IHSG Tertekan? Justru Tokyo Melonjak: Sinyal Pasar Global Masih Rapuh
Baca dalam 60 detik
- Nikkei menguat 1% setelah AS berencana menggandakan pembelian kembali obligasi jangka panjang, meredakan kekhawatiran suku bunga tinggi.
- Aksi beli saham murah memicu rebound, namun ketegangan Timur Tengah masih membayangi sentimen pasar global.
- Penguatan yen dan penurunan imbal hasil obligasi Jepang menjadi sinyal bagi investor Asia, termasuk Indonesia, untuk mencermati pergerakan dolar AS.

Bursa saham Tokyo dibuka menghijau pada perdagangan Kamis pagi, dengan indeks Nikkei melonjak lebih dari 650 poin setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menggandakan program pembelian kembali obligasi jangka panjangnya. Langkah ini langsung meredakan kekhawatiran investor akan melonjaknya imbal hasil obligasi AS yang selama ini menekan pasar saham global.
Nikkei ditutup sementara di level 65.982,49, naik 1,00 persen, sementara indeks Topix yang lebih luas menguat 0,91 persen ke posisi 4.048,72. Penguatan ini terjadi setelah dua hari beruntun indeks acuan Jepang tersebut anjlok sekitar 3.900 poin, sehingga aksi beli saham-saham yang harganya sudah terdiskon menjadi salah satu pendorong utama.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat ke kisaran 158,45-46 yen di Tokyo, setelah sebelumnya sempat merosot tajam seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Euro juga bergerak variatif, diperdagangkan di level 184,98-185,00 yen, mencerminkan masih tingginya volatilitas di pasar keuangan global.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menjadi katalis utama bagi sektor-sektor yang selama ini tertinggal, seperti otomotif. Saham-saham di sektor medis dan jasa juga kebanjiran aksi beli. Namun, para analis mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjadi salah satu pemicu kenaikan suku bunga global belum sepenuhnya mereda, sehingga potensi koreksi masih terbuka lebar.
Bagi pasar Indonesia, pergerakan ini memberikan sinyal penting. Penguatan yen dan penurunan imbal hasil obligasi global biasanya mendorong aliran modal asing ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Namun, investor tetap perlu mewaspadai dampak kebijakan The Fed yang masih hawkish, yang bisa membuat dolar AS tetap perkasa dan menekan rupiah.
Menurut analis pasar, rencana Treasury AS untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi adalah bentuk intervensi halus untuk menstabilkan pasar obligasi. Ini adalah langkah yang jarang terjadi dan menunjukkan kekhawatiran Washington terhadap gejolak pasar keuangan. Namun, efektivitas kebijakan ini masih diuji oleh ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah reli ini berkelanjutan atau hanya sekadar technical rebound. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan data inflasi AS menunjukkan penurunan, maka pasar saham global, termasuk Indonesia, berpeluang menguat lebih lanjut. Sebaliknya, jika konflik meluas, aksi jual bisa kembali terjadi.



