Final FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Berebut Trofi dan Hadiah Rp11,6 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di SUGBK, Jakarta, pada 5 Oktober 2026.
- Hadiah untuk juara ditetapkan sebesar 650 ribu dolar AS atau sekitar Rp11,6 miliar, turun dari rencana awal 1 juta dolar AS karena faktor komersial.
- Jika menang, pembagian bonus kepada 33 orang (10 pelatih dan 23 pemain) diperkirakan rata-rata Rp350 juta per orang, namun bisa berbeda tergantung menit bermain.

Timnas Indonesia akan melakoni partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Senin (5/10/2026) malam WIB. Laga ini bukan sekadar perebutan trofi perdana, melainkan juga perburuan hadiah uang senilai total 650 ribu dolar AS atau setara Rp11,6 miliar.
Angka tersebut mengalami koreksi dari rencana awal panitia yang semula menyiapkan 1 juta dolar AS (sekitar Rp17,9 miliar). Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan aspek komersial, terutama proyeksi pendapatan dari hak siar dan publisitas turnamen edisi perdana kolaborasi AFC dan FIFA ini.
Bagi PSSI dan para pemain, nominal itu tetap menjadi insentif signifikan. Jika seluruh hadiah dialokasikan kepada tim, estimasi kasar menunjukkan setiap orang dari 33 anggota kontingen—terdiri dari 10 pelatih dan asisten plus 23 pemain—bisa menerima sekitar Rp350 juta. Namun, pembagian riil belum final karena bergantung pada kesepakatan internal, termasuk kemungkinan perhitungan berbasis menit bermain.
Thailand datang dengan ambisi serupa. The War Elephants yang dikenal memiliki kedalaman skuad dan pengalaman di level regional akan menjadi ujian berat bagi pasukan Garuda. Duel ini juga menjadi barometer bagi pelatih John Herdman dalam meramu strategi di laga puncak, setelah sebelumnya membawa Indonesia melewati fase grup dan semifinal.
"Kami tidak hanya bermain untuk trofi, tetapi juga untuk membawa kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Herdman dalam sesi konferensi pers jelang laga, seperti dikutip dari keterangan resmi PSSI.
Dari kacamata bisnis olahraga, penurunan hadiah mencerminkan realitas komersialisasi turnamen. Hak siar dan sponsor memang menjadi penopang utama, tetapi pendapatan yang belum mencapai target membuat panitia harus menyesuaikan besaran hadiah. Meski demikian, kehadiran FIFA dan AFC dalam turnamen ini tetap memberi nilai prestise yang sulit diukur dengan uang.
Bagi Indonesia, kemenangan akan menjadi tonggak sejarah baru setelah sekian lama absen dari gelar juara di level senior ASEAN. Selain itu, gelar ini bisa menjadi modal berharga untuk meningkatkan peringkat FIFA dan menarik minat sponsor jangka panjang.
Pertanyaannya, apakah Timnas Indonesia mampu memanfaatkan tekanan menjadi motivasi, atau justru terjebak dalam ekspektasi berlebih? Jawabannya akan terlihat di atas rumput SUGBK malam nanti.



