Skanska Amankan Kontrak US$1,19 Miliar untuk Bangun Empat Pusat Data di AS
Baca dalam 60 detik
- Kontraktor asal Swedia, Skanska, menandatangani kontrak senilai 11,2 miliar kronor (sekitar US$1,19 miliar) untuk membangun empat pusat data di AS bagian tenggara.
- Proyek ini mencakup total luas 75.000 meter persegi dan dijadwalkan mulai konstruksi pada kuartal ketiga 2026, dengan target selesai pada kuartal ketiga 2028.
- Lonjakan permintaan infrastruktur digital global, termasuk dari Indonesia, mendorong ekspansi pusat data yang masif di kawasan strategis seperti AS.

Kontraktor konstruksi asal Swedia, Skanska, mengumumkan perolehan kontrak senilai sekitar 11,2 miliar kronor atau setara US$1,19 miliar untuk membangun empat pusat data baru di kawasan tenggara Amerika Serikat. Proyek ini, yang digarap untuk klien lama yang tidak disebutkan namanya, menjadi sinyal kuat akan terus menggeliatnya industri infrastruktur digital global.
Dalam pernyataan resminya, Skanska merinci bahwa proyek ini mencakup pembangunan empat pusat data dengan total luas mencapai 75.000 meter persegi. Lingkup pekerjaan meliputi konstruksi shell dan penyelesaian interior untuk ruang teknis, area pendukung, serta fungsi perkantoran. Artinya, Skanska tidak hanya membangun cangkang bangunan, tetapi juga menyiapkan fasilitas siap pakai untuk operasional pusat data.
Konstruksi dijadwalkan dimulai pada kuartal ketiga 2026 dan ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2028. Namun, Skanska enggan mengungkapkan lokasi pasti dari keempat pusat data tersebut. Kerahasiaan ini lazim dalam industri pusat data, mengingat sensitivitas keamanan dan persaingan bisnis.
Kontrak senilai miliaran dolar ini menegaskan tren percepatan pembangunan pusat data di Amerika Serikat, yang didorong oleh meningkatnya kebutuhan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan layanan digital. Bagi Skanska, proyek ini memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam konstruksi infrastruktur teknologi di pasar global.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, permintaan pusat data juga melonjak seiring dengan transformasi digital yang masif. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mendorong pembangunan pusat data nasional untuk mendukung layanan publik dan ekonomi digital. Kehadiran pemain global seperti Skanska di pasar AS menunjukkan bahwa investasi infrastruktur digital akan terus menjadi primadona, dan Indonesia perlu menarik investasi serupa untuk memperkuat kedaulatan datanya.
Menurut analis industri, proyek sebesar ini mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap pertumbuhan data global. Dengan volume data yang diperkirakan terus meningkat, kebutuhan akan pusat data yang andal dan efisien menjadi keniscayaan. Skanska, dengan pengalamannya, berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan peluang ini.
Ke depannya, pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan membangun pusat data berikutnya, tetapi juga bagaimana negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat bersaing dalam menarik investasi semacam ini. Apakah infrastruktur dan regulasi kita sudah siap menyambut gelombang investasi pusat data global? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta digital dunia.



