Verstappen Usulkan Mesin V8 dan Sistem Push-to-Pass Gaya IndyCar untuk F1
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen menyerukan penggantian power unit hybrid V6 turbo dengan mesin V8 naturally aspirated agar mobil lebih ringan dan mudah dikendalikan.
- Ia mengusulkan sistem push-to-pass ala IndyCar untuk menggantikan DRS yang dinilai terlalu dominan di lintasan lurus.
- F1 menargetkan kembalinya mesin V8 pada 2030, tetapi visi Verstappen lebih radikal dan berorientasi pada kesenangan berkendara.

Pembalap Red Bull Racing, Max Verstappen, melontarkan kritik tajam terhadap arah regulasi Formula 1 modern. Dalam podcast P1 with Matt & Tommy, juara dunia empat kali itu mengusulkan perubahan fundamental: kembali ke mesin V8 naturally aspirated dan meninggalkan hybrid V6 turbo yang rumit. Usulan ini muncul di tengah persiapan F1 menyongsong era baru 2026 dengan pembagian tenaga 50:50 antara mesin pembakaran dan baterai listrik.
Verstappen tidak sekadar merindukan suara raungan V8 yang terakhir terdengar pada 2013. Baginya, mesin V8 adalah solusi teknis untuk masalah bobot dan pengendalian mobil generasi sekarang. "Itu memperbaiki banyak hal. V8 yang tepat jauh lebih baik dalam segala skenario, baik pengendalian maupun bobotnya lebih ringan, dan jauh lebih menyenangkan untuk balapan," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti kegelisahan pembalap terhadap mobil hybrid yang kian berat dan bergantung pada manajemen energi.
Lebih jauh, Verstappen menawarkan gagasan radikal untuk sistem overtaking. Sejak 2011, F1 mengandalkan Drag Reduction System (DRS) yang membuka flap sayap belakang untuk memudahkan menyalip di lintasan lurus. Verstappen menilai DRS terkadang terlalu kuat dan membuat aksi menyalip terasa artifisial. Ia mengusulkan sistem push-to-pass ala IndyCar, di mana pembalap memiliki kendali manual untuk menekan tombol dan mendapatkan tambahan tenaga listrik dari baterai kecil. "Itu cukup kuat untuk menghasilkan overtaking, tetapi di akhir lintasan lurus Anda harus benar-benar menyerang," jelasnya.
Usulan Verstappen mencerminkan ketegangan antara tradisi dan inovasi di F1. Di satu sisi, produsen mesin seperti Mercedes, Ferrari, Renault, dan Honda telah berinvestasi besar dalam teknologi hybrid yang relevan dengan kendaraan jalan raya. Di sisi lain, banyak penggemar dan pembalap mengeluhkan bahwa mobil hybrid terlalu berat dan kurang menantang secara fisik. Bobot mobil F1 saat ini mencapai sekitar 798 kg, jauh lebih berat dibanding era V8 yang hanya sekitar 640 kg. Penambahan bobot ini memengaruhi kelincahan dan keausan ban, yang sering dikritik oleh pembalap.
"Di dunia ideal saya, V8, V10, tapi saya rasa sekarang lebih ke V8; itu akan luar biasa. Jauh lebih menyenangkan untuk dikendarai. Dan jika Anda menambahkan baterai kecil untuk push-to-pass, saya pikir itu tidak masalah," kata Verstappen.
Bagi Indonesia, diskusi ini mungkin terasa jauh dari lintasan. Namun, arah teknologi F1 sering kali menjadi tolok ukur industri otomotif global. Jika F1 kembali ke mesin pembakaran murni dengan bantuan listrik terbatas, sinyal ini bisa memengaruhi pengembangan kendaraan performa tinggi di pasar Asia, termasuk Indonesia. Di sisi lain, komitmen terhadap elektrifikasi tetap menjadi arus utama, terutama dengan masuknya pabrikan seperti Audi dan Porsche ke F1 pada 2026. Usulan Verstappen pun bisa dibaca sebagai kritik terhadap kompleksitas regulasi yang dianggap mengurangi esensi balapan.
Yang jelas, Verstappen tidak sendirian. Sejumlah pembalap dan tokoh paddock telah menyuarakan kerinduan pada mesin yang lebih sederhana dan suara yang lebih keras. Namun, mengubah regulasi tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh persetujuan semua tim, produsen mesin, dan FIA. Dengan target V8 pada 2030, masih ada waktu bagi diskusi alot. Apakah F1 akan mendengarkan sang juara bertahan, atau tetap pada jalur hybrid yang telah dipilih? Publik akan menantikan langkah selanjutnya, terutama menjelang musim 2026 yang akan menjadi ujian besar bagi arah teknologi balap paling bergengsi di dunia.



