Uber Buka Layanan Robotaxi Pertama di Eropa: Zagreb Jadi Uji Coba, Indonesia Menyusul?
Baca dalam 60 detik
- Uber, Verne, dan Pony.ai resmi mengoperasikan taksi otonom di Zagreb, Kroasia, menandai debut layanan tersebut di Eropa.
- Kolaborasi ini menggabungkan teknologi otonom Pony.ai, manajemen armada Verne, dan platform Uber, dengan rencana ekspansi ke kota-kota Eropa lainnya.
- Kehadiran robotaxi di Eropa memicu spekulasi tentang adopsi teknologi serupa di Asia, termasuk Indonesia, meski regulasi dan infrastruktur masih menjadi tantangan.

Uber, bersama mitranya Verne dan Pony.ai, resmi meluncurkan layanan taksi otonom di Zagreb, Kroasia, pada Rabu (19/8). Ini menjadikan ibu kota Kroasia sebagai kota pertama di Eropa yang memungkinkan pengguna memesan kendaraan tanpa pengemudi melalui aplikasi Uber.
Layanan ini merupakan realisasi dari kemitraan yang diumumkan pada Maret lalu. Dalam tahap awal, penumpang dapat memesan robotaxi di area-area utama Zagreb, termasuk pusat kota. Namun, cakupan geografis dan ketersediaan layanan dipastikan akan diperluas seiring waktu. Yang menarik, pada fase perdana ini, setiap kendaraan akan didampingi oleh operator berlisensi yang bertugas memantau perjalanan, sebelum nantinya beroperasi sepenuhnya secara otonom.
Skema kerja sama ini melibatkan tiga pemain kunci: Pony.ai, perusahaan robotaxi asal China, menyediakan teknologi mengemudi otonom; Verne, startup Kroasia, bertindak sebagai pemilik armada dan operator layanan; sementara Uber mengintegrasikan semuanya ke dalam platform ride-hailing-nya. Penumpang dapat memesan layanan ini dengan memilih opsi UberX atau Comfort di aplikasi Uber, yang akan menampilkan detail kendaraan dan instruksi khusus ketika mobil otonom tersedia.
Langkah ini tidak hanya penting bagi pasar Eropa, tetapi juga memberikan sinyal bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, konsep kendaraan otonom masih sebatas wacana. Regulasi lalu lintas yang belum mengakomodasi kendaraan tanpa pengemudi, infrastruktur jalan yang belum merata, serta tingkat adopsi teknologi yang masih berkembang menjadi hambatan utama. Namun, kesuksesan uji coba di Zagreb bisa menjadi referensi bagi pemangku kepentingan di Indonesia untuk mulai mengkaji kemungkinan serupa, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang memiliki tingkat kemacetan tinggi.
Menurut pengamat transportasi, kehadiran robotaxi berpotensi mengurangi kecelakaan akibat human error dan meningkatkan efisiensi transportasi perkotaan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa transisi ini membutuhkan kesiapan regulasi yang matang, termasuk soal keamanan data dan tanggung jawab hukum jika terjadi insiden. Di sisi lain, perusahaan ride-hailing lokal seperti Gojek dan Grab perlu memantau perkembangan ini sebagai ancaman potensial maupun peluang kolaborasi di masa depan.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah teknologi otonom ini segera merambah Asia Tenggara? Dengan persaingan yang semakin ketat di industri ride-hailing, adopsi teknologi otonom bisa menjadi pembeda utama. Namun, tanpa dukungan regulasi dan infrastruktur yang memadai, Indonesia mungkin harus menunggu lebih lama untuk merasakan layanan serupa. Yang jelas, langkah Uber di Zagreb membuka babak baru dalam evolusi transportasi perkotaan global, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan ini.



