Kronologi Lengkap: Perubahan Obat Picu Jamal Musiala Kolaps Dua Kali, Bayern Munich Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Bayern Munich, Jamal Musiala, mengalami kolaps dua kali dalam empat hari akibat efek samping perubahan dosis obat untuk gangguan neurologis.
- Pelatih Vincent Kompany dan direktur olahraga Max Eberl memastikan klub telah mengetahui kondisi tersebut sejak musim lalu dan memberikan dukungan penuh.
- Kasus ini membuka diskusi tentang manajemen kesehatan atlet elite, termasuk di Indonesia, yang sering kali mengabaikan kondisi neurologis seperti epilepsi.

Gelandang serang Bayern Munich, Jamal Musiala, kembali menjadi sorotan setelah dua kali kolaps di lapangan dalam rentang empat hari pada laga pramusim melawan RB Leipzig dan Heidenheim. Kejadian ini memicu kekhawatiran publik, namun pelatih Vincent Kompany dengan cepat memberikan klarifikasi: penyebabnya bukan cedera, melainkan efek samping dari perubahan kecil dalam pengobatan yang dijalani pemain berusia 23 tahun tersebut.
Musiala sendiri telah membuka diri tentang kondisinya, menyebut adanya "disfungsi neurologis" yang menyebabkan kejang singkat namun mudah diobati. Dalam pernyataannya di Instagram, ia menegaskan bahwa kejang tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya. Bayern Munich sebenarnya sudah mengetahui tanda-tanda kondisi ini sejak sebelum Piala Dunia 2022, namun baru kali ini gangguan tersebut tampak memengaruhi performanya di lapangan.
Menjelang laga Piala Super Jerman melawan Borussia Dortmund, Kompany mengungkapkan bahwa Musalia telah membuat "sedikit perubahan" pada rencana perawatannya, yang justru memicu efek samping tak terduga. "Saya berbicara dengan Jamal, dia bilang 'tidak masalah, kamu bisa mengatakannya'. Dia membuat perubahan kecil pada perawatannya, yang menyebabkan beberapa efek samping. Sangat normal untuk membuat perubahan pada rencana perawatan," ujar Kompany dalam konferensi pers, Jumat (16/8/2024).
Direktur Olahraga Bayern, Max Eberl, menambahkan bahwa klub telah mengetahui kondisi Musiala sepanjang musim lalu dan para pemain pun sudah maklum. "Kami sudah mengetahuinya sepanjang musim lalu. Para pemain juga mengetahuinya. Bagi kami, ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kami akan memberinya semua dukungan, sudah kami lakukan, dan akan terus kami lakukan. Kami melakukan ini bersama-sama," tegas Eberl.
Meski demikian, Musiala dipastikan absen pada laga Supercup melawan Dortmund, bersama Lennard Maloney dan Serge Gnabry. Kompany menyatakan ingin "mengembalikan keadaan seperti sebelumnya" dan akan memberikan program latihan individual bagi Musiala selama seminggu ke depan, sebelum Bayern memulai pertahanan gelar Bundesliga melawan Stuttgart.
Kondisi yang dialami Musiala dikenal sebagai absence seizure, jenis kejang umum yang sering menyerang anak-anak dan dewasa muda. Dr. Meneka Sidhu, konsultan neurologis di National Hospital for Neurology and Neurosurgery London, menjelaskan bahwa pada kejang tipikal, penderitanya tampak seperti melamun atau menatap kosong selama beberapa detik. "Bisa sangat singkat, dan orang tersebut bisa melanjutkan aktivitas seperti tidak terjadi apa-apa," ujarnya. Pada kasus atipikal yang lebih lama, bisa muncul gerakan otomatis seperti tangan gelisah, kelopak mata berkedip, atau bibir mengatup, bahkan beberapa orang bisa jatuh.
Dr. Sidhu menambahkan bahwa kejang berulang dalam 24 jam bisa menjadi indikasi epilepsi, meski bisa diobati dengan obat-obatan. "Bagi siapa pun yang terkena epilepsi, penting untuk mencoba mengidentifikasi pemicunya. Bagi orang yang berolahraga, pemicunya bisa termasuk hiperventilasi dan dehidrasi. Jika diobati secara efektif, tidak ada alasan kejang absence menghentikan seseorang berolahraga," jelasnya.
Kisah Musiala mengingatkan pada atlet elite lain yang berhasil mengelola kondisi serupa. Pemain rugby Inggris, Tommy Freeman, misalnya, mulai mengalami absence seizure sejak usia 14 tahun dan setelah didiagnosis epilepsi, ia kini menjalani pengobatan rutin sambil tetap bermain untuk Northampton dan timnas Inggris. Ini membuktikan bahwa dengan penanganan yang tepat, atlet tetap bisa berprestasi di level tertinggi.
Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan manajemen kesehatan neurologis bagi atlet. Banyak atlet muda yang mungkin mengalami gejala serupa namun tidak terdiagnosis karena minimnya kesadaran dan fasilitas. Federasi olahraga dan klub di Tanah Air perlu belajar dari pendekatan Bayern Munich yang transparan dan suportif. Apakah penanganan kesehatan atlet di Indonesia sudah cukup serius untuk menangani kasus seperti ini?



