Pendaki Remaja Australia Ditemukan Tewas Setelah Pencarian Delapan Hari: Gubernur Salah Umumkan Kondisi
Baca dalam 60 detik
- Jenazah Lily Hooper, 18, ditemukan di kawasan semak Australia setelah delapan hari pencarian intensif.
- Gubernur New South Wales sempat menyatakan Hooper selamat, lalu mengoreksi pernyataannya di hadapan parlemen.
- Operasi pencarian melibatkan polisi, pemadam kebakaran, dan hampir 100 personel militer; keluarga kini berduka.

Jenazah seorang perempuan ditemukan di kawasan semak belukar Australia, mengakhiri pencarian delapan hari terhadap remaja asal Sydney yang dilaporkan hilang. Polisi meyakini jenazah tersebut adalah Lily Hooper, 18 tahun, meski identifikasi resmi masih berlangsung. Penemuan ini terjadi setelah sempat beredar kabar bahwa Hooper ditemukan dalam keadaan hidup, yang kemudian dikoreksi oleh pejabat setempat.
Hooper terakhir terlihat meninggalkan rumahnya di Sydney pada 12 Agustus untuk berjalan-jalan di taman nasional terdekat. Keluarganya melaporkan kehilangan pada malam harinya setelah ia tak kunjung pulang hingga pukul 22.00 waktu setempat. Mobilnya ditemukan di tempat parkir kaki jalur pendakian yang menantang di Taman Nasional Nattai, yang menjadi titik awal pencarian.
Kebingungan sempat mewarnai proses pencarian ketika Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, dalam sidang parlemen menyatakan bahwa Hooper ditemukan dalam keadaan hidup. Pernyataan itu sontak memicu harapan di kalangan keluarga dan publik. Namun, tak lama kemudian Minns mengoreksi ucapannya dan mengonfirmasi bahwa jenazah Hooper telah ditemukan. "Ini jelas menghancurkan, dan saya sangat berduka untuk keluarganya dan semua yang peduli," ujarnya, seraya meminta maaf atas kesalahan informasi tersebut.
Operasi pencarian yang melibatkan berbagai instansi telah berlangsung selama lebih dari seminggu. Polisi New South Wales mengerahkan unit udara PolAir, unit penyelamat, unit sepeda motor trail, unit berkuda, dan unit anjing pelacak. Dukungan juga datang dari Dinas Pemadam Kebakaran Pedesaan, Dinas Taman Nasional dan Satwa Liar, serta hampir 100 personel Angkatan Pertahanan Australia. Upaya besar-besaran ini mencerminkan kompleksitas medan di kawasan Southern Highlands, tempat jenazah ditemukan pada Kamis sekitar pukul 11.30 waktu setempat.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko aktivitas pendakian di alam liar, terutama bagi pendaki pemula. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi di gunung-gunung seperti Semeru atau Rinjani, di mana pendaki tersesat atau mengalami kecelakaan karena kurangnya persiapan. Kepala Basarnas beberapa kali mengimbau para pendaki untuk mematuhi protokol keselamatan, membawa peralatan memadai, dan tidak mendaki sendirian. Kasus Hooper menunjukkan bahwa bahkan di negara maju sekalipun, pencarian korban di medan terjal bisa memakan waktu berhari-hari dan melibatkan sumber daya besar.
Kesalahan komunikasi yang dilakukan Minns juga menyoroti pentingnya verifikasi informasi sebelum diumumkan ke publik. Di era media sosial, kabar yang belum pasti dapat menyebar cepat dan menimbulkan harapan palsu, seperti yang dialami keluarga Hooper. Para ahli komunikasi krisis menilai bahwa pejabat publik harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan perkembangan kasus sensitif, karena dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga korban.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan identifikasi resmi dan penyelidikan penyebab kematian Hooper. Pertanyaan besar yang menggantung adalah apa yang sebenarnya terjadi di jalur pendakian tersebut, dan apakah ada kelalaian yang bisa dicegah. Bagi keluarga Hooper, duka yang mendalam tak terelakkan. Bagi publik, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang keselamatan pendakian dan pentingnya komunikasi yang akurat dalam situasi krisis.



