Honda HRC Berganti Nakhoda: Watanabe Pensiun, Yasuda Siap Lanjutkan Ambisi F1 2026
Baca dalam 60 detik
- Koji Watanabe akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden HRC pada 1 Januari 2027, digantikan Keiichi Yasuda.
- Yasuda, yang sebelumnya menangani SDM di divisi balap Honda, berkomitmen memperkuat fondasi organisasi dan fokus pada kemenangan.
- Pergantian ini terjadi saat Honda bersiap kembali ke F1 sebagai mitra pabrikan Aston Martin pada regulasi 2026.

Honda Racing Corporation (HRC) akan mengalami pergantian pucuk pimpinan pada awal 2027. Koji Watanabe, yang telah memimpin divisi balap Honda sejak 2022, dijadwalkan pensiun pada 1 Januari 2027, dan posisinya sebagai CEO HRC akan diisi oleh Keiichi Yasuda, yang saat ini menjabat sebagai Executive Vice President dan Representative Director HRC.
Watanabe bukan nama baru di Honda. Ia bergabung dengan pabrikan Jepang tersebut pada 1987 dan dipercaya menakhodai divisi balap pada 2022. Selama kepemimpinannya, ia mengawal sejumlah keputusan strategis, termasuk merger divisi roda empat dan roda dua, serta berbalik arah dari rencana meninggalkan Formula 1. Honda kemudian memutuskan kembali ke F1 sebagai mitra pabrikan Aston Martin untuk regulasi 2026.
Keputusan pensiun ini disampaikan Honda sebagai bagian dari rotasi personel periodik yang telah direncanakan. Perusahaan beralasan langkah tersebut untuk memperkuat struktur manajemen menghadapi transformasi global dan mempercepat ekspansi bisnis generasi berikutnya. "Perubahan eksekutif ini adalah bagian dari rotasi personel periodik yang direncanakan untuk memperkuat struktur manajemen dalam menghadapi transformasi global dan mempercepat ekspansi bisnis untuk generasi berikutnya," ujar pernyataan resmi Honda.
Watanabe menyampaikan rasa terima kasihnya kepada rekan-rekan kerja. "Merupakan kehormatan bagi saya melayani sebagai presiden HRC bersama kolega-kolega yang luar biasa," ujarnya. Ia juga menceritakan momen ketika pada 2022 dipercaya memimpin HRC yang baru, yang menyatukan kegiatan motorsport sepeda motor dan mobil. "Sejak itu, kami memutuskan kembali ke F1, memperluas struktur motorsport global dengan mereorganisasi HPD di AS menjadi HRC US dan mendirikan HRC UK, serta membangun merek global HRC," tambahnya. Untuk tiga bulan tersisa masa jabatannya, Watanabe berjanji akan terus berupaya maksimal, menargetkan kemenangan hingga akhir.
"Saya menganggap misi saya untuk mewarisi fondasi kokoh yang dibangun Watanabe, mengembangkannya lebih jauh, menyatukan vektor semua orang menuju satu tujuan yaitu menang dalam balapan, dan membuat HRC lebih kuat." - Keiichi Yasuda
Yasuda, yang akan mengambil alih kemudi, menyatakan kesiapannya. Ia menyebut misinya adalah melanjutkan fondasi yang telah dibangun Watanabe, mengembangkannya, dan menyatukan seluruh elemen organisasi untuk tujuan tunggal: menang di balapan. Dengan pengalaman manajemennya sebagai presiden entitas lokal di luar negeri dan latar belakang di bidang SDM, Yasuda berencana fokus pada investasi sumber daya manusia dan penguatan organisasi. "Saya akan memanfaatkan pengalaman manajemen saya sebagai presiden entitas lokal di luar negeri dan latar belakang saya di bidang SDM, untuk fokus pada investasi pada manusia dan memperkuat organisasi kami menuju kemenangan," tegasnya.
Pergantian ini terjadi pada momen krusial bagi Honda. Kembalinya Honda ke F1 pada 2026 sebagai mitra pabrikan Aston Martin menandai babak baru dalam sejarah motorsport mereka. Regulasi 2026 akan memperkenalkan perubahan besar pada unit daya, dengan penekanan lebih besar pada teknologi hibrida dan bahan bakar berkelanjutan. Honda berharap dapat mengulang kesuksesan masa lalu, seperti era kejayaan bersama McLaren dan Red Bull. Namun, tantangan tidak ringan: mereka harus bersaing dengan pabrikan lain yang juga tengah mengembangkan teknologi baru.
Bagi Indonesia, dinamika di HRC ini bisa menjadi cermin bagaimana sebuah organisasi motorsport besar melakukan regenerasi kepemimpinan dan menyiapkan strategi jangka panjang. Honda sendiri memiliki basis penggemar dan pengguna sepeda motor yang sangat besar di Indonesia, dan keberhasilan Honda di ajang balap global sering kali menjadi tolok ukur teknologi yang kemudian diadopsi ke produk massal. Keputusan strategis HRC, termasuk arah pengembangan teknologi balap, dapat memengaruhi arah inovasi produk Honda di pasar Indonesia, terutama dalam hal efisiensi bahan bakar dan performa mesin.
Dengan transisi kepemimpinan ini, publik motorsport akan menantikan apakah Yasuda mampu membawa HRC mempertahankan momentum dan meraih kesuksesan di F1 2026 serta ajang balap lainnya. Mampukah HRC di bawah Yasuda mewujudkan ambisi juara yang selama ini diidamkan Honda? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: tekanan untuk berprestasi tidak berkurang, justru semakin besar seiring dengan ekspektasi tinggi terhadap kembalinya Honda di panggung tertinggi balap mobil.



