Bulan Terkena Puing Roket SpaceX: KASA Rilis Foto Dampak, Ilmuwan Peringatkan Risiko Sampah Antariksa
Baca dalam 60 detik
- Badan antariksa Korea Selatan, KASA, merilis citra permukaan Bulan sebelum dan sesudah dihantam puing roket Falcon 9 milik SpaceX pada Rabu lalu.
- Insiden ini menjadi pengingat meningkatnya kepadatan sampah antariksa yang dapat menghambat misi eksplorasi di masa depan.
- Para astronom kini memantau dampak tabrakan tersebut untuk memahami risiko orbital yang kian kompleks.

Badan antariksa Korea Selatan, KASA, mengonfirmasi bahwa puing roket Falcon 9 milik SpaceX telah menghantam permukaan Bulan pada Rabu (4/3) sekitar pukul 06.35 GMT. Insiden ini terekam oleh wahana pengorbit Bulan Danuri yang berhasil mengabadikan citra permukaan satelit alami Bumi sebelum dan sesudah tumbukan. Meski tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Bumi, peristiwa ini memicu kekhawatiran baru di kalangan ilmuwan tentang meningkatnya kepadatan sampah antariksa di orbit Bumi.
Menurut KASA, puing roket tersebut adalah bagian atas (upper stage) dari Falcon 9 yang diluncurkan pada Januari 2025 dari Florida. Roket ini membawa dua pendarat bulan dalam misi komersial, dan setelah menyelesaikan tugasnya, bagian kosongnya dibiarkan melayang di orbit yang memanjang. Selama 18 bulan, tarikan gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari, serta tekanan radiasi matahari, secara perlahan mengubah lintasannya hingga akhirnya menabrak Bulan dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam. Ukuran puing tersebut setara dengan bangunan lima lantai dan berbobot sekitar 4.000 kilogram.
SpaceX sendiri menegaskan bahwa tumbukan ini tidak disengaja. Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu memang merancang roket Falcon 9 sebagai wahana yang dapat digunakan kembali, dengan sebagian komponen dirancang untuk kembali ke Bumi dan sebagian lainnya dibuang di luar angkasa. Namun, praktik membuang komponen roket di orbit ini yang kini menjadi sorotan. Astronom Matt Bothwell dari Universitas Cambridge menggarisbawahi bahwa ruang angkasa semakin padat. "Setiap tahun kita meluncurkan lebih banyak benda ke luar angkasa," katanya. Ia memperingatkan bahwa dalam beberapa dekade, mungkin akan sulit untuk menembus orbit Bumi karena kepadatan sampah antariksa.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa aktivitas antariksa global meningkat pesat, seiring dengan menjamurnya konstelasi satelit seperti Starlink milik SpaceX. Booster yang sama dari misi Januari 2025 dijadwalkan terbang untuk ke-18 kalinya pada 10 Agustus mendatang, membawa 29 satelit Starlink ke orbit rendah Bumi. Hal ini menunjukkan intensitas peluncuran yang semakin tinggi, yang berpotensi menambah risiko tabrakan dan sampah antariksa.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan meningkatnya minat negara-negara berkembang untuk berpartisipasi dalam eksplorasi antariksa. Meski Indonesia belum memiliki program luar angkasa sebesar Korea Selatan, kehadiran satelit-satelit komunikasi dan observasi Bumi yang dioperasikan dari dalam negeri membuat isu sampah antariksa menjadi penting. Jika orbit Bumi semakin padat, biaya peluncuran dan risiko kegagalan misi dapat meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada layanan telekomunikasi dan data di tanah air. Para pengamat menilai bahwa regulasi internasional mengenai pengelolaan sampah antariksa perlu diperkuat, dan Indonesia dapat berperan dalam mendorong kesepakatan global tersebut.
KASA sendiri menyatakan akan terus menganalisis data dari Danuri untuk memahami efek tumbukan terhadap permukaan Bulan. Sementara itu, para astronom di seluruh dunia, termasuk di observatorium besar, berupaya menangkap kilatan cahaya yang dihasilkan oleh tumbukan tersebut, meskipun terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang. Peristiwa ini membuka pertanyaan besar: akankah manusia semakin sering menyaksikan objek buatan menabrak benda langit? Dan apakah kita sudah siap menghadapi konsekuensi dari aktivitas antariksa yang semakin masif?



