INKA Kirim 120 Gerbong ke Selandia Baru, Realisasi Pesanan UGL Tembus 73,5%
Baca dalam 60 detik
- PT INKA mengirim batch kedua berisi 120 gerbong flat top untuk Selandia Baru, menuntaskan 250 dari 340 unit pesanan UGL.
- Kontrak keempat sejak 2021 ini menegaskan kepercayaan pasar Australia-Selandia Baru terhadap manufaktur kereta nasional.
- Tantangan berikutnya: menyelesaikan 90 unit terakhir pada November 2026 dan menjaga momentum ekspor di tengah persaingan global.

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA kembali mengirimkan 120 unit gerbong kontainer flat top ke Selandia Baru, menandai tonggak baru dalam realisasi pesanan dari perusahaan Australia, UGL. Dengan pengiriman yang berlangsung dari Terminal Jamrud Nilam Mirah dan Teluk Lamong, Surabaya, total unit yang telah dikirim mencapai 250 dari 340 unit yang dipesan, atau setara 73,5 persen.
Pengiriman ini merupakan bagian dari kontrak keempat antara INKA dan UGL yang berjalan sejak 2021. Senior Manager Corporate Communications and Representative Office INKA, Nanang Agung Rohmandiyas, menegaskan bahwa setiap pengiriman selalu mengedepankan kualitas dan spesifikasi yang telah disepakati. "Bagi kami, setiap pengiriman selalu berpegang pada prinsip yang sama, yakni memenuhi kualitas dan spesifikasi yang telah disepakati bersama pelanggan," ujarnya.
Pesanan UGL kali ini mencakup 290 unit gerbong flat top 40 foot dan 50 unit flat top 50 foot. Sebelumnya, INKA telah mengirimkan 130 unit pada Maret 2026. Kini, dengan tambahan 120 unit, realisasi mencapai 250 unit. Sisanya, 90 unit yang terdiri dari 40 unit 40 foot dan 50 unit 50 foot, dijadwalkan dikirim pada November 2026.
Secara kumulatif, sejak 2021 INKA telah mengirimkan 1.294 dari total 1.504 unit gerbong yang dipesan UGL. Kolaborasi ini juga mencakup pesanan terpisah untuk 50 unit platform lokomotif bagi pasar Australia, dengan pengiriman hingga 2027. Nanang menambahkan, "Empat pesanan sejak 2021 menjadi tolok ukur yang jelas atas hubungan ini. UGL kembali memberikan kepercayaan melalui pekerjaan baru."
Bagi Indonesia, pencapaian ini bukan sekadar angka ekspor. INKA, sebagai BUMN manufaktur perkeretaapian, semakin membuktikan diri mampu bersaing di pasar global yang ketat. Kepercayaan berulang dari UGL menunjukkan bahwa produk buatan dalam negeri memiliki standar kualitas yang diakui internasional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong hilirisasi industri dan peningkatan ekspor bernilai tambah.
Ke depan, INKA menghadapi tantangan untuk menyelesaikan sisa pengiriman tepat waktu dan menjaga hubungan jangka panjang dengan UGL. Nanang menegaskan fokus utama perusahaan adalah menyelesaikan pesanan yang berjalan pada November 2026 dan terus menjaga kemitraan tersebut. "Kami menghargai kepercayaan UGL kepada tim kami, dan kami berkomitmen menjaga kepercayaan itu di setiap pengiriman," katanya.
Keberhasilan ini juga menjadi sinyal positif bagi industri perkeretaapian nasional. Dengan portofolio yang terus bertambah, INKA berpeluang memperluas pasar ke negara lain, terutama di kawasan Asia-Pasifik. Namun, persaingan dengan produsen global seperti China dan Eropa tetap menjadi tantangan. Apakah INKA mampu mempertahankan momentum ini dan menjadikan ekspor sebagai pilar pertumbuhan berkelanjutan? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah saat ini menunjukkan arah yang tepat.



