Misi Penyelamatan Teleskop Swift Batal: Gangguan Kendali Sikap Kapal LINK Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Kolaborasi NASA-Katalyst Space menghentikan upaya mendorong orbit Teleskop Swift karena kegagalan sistem kendali sikap pada wahana LINK.
- Kegagalan ini menunda perpanjangan umur operasional observatorium yang telah berjasa lebih dari dua dekade dalam memantau fenomena kosmik.
- Keputusan ini menjadi pengingat akan tingginya risiko misi antariksa dan mendorong evaluasi ulang strategi perawatan aset orbit.

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) bersama Katalyst Space memutuskan membatalkan misi penyelamatan Teleskop Swift yang telah menua di orbit. Pembatalan ini dipicu oleh gangguan teknis yang tak dapat diperbaiki pada wahana penolong, LINK, yang sebelumnya dikerahkan untuk menaikkan ketinggian orbit observatorium tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Katalyst Space mengungkapkan bahwa setelah pemantauan dan evaluasi berkelanjutan terhadap LINK, ditemukan masalah pada sistem kendali sikap yang membuat misi tidak mungkin dilanjutkan. Alhasil, rencana untuk menangkap dan mendorong Neil Gehrels Swift Observatory batal dilakukan. Keputusan ini diambil bersama oleh kedua pihak setelah mempertimbangkan segala risiko dan peluang.
Teleskop Swift sendiri merupakan observatorium luar angkasa yang diluncurkan pada 2004 dan telah menjadi tulang punggung dalam mendeteksi ledakan sinar gamma serta fenomena kosmik lainnya. Umur operasionalnya yang sudah melebihi perkiraan awal membuatnya sangat membutuhkan dorongan orbit untuk tetap bertahan. Sayangnya, upaya penyelamatan yang diharapkan menjadi solusi justru gagal di tengah jalan.
Kegagalan ini menjadi sorotan bagi industri antariksa yang tengah gencar mengembangkan teknologi servis satelit di orbit. Katalyst Space, yang berbasis di Colorado, merupakan salah satu pemain baru yang mencoba menembus pasar tersebut. Namun, insiden ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih belum matang dan penuh tantangan.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi antariksa. Meski belum memiliki teleskop luar angkasa semacam Swift, Indonesia mulai serius mengembangkan satelit dan program antariksa. Kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bahwa perawatan dan perpanjangan umur aset antariksa adalah aspek yang tidak boleh diabaikan.
Para analis memperkirakan bahwa kegagalan ini akan mendorong NASA dan perusahaan swasta lain untuk lebih berhati-hati dalam merancang misi serupa di masa depan. Pertanyaan besar yang muncul: apakah teknologi servis satelit akan segera matang, atau justru semakin banyak misi yang berakhir seperti ini?



