Lily Allen: Setelah Delapan Tahun Bersih, Musik Tak Lagi Terasa Sama
Baca dalam 60 detik
- Lily Allen mengaku kesulitan menikmati musik dan konser setelah delapan tahun menjalani hidup tanpa alkohol.
- Pelantun 'Smile' itu menangis saat menonton konser Olivia Rodrigo karena merasa terhubung secara emosional untuk pertama kalinya tanpa pengaruh zat.
- Allen juga mengungkapkan kecanduannya kini beralih pada barang-barang material, seperti mobil mewah dan perhiasan, sebagai pelarian baru.

Lily Allen, penyanyi pop asal Inggris yang telah menjalani hidup bersih dari alkohol selama delapan tahun, mengakui bahwa pengalaman menikmati musik dan konser kini terasa berbeda. Dalam wawancara terbarunya dengan majalah Perfect, pelantun "Smile" itu mengungkapkan bahwa ia kesulitan untuk benar-benar menikmati pertunjukan musik tanpa kehadiran alkohol yang dulu selalu menemaninya.
Allen, yang kini berusia 41 tahun, menceritakan bahwa kebiasaannya menonton konser sambil mabuk telah membentuk cara ia menikmati musik. Baginya, elemen "melepas kendali" dan "mabuk" adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton pertunjukan langsung. Tanpa itu, ia merasa ada sesuatu yang hilang. "Saya belum menemukan cara untuk menikmatinya tanpa hal-hal itu," ujarnya, menggambarkan dilema yang ia hadapi.
Namun, ada momen yang menjadi titik balik. Saat menonton konser Olivia Rodrigo di Governors Ball, New York, tahun lalu, Allen mengaku menangis tersedu-sedu. Ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang lama ia merasa benar-benar terhubung secara emosional dengan sebuah pertunjukan, tanpa bantuan alkohol atau obat-obatan. Lagu-lagu Rodrigo yang bertema patah hati terasa sangat dekat dengan kehidupannya, terutama setelah perceraiannya dengan aktor David Harbour.
Pengakuan Allen ini membuka diskusi yang lebih luas tentang hubungan antara seni, penampilan, dan zat adiktif. Bagi banyak musisi dan penggemar, alkohol dan obat-obatan sering dianggap sebagai katalis untuk kreativitas dan kebebasan berekspresi. Namun, kisah Allen menunjukkan bahwa ada sisi lain yang jarang terungkap: bagaimana seorang seniman harus beradaptasi dengan cara baru untuk merasakan dan menikmati karya seni, termasuk musik yang ia ciptakan sendiri.
Di Indonesia, fenomena serupa mungkin dialami oleh para musisi atau penikmat musik yang memutuskan untuk hidup bersih. Budaya konser di dalam negeri yang seringkali identik dengan pesta dan alkohol bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin menikmati musik secara sadar. Kisah Allen bisa menjadi refleksi bahwa kenikmatan musik sejatinya tidak selalu bergantung pada zat tertentu, meski proses penyesuaiannya tidak mudah.
Selain soal musik, Allen juga blak-blakan tentang kecanduannya yang kini beralih pada hal-hal material. Dalam wawancara dengan ELLE UK, ia mengungkapkan bahwa ia merasa tidak pantas memiliki kekayaan yang ia peroleh, sehingga ia cenderung menghabiskannya untuk barang-barang mewah. "Saya merasa tidak layak memiliki hal-hal yang saya punya," katanya. Ia bahkan mengaku merasa "tergoda" oleh gagasan kehabisan uang, yang menjadi pendorong baginya untuk terus membelanjakan uang.
Pernyataan Allen ini menyoroti kompleksitas kecanduan. Setelah melepaskan alkohol dan obat-obatan, ia menggantinya dengan perilaku lain yang juga berpotensi merugikan. Para ahli kesehatan mental sering menyebut fenomena ini sebagai "transfer kecanduan", di mana seseorang mengganti satu bentuk kecanduan dengan bentuk lain yang lebih diterima secara sosial, seperti belanja, makan, atau bahkan bekerja.
Kisah Allen mengajarkan bahwa pemulihan dari kecanduan bukanlah proses yang linear. Ada banyak tantangan dan godaan yang harus dihadapi, termasuk menemukan cara baru untuk merasakan kebahagiaan dan kepuasan tanpa mengandalkan zat atau perilaku tertentu. Bagi para penggemar di Indonesia, kisah ini mungkin bisa menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju hidup sehat adalah proses yang berkelanjutan dan penuh penyesuaian.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana Allen akan terus menavigasi hubungannya dengan musik? Apakah ia akan menemukan cara baru untuk menikmati pertunjukan, atau justru semakin menjauh dari dunia konser? Yang jelas, pengakuannya telah membuka ruang diskusi yang jujur tentang tantangan hidup bersih di tengah industri yang seringkali glamor dan penuh godaan.



