Intervensi Treasury AS Meredakan Ketakutan Pasar, Bursa Asia Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Langkah AS menggandakan penerbitan obligasi jangka panjang meredam gejolak imbal hasil, memicu reli saham Asia.
- Keputusan ini dianggap sinyal politik untuk menekan biaya pinjaman, meski skala operasinya kecil dibanding total utang pemerintah.
- Fokus pasar beralih ke pertemuan Jackson Hole dan sikap Federal Reserve terkait suku bunga di tengah inflasi yang masih tinggi.

Langkah intervensi Departemen Keuangan Amerika Serikat yang berjanji menggandakan penerbitan obligasi jangka panjang berhasil memadamkan kekhawatiran investor akan melonjaknya imbal hasil, dan memicu aksi beli saham di bursa Asia pada Kamis (20/8). Keputusan mendadak ini diambil setelah imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2007, memicu kekacauan di pasar keuangan global.
Intervensi tersebut dianggap sebagai sinyal kuat bahwa pemerintahan Trump tidak akan membiarkan biaya pinjaman jangka panjang terus meroket. Neil Wilson, analis dari Saxo Markets, menilai langkah ini lebih bersifat simbolis daripada substansial, mengingat jumlahnya sangat kecil dibandingkan total utang pemerintah AS yang mencapai US$40 triliun. "Ini tentang pesan yang ingin disampaikan, bukan besaran operasinya," tulisnya dalam catatan riset.
Dampaknya langsung terasa di pasar saham Asia. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari enam persen pada perdagangan intraday, didorong oleh reli saham SK hynix yang melesat 12 persen setelah perusahaan semikonduktor itu mengumumkan pembelian kembali saham senilai US$29 miliar. Samsung juga menguat hampir sembilan persen. Bursa Tokyo, Hong Kong, Shanghai, Sydney, Wellington, dan Manila ikut menghijau, dengan saham-saham teknologi menjadi motor penggerak utama setelah sebelumnya terpukul akibat kekhawatiran pendanaan proyek AI yang besar.
Di pasar valuta asing, dolar AS sempat melemah terhadap mata uang utama lainnya sebelum akhirnya stabil, sementara harga emas kembali menembus level US$4.500 per ons untuk pertama kalinya sejak awal Juni. Namun, analis memperingatkan bahwa reli ini mungkin hanya bersifat sementara. Fiona Cincotta dari City Index menggarisbawahi bahwa tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang bisa kembali muncul jika harga minyak tetap tinggi dan kekhawatiran defisit fiskal AS berlanjut.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor risiko. Harga minyak mentah terus meningkat selama dua pekan terakhir seiring memudarnya harapan kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Washington masih memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara Teheran memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu militer AS. Presiden Trump bahkan mengejek Iran dengan unggahan media sosial yang menyebut selat itu sebagai "wilayah baru AS".
Sementara itu, risalah pertemuan Federal Reserve pada Juli menunjukkan banyak pejabat yang meyakini kenaikan suku bunga masih diperlukan jika inflasi tak kunjung turun. Tiga dari dua belas anggota komite penetapan suku bunga (FOMC) bahkan menyatakan keberatan terhadap keputusan mempertahankan suku bunga, dan mendesak kenaikan. Mereka mencatat aktivitas ekonomi masih tumbuh solid, namun investasi bisnis terkonsentrasi di sektor AI.
"Pertanyaan kuncinya sekarang adalah apakah penurunan imbal hasil bisa bertahan. Jika harga minyak tetap tinggi dan kekhawatiran atas pinjaman pemerintah AS berlanjut, tekanan pada kurva imbal hasil jangka panjang bisa kembali," ujar Fiona Cincotta.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa angin segar sekaligus tantangan. Reli pasar Asia dapat mendorong masuknya modal asing ke pasar saham dan obligasi domestik, memperkuat nilai tukar rupiah. Namun, jika ketidakpastian global kembali memuncak, arus modal bisa berbalik arah, memberi tekanan pada pasar keuangan dalam negeri. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan imbal hasil obligasi AS sebagai acuan kebijakan moneternya.
Perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan tahunan bankir sentral di Jackson Hole, Wyoming, pekan depan. Investor berharap mendapat petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga dari Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh. Akankah ia memberi sinyal dovish atau tetap hawkish? Jawabannya akan menentukan apakah reli pasar saat ini berkelanjutan atau hanya respons sesaat.



