Beijing Sinyalkan Kesiapan KTT dengan Seoul di Shenzhen, Isyarat Normalisasi Hubungan?
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan Beijing tengah mempertimbangkan serius pertemuan puncak dengan Korea Selatan di sela-sela KTT APEC Shenzhen, November mendatang.
- Kunjungan Wang Yi ke Seoul juga membuka peluang peningkatan kerja sama ekonomi, termasuk perluasan perjanjian perdagangan bebas dan stabilisasi rantai pasok kawasan.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya China untuk menjaga stabilitas regional di tengah dinamika geopolitik yang melibatkan Korea Utara dan persaingan dengan Amerika Serikat.

Beijing mengirim sinyal kuat untuk menghidupkan kembali diplomasi tingkat tinggi dengan Seoul. Dalam kunjungan resminya ke Korea Selatan, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengungkapkan bahwa pemerintahannya secara serius mempertimbangkan untuk menggelar pertemuan puncak antara kedua kepala negara pada November mendatang, bertepatan dengan gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang Yi saat bertemu dengan Menlu Korea Selatan, Cho Hyun, di Seoul. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam keterangan resminya menyebut bahwa Wang Yi juga menyampaikan undangan resmi kepada Cho Hyun untuk berkunjung ke China, yang langsung diterima oleh Cho. Langkah ini menjadi penanda penting dalam hubungan bilateral kedua negara yang sempat mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain membahas agenda politik, kedua menlu juga sepakat untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis. Salah satu sorotan utamanya adalah intensifikasi negosiasi di sektor jasa dan investasi dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) Korea Selatan-China. Kedua pihak juga membahas upaya stabilisasi rantai pasok kawasan, peningkatan pertukaran budaya, serta rencana adopsi panda dari China oleh Korea Selatan. Angka proyeksi perjalanan bilateral yang menembus 10 juta kunjungan turut menjadi dasar optimisme untuk mempererat hubungan antar masyarakat.
Dalam pertemuan itu, Cho Hyun secara khusus meminta China untuk memainkan peran konstruktif dalam upaya membawa Korea Utara kembali ke meja dialog. Menanggapi hal tersebut, Wang Yi menegaskan bahwa kebijakan China terhadap Semenanjung Korea tetap konsisten, dan Beijing berharap tercipta koeksistensi damai antara kedua Korea. Pernyataan ini sejalan dengan laporan media pemerintah China, Xinhua, yang mengutip Wang Yi menyerukan hubungan yang "sehat, stabil, dan berkelanjutan" antara China dan Korea Selatan.
Lebih jauh, Wang Yi juga menyampaikan harapannya agar Korea Selatan, berdasarkan kepentingan fundamentalnya, dapat menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan mengembangkan hubungan dengan negara-negara lain secara paralel tanpa menimbulkan konflik. Pernyataan ini kerap dibaca sebagai pesan halus kepada Seoul agar tidak terlalu condong ke salah satu kekuatan besar, terutama di tengah rivalitas Beijing-Washington.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara Asia yang aktif dalam forum APEC, Indonesia tentu menyaksikan bagaimana normalisasi hubungan dua raksasa ekonomi Asia ini dapat mempengaruhi stabilitas kawasan. Lebih dari itu, kebijakan luar negeri bebas-aktif yang selama ini dipegang Indonesia sejalan dengan semangat yang disuarakan Wang Yi, yakni mendorong negara-negara di kawasan untuk menjalin hubungan yang seimbang tanpa harus terjebak dalam persaingan blok. Jika KTT ini terwujud, hal itu bisa menjadi preseden positif bagi terciptanya arsitektur keamanan dan ekonomi kawasan yang lebih inklusif.
Kendati demikian, sejumlah analis menilai bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum tuntas. Ketegangan historis terkait isu sejarah, persenjataan, dan pengaruh Amerika Serikat di Semenanjung Korea masih menjadi batu sandungan. Pertanyaan besarnya, apakah pertemuan puncak di Shenzhen nanti akan mampu melampaui sekadar seremoni dan menghasilkan kesepakatan konkret yang mampu meredakan ketegangan? Atau justru hanya menjadi panggung diplomasi yang retorikanya indah, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan?



