Ratu Thailand Jalani Pelatihan Pilot Jet Tempur Gripen, Target Terbang Solo
Baca dalam 60 detik
- Ratu Suthida memulai program latihan penerbangan jet tempur Gripen di Pangkalan Udara Wing 7, Surat Thani, hingga awal September 2026.
- Jika berhasil, ia akan menjadi ratu pertama di dunia yang menerbangkan jet tempur, setelah menempuh berbagai lisensi penerbangan sipil dan militer.
- Langkah ini memperkuat citra monarki Thailand yang dekat dengan militer dan berpotensi menginspirasi peningkatan peran perempuan di sektor pertahanan.

Ratu Suthida dari Thailand tengah menjalani pelatihan penerbangan jet tempur Gripen di Pangkalan Angkatan Udara Wing 7, Surat Thani. Program yang berlangsung hingga 4 September 2026 ini menargetkan penerbangan solo, sebuah langkah yang belum pernah dicapai oleh seorang ratu yang sedang memerintah di dunia.
Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang pendidikan penerbangan yang telah ditempuh Ratu Suthida, dari pesawat sipil hingga jet tempur. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan kursus di Sekolah Pelatihan Terbang Angkatan Udara Thailand dengan pesawat L-39, serta sejumlah sesi simulator di fasilitas Don Mueang. Kunjungan pribadi ke Wing 7, pangkalan utama armada Gripen 39 C/D, juga dilakukannya untuk mempelajari sistem teknis pesawat dan berdialog dengan pilot operasional.
Perjalanan aviasi Ratu Suthida dimulai sejak 2010 dengan mengantongi lisensi penerbangan sipil dari Angkatan Udara Thailand menggunakan Cessna T-41. Ia kemudian mengikuti kursus kadet penerbangan Angkatan Darat pada 2011 dan kursus lanjutan di Sekolah Pelatihan Terbang pada 2012 dengan pesawat CT-4E dan PC-9. Pelatihan di Jerman menambah daftar lisensinya, termasuk Private Pilot Licence dengan berbagai tipe pesawat ringan, Commercial Pilot Licence dengan type rating Boeing 737, hingga kualifikasi teori Airline Transport Pilot Licence.
Di dalam negeri, Ratu Suthida juga memegang Airline Transport Pilot Licence dari Otoritas Penerbangan Sipil Thailand dan pernah bertugas sebagai kopilot di pesawat kerajaan Boeing 737-400 dan 737-800. Pengalaman ini menjadi fondasi kuat sebelum ia beralih ke platform tempur, sebuah lompatan yang jarang dilakukan oleh anggota keluarga kerajaan mana pun.
Bagi Indonesia, langkah Ratu Suthida ini menarik untuk dicermati. Di kawasan Asia Tenggara, peran perempuan di dunia penerbangan militer masih minim. Kehadiran sosok ratu yang aktif menerbangkan jet tempur dapat menjadi simbol kemajuan dan membuka diskusi tentang partisipasi perempuan di sektor pertahanan. Meski Indonesia memiliki beberapa pilot wanita di TNI AU, jumlahnya masih terbatas. Prestasi Ratu Suthida bisa menjadi inspirasi bagi negara tetangga untuk lebih memberdayakan perempuan di bidang yang selama ini didominasi pria.
Pelatihan ini juga menegaskan hubungan erat antara monarki Thailand dan militer, yang selama ini menjadi pilar kekuasaan di negara tersebut. Dengan mengikuti program standar Angkatan Udara, Ratu Suthida menunjukkan dukungan nyata terhadap profesionalisme militer. Langkah ini juga dapat dilihat sebagai upaya memperkuat citra kerajaan di mata publik, terutama di tengah dinamika politik Thailand yang kompleks.
Keberhasilan Ratu Suthida dalam pelatihan ini akan menjadi catatan sejarah, tidak hanya bagi Thailand tetapi juga dunia. Jika ia berhasil melakukan penerbangan solo, ia akan mengukuhkan posisinya sebagai ratu pertama yang mengendalikan jet tempur. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan membuka jalan bagi lebih banyak perempuan di Asia Tenggara untuk menekuni karier di dunia penerbangan militer? Atau justru hanya menjadi simbol seremonial belaka? Waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, langkah ini telah mencuri perhatian dunia dan menempatkan Thailand dalam sorotan internasional.



