Justin Hubner Buka Suara Usai Juara ASEAN Cup 2026: Ancaman Pembunuhan hingga Sindiran untuk Malaysia dan Vietnam
Baca dalam 60 detik
- Justin Hubner mengungkapkan bahwa keluarganya menerima ancaman pembunuhan dari warganet Malaysia dan Vietnam di media sosial.
- Kemenangan Indonesia atas Thailand di final ASEAN Cup 2026 menjadi trofi pertama dalam sejarah sepak bola nasional.
- Hubner menegaskan bahwa Indonesia adalah raja ASEAN yang sesungguhnya dan meminta negara lain berhenti berbicara.

Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, mengungkapkan pengalaman pahit di balik keberhasilan Skuad Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam pernyataan usai laga final, ia menyebut keluarganya mendapat ancaman pembunuhan dari warganet Malaysia dan Vietnam di media sosial.
Indonesia memastikan gelar juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2, setelah skor imbang 2-2 bertahan hingga 120 menit. Laga berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Senin (5/10/2026). Trofi ini menjadi yang pertama dalam sejarah timnas Indonesia di ajang tersebut.
Hubner tidak menyembunyikan kekesalannya terhadap serangan verbal yang menyasar keluarganya. Menurutnya, tekanan dari media sosial justru memperkuat mentalitas tim. "Mentalitas tim ini benar-benar luar biasa. Tidak ada lagi yang bisa saya katakan soal itu," ujarnya, seperti dikutip dari bola.com.
Ia pun menyindir warganet dari dua negara tetangga tersebut. "Orang-orang dari negara lain, seperti Malaysia dan Vietnam, mereka banyak sekali berbicara di media sosial, bahkan melontarkan ancaman pembunuhan terhadap keluarga saya," kata Hubner. "Satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah menang dan menunjukkan kepada mereka siapa raja yang sebenarnya."
"Menurut saya, kami telah membuktikannya hari ini. Saya rasa negara-negara itu sebaiknya berhenti bicara, karena inilah Indonesia."
โ Justin Hubner
Pernyataan Hubner menyoroti sisi gelap rivalitas sepak bola Asia Tenggara yang kerap meluas ke ranah digital. Ancaman terhadap keluarga pemain menjadi alarm bagi federasi dan penyelenggara turnamen untuk memperkuat perlindungan pemain, terutama di era media sosial yang membuat batas antara kritik dan ancaman semakin kabur.
Bagi Indonesia, kemenangan ini bukan sekadar trofi. Ini adalah penegasan bahwa program pembinaan dan naturalisasi yang dijalankan PSSI mulai membuahkan hasil di level regional. Hubner, yang lahir di Belanda dan memilih membela Indonesia, menjadi simbol dari strategi tersebut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan di lapangan tidak serta-merta menghapus tekanan psikologis yang dihadapi pemain di luar lapangan.
Ke depan, tantangan bagi Timnas Indonesia adalah mempertahankan konsistensi di level yang lebih tinggi, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia. Sementara itu, insiden ancaman daring terhadap keluarga Hubner menjadi ujian bagi ASEAN Cup sebagai turnamen yang menjunjung sportivitas. Akankah federasi mengambil langkah tegas untuk melindungi pemain dari serangan siber, atau rivalitas di media sosial akan terus menjadi bayang-bayang setiap gelar?



