari keagungan dan kedangkalan... versi filmnya terlalu membingungkan, karakternya kurang berkembang, untuk menyampaikan ide-ide besar yang dijanjikannya—meskipun sangat pandai menampilkan ledakan besar dan raksasa," tulisnya. Wilson juga menyoroti minimnya kedalaman psikologis, emosional, politik, dan etika, serta menyebut struktur naratifnya "gimmick". Meski demikian, ia mengakui perilisan film ini di bioskop sebagai "sebuah peristiwa yang patut dirayakan".
Kritik Wilson membuka diskusi menarik tentang adaptasi sastra klasik ke layar lebar. Di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat tingginya minat penonton terhadap film epik dan sejarah. Kesuksesan The Odyssey menunjukkan bahwa film dengan rating dewasa tetap punya pasar luas, asalkan dikemas dengan kualitas sinematik yang mumpuni. Pertanyaannya, akankah tren ini mendorong sineas Indonesia untuk lebih berani mengadaptasi karya sastra klasik Nusantara dengan skala produksi besar? Atau justru menjadi pengingat bahwa kesuksesan komersial tidak selalu sejalan dengan apresiasi akademis? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: Nolan telah membuktikan bahwa epik kuno masih relevan di era modern.



