TNI AU Kerahkan Water Bombing Padamkan Karhutla di Palembang, Helikopter Disiagakan hingga Tuntas
Baca dalam 60 detik
- Operasi pemadaman udara difokuskan di Kabupaten Ogan Komering Ilir setelah patroli menemukan sejumlah titik api.
- Kolaborasi lintas lembaga, termasuk BNPB dan BMKG, menjadi kunci percepatan penanganan kebakaran lahan di Sumatera Selatan.
- Kesiapan armada helikopter TNI AU akan dipertahankan sampai seluruh karhutla di wilayah tersebut benar-benar padam.

Palembang โ TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan armada helikopternya untuk menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (22/8). Operasi water bombing ini dipusatkan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menyusul temuan titik api saat patroli udara rutin. Langkah ini merupakan bagian dari dukungan militer terhadap upaya pemerintah daerah dalam menekan meluasnya bencana asap yang kerap melanda provinsi tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menegaskan bahwa keterlibatan TNI AU tidak hanya bersifat simbolis. "Peran TNI Angkatan Udara harus dioptimalkan dalam penanganan karhutla di wilayah Sumatera Selatan, dengan mengedepankan koordinasi dan sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan," ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen institusi militer untuk hadir di tengah situasi darurat lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan dan ekonomi masyarakat.
Proses pemadaman yang dilakukan jajaran Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) ini tidak berjalan sendiri. TNI AU menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kolaborasi ini dinilai penting karena penanganan karhutla membutuhkan data cuaca yang akurat untuk menentukan titik jatuh air yang efektif, sekaligus memastikan mobilisasi sumber daya darat berjalan paralel.
Hingga berita ini diturunkan, helikopter TNI AU masih disiagakan di beberapa lokasi. Nyoman memastikan armada udara tersebut akan terus beroperasi sampai karhutla benar-benar tuntas. "Helikopter akan terus disiagakan hingga karhutla selesai ditangani," tegasnya. Sikap ini menunjukkan bahwa operasi pemadaman tidak akan berhenti setengah jalan, meski tantangan di lapangan kerap berubah seiring kondisi angin dan kekeringan.
Data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di Sumatera Selatan mencapai 1.926 hektare hingga Juli 2026. Angka ini menjadi alarm bagi semua pihak, mengingat Provinsi Sumsel merupakan salah satu penyumbang kabut asap terbesar yang kerap mengganggu aktivitas penerbangan dan memicu gangguan pernapasan hingga ke negara tetangga. Keterlibatan TNI AU dalam operasi ini menjadi sinyal bahwa negara serius menangani persoalan yang berulang setiap musim kemarau.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah rawan karhutla, operasi ini membawa harapan sekaligus pekerjaan rumah. Keberhasilan pemadaman udara harus diikuti dengan langkah pencegahan yang lebih fundamental, seperti perbaikan tata kelola lahan gambut dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan. Tanpa itu, siklus asap tahunan akan terus berulang, dan upaya militer seperti ini hanya menjadi solusi jangka pendek.
Ke depan, publik akan menunggu evaluasi efektivitas water bombing dalam menekan titik api di Sumsel. Apakah operasi ini mampu memutus rantai kebakaran sebelum memasuki puncak musim kemarau? Jawabannya bergantung pada konsistensi koordinasi antarinstitusi dan komitmen politik untuk menyelesaikan akar masalah karhutla secara menyeluruh.



