Menhan Sjafrie Turun ke NTT, Dengarkan Langsung Keluhan Warga Korban Gempa
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berdialog langsung dengan warga Desa Waikoka, Nagekeo, NTT, untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
- Kementerian Pertahanan dan TNI mengerahkan 20 ton logistik, termasuk tenda, Starlink, dan obat-obatan, melalui pesawat A400M.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya membangun kepercayaan publik dan mempercepat pemulihan pascagempa di NTT.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memilih duduk di bangku plastik di halaman terbuka Desa Waikoka, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Senin malam (17/8), mendengarkan langsung keluh kesah warga yang menjadi korban gempa. Momen yang terekam kamera dan viral di media sosial ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak hanya mengirim bantuan, tetapi juga hadir untuk mendengar.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, Sjafrie sengaja melakukan dialog langsung untuk mengetahui kebutuhan riil para korban, sehingga bantuan yang disalurkan tidak sekadar formalitas. “Beliau mendengar langsung kondisi warga, apa yang mereka alami setelah gempa, serta menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya warga akibat bencana,” ujar Rico di Jakarta, Kamis.
Pendekatan ini berbeda dari pola respons bencana yang kerap berfokus pada distribusi logistik semata. Dengan turun ke lapangan dan berdialog hingga larut malam, Sjafrie ingin memastikan bahwa setiap paket bantuan—mulai dari tenda hingga obat-obatan—benar-benar menjawab kebutuhan warga. “Selain bantuan logistik, Kemhan dan TNI juga menyiapkan tenda, tempat tidur lapangan, air siap minum, dukungan komunikasi Starlink, serta fasilitas lain untuk membantu masyarakat selama masa tanggap darurat,” tambah Rico.
Data dari Kemhan menunjukkan total 20 ton bantuan telah dikirim menggunakan pesawat angkut A400M—pesawat yang baru saja tampil dalam parade HUT ke-81 RI di langit Jakarta. Bantuan tersebut terdiri dari 25 set tenda, 484 velbed, 15 set Starlink, 700 paket makanan siap saji, 500 dus susu cair, 10 set solar cell, 35 kelambu lapangan, 101 matras, 1.480 selimut, dua unit alat reverse osmosis, serta 18 koli obat-obatan. Kehadiran Starlink menjadi penting untuk memulihkan komunikasi di daerah terdampak, sementara alat reverse osmosis menjamin ketersediaan air bersih.
Bagi warga NTT, kehadiran pejabat tinggi negara di tengah duka bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan bahwa negara hadir dalam momen paling sulit. Rico berharap langkah ini mampu menguatkan mental para korban agar tetap percaya pada pemerintah. “Dengan kehadiran Menhan di tengah-tengah masyarakat, para korban bencana tetap semangat menjalani kehidupan dan selalu percaya akan kehadiran pemerintah dalam membantu mereka,” tuturnya.
Secara lebih luas, respons cepat ini juga menjadi ujian bagi koordinasi antarlembaga. Kementerian Kesehatan telah mendirikan dua rumah sakit lapangan, sementara BNPB memastikan dukungan perbaikan rumah rusak. Pertanyaannya, apakah distribusi bantuan akan berjalan efisien hingga ke pelosok seperti Waikoka? Pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada jumlah bantuan, melainkan pada ketepatan sasaran dan keberlanjutan pemulihan.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah pendekatan “dengar langsung” ini menjadi standar baru dalam penanganan bencana di Indonesia. Jika konsisten, ini bisa menjadi preseden positif bagi kementerian lain. Namun, jika hanya berhenti pada kunjungan simbolis, kepercayaan yang baru terbangun bisa cepat memudar. Yang jelas, langkah Sjafrie kali ini telah menempatkan NTT—dan nasib para korbannya—di pusat perhatian nasional.



