Troy Parrott Bersinar di Eredivisie, Tottenham Kembali Diingatkan pada Kesalahan Masa Lalu
Baca dalam 60 detik
- Troy Parrott meninggalkan Tottenham dengan harga murah dan kini menjelma jadi striker tajam di Eredivisie serta Real Betis.
- Tottenham berisiko mengulang kesalahan serupa pada Mason Melia, penyerang muda Irlandia yang tengah dipinjamkan ke Lincoln City.
- Manajemen Spurs perlu mengevaluasi strategi pengembangan pemain muda agar tidak kembali kehilangan talenta potensial.

Keputusan Tottenham Hotspur melepas Troy Parrott ke AZ Alkmaar pada 2024 dengan banderol hanya 6,7 juta poundsterling kini menjadi sorotan tajam. Penyerang asal Republik Irlandia itu menjelma menjadi salah satu ujung tombak paling produktif di Eredivisie, dengan catatan 20 gol di musim debutnya bersama AZ, lalu meningkat menjadi 24 gol pada 2025/26. Kini ia bermain untuk Real Betis di LaLiga dan telah mencetak dua gol dalam enam penampilan perdananya.
Kisah Parrott di Tottenham sejatinya bukan cerita unik. Selama bertahun-tahun, Spurs kesulitan menemukan pelapis sepadan bagi Harry Kane. Parrott, yang menonjol di level akademi dengan 17 gol dalam 15 laga U18 dan lima gol dari 14 pertandingan U21, harus menerima kenyataan pahit: bersaing dengan Kane adalah misi mustahil. Ia sempat dipinjamkan ke Millwall, Ipswich Town, dan Preston North End, namun hanya mencetak total enam gol dari 66 penampilan di EFL. Titik balik terjadi saat ia pindah ke Excelsior di Belanda, di mana ia mencetak 17 gol dalam 32 pertandingan dan membuka jalan ke AZ.
Keputusan Tottenham melepas Parrott setelah hanya empat penampilan senior dianggap sebagai salah satu blunder transfer terbesar mereka dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih, Spurs juga melepas Will Lankshear ke Middlesbrough dengan harga 10 juta poundsterling pada musim panas lalu. Lankshear langsung bersinar dengan delapan gol dalam 11 pertandingan, sementara Tottenham justru kesulitan mencetak gol di awal musim Premier League. Dominic Solanke, yang dibeli seharga 65 juta poundsterling, belum sepenuhnya membayar ekspektasi, dan masa depan Richarlison masih abu-abu.
Yang lebih mengkhawatirkan, Tottenham tampaknya tengah menyiapkan skenario serupa bagi Mason Melia. Penyerang 19 tahun asal Irlandia itu direkrut dari St Patrick's Athletic pada Januari 2026 setelah menorehkan 25 gol dalam 98 pertandingan senior dan menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Liga Irlandia. Kini ia dipinjamkan ke Lincoln City di Championship, tetapi belum mencetak gol dalam empat pertandingan pertamanya. Pola ini mengingatkan pada perjalanan Parrott: bersinar di level muda, lalu kesulitan beradaptasi di sepak bola Inggris yang keras.
"Melia punya kecepatan dan dinamisme seperti Alexander Isak, tetapi butuh waktu dan kesabaran untuk berkembang," ujar pengamat sepak bola Irlandia, Sean Walsh.
Di sisi lain, Tottenham masih memiliki stok penyerang muda menjanjikan seperti Oliver Boast (17 tahun) yang mencetak 12 gol dalam enam laga U18, dan Luca Williams-Barnett yang mencetak 16 gol dalam 19 pertandingan akademi musim lalu. Namun, mengandalkan pemain muda untuk mengisi posisi Solanke atau Richarlison adalah risiko besar, terutama jika manajemen tidak memberikan jalur pengembangan yang jelas.
Bagi Tottenham, pelajaran dari Parrott seharusnya menjadi alarm. Melepas pemain muda berbakat dengan harga murah tanpa memberi kesempatan cukup sering kali berujung penyesalan. Jika mereka tidak berhati-hati, Melia bisa menjadi Parrott berikutnya—berkembang pesat di klub lain sementara Spurs terus mencari sosok yang mereka sudah miliki sejak awal.



