Unitree Melantai di Bursa Shanghai, Saham Melonjak 460%: Sinyal Dominasi Robot Humanoid China
Baca dalam 60 detik
- Unitree Robotics, produsen robot humanoid terbesar dunia, mencatatkan debut sahamnya di Shanghai dengan lonjakan harga saham hingga 460% pada hari pertama perdagangan.
- Lonjakan ini menegaskan posisi China sebagai pemimpin industri robotik global, sekaligus menjadi ujian minat investor terhadap sektor yang sedang naik daun ini.
- Keberhasilan Unitree berpotensi menjadi katalis bagi perusahaan robotik lain untuk melantai di bursa, serta mempercepat adopsi robot humanoid di berbagai sektor, termasuk di Indonesia.

Unitree Robotics, produsen robot humanoid terbesar di dunia, mencatatkan debut sahamnya di Bursa Shanghai pada Rabu (11/12/2024) dengan lonjakan harga saham yang spektakuler. Saham perusahaan yang berbasis di Hangzhou ini ditutup pada level 845 yuan (sekitar Rp1,8 juta) per lembar, melonjak lebih dari 460% dari harga penawaran awal di 150,80 yuan. Aksi korporasi ini menjadi tonggak penting bagi ambisi Beijing dalam menguasai industri robotik global.
Pencatatan saham di papan Star Marketโyang kerap dijuluki sebagai Nasdaq-nya Chinaโini bukan sekadar euforia pasar. Lebih dari itu, ini adalah sinyal nyata bahwa China serius mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dalam perlombaan teknologi robotika dan kecerdasan buatan (AI). Unitree, yang berdiri sejak 2016, telah menjelma menjadi pemimpin industri dengan menjual berbagai perangkat, mulai dari sensor, lengan otomatis, hingga robot berkaki empat dan humanoid. Tahun lalu saja, perusahaan ini mengirim lebih dari 5.500 unit robot humanoid ke berbagai negara.
Yang menarik, Unitree adalah salah satu dari sedikit perusahaan di sektor ini yang sudah membukukan laba. Pada 2025, perusahaan mencatat laba bersih sebesar 278 juta yuan (sekitar Rp600 miliar). Keunggulan ini menjadi pembeda utama dibandingkan kompetitornya di AS yang masih berkutat pada tahap riset dan pengembangan. Dengan harga robot anjing mulai dari US$2.700โjauh lebih murah dibandingkan produk sejenis dari Boston Dynamics yang dibanderol sekitar US$70.000โUnitree menawarkan alternatif yang sulit ditolak pasar.
Fenomena ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah China. Kawasan Hangzhou, tempat Unitree bermarkas, menjadi bagian dari "golden cluster zone" yang mendapat suntikan dana besar dari negara. Akibatnya, jumlah perusahaan robotik di China meningkat tiga kali lipat antara 2020 dan 2024, seperti dilaporkan China Daily. Bagi Beijing, robotika adalah "prioritas strategis" untuk memimpin teknologi maju, sekaligus solusi potensial atas masalah populasi menua yang mengancam kekurangan tenaga kerja.
Di tengah gegap gempita pasar, para analis mengingatkan bahwa robot humanoid masih jauh dari kata sempurna untuk digunakan di rumah-rumah. Harold Soh, peneliti dari National University of Singapore, menilai masih ada pekerjaan rumah besar terkait daya tahan baterai, privasi, dan keandalan. Namun, ia mengakui keunggulan harga produk China sulit diabaikan. "Mereka tidak bisa dibandingkan secara langsung karena ukurannya berbeda, tapi selisih harganya sangat signifikan," ujarnya.
Debut Unitree juga menjadi barometer minat investor terhadap sektor robot humanoid yang sedang naik daun. Jack Pearson dari RoboStrategy menyebut pencatatan saham ini sebagai "titik balik" bagi industri robotik China, terutama di tengah upaya AS membatasi impor robot buatan asing. Pemerintahan Trump bahkan telah mengumumkan larangan penggunaan robot humanoid dan quadruped buatan China dengan alasan keamanan nasional, sebuah langkah yang ditolak Beijing sebagai politisasi isu perdagangan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, harga robot China yang lebih terjangkau bisa mempercepat adopsi otomasi di sektor manufaktur dan layanan kesehatan dalam negeri. Namun, ketergantungan pada teknologi asing juga perlu diantisipasi dengan pengembangan riset lokal. Christine Wan dari Peterson Institute for International Economics mengingatkan bahwa China semakin "tertanam dalam" rantai pasok global, dan banyak negara enggan melepas ketergantungan karena risiko disruptif pada industri domestik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah robot humanoid akan menjadi bagian dari kehidupan kita, melainkan seberapa cepat dan seberapa dalam penetrasinya. Dengan semakin banyaknya perusahaan seperti Leju Robotics dan AgiBot yang berencana mengikuti jejak Unitree, peta persaingan global akan semakin dinamis. Apakah Indonesia siap memanfaatkan momentum ini, atau justru hanya menjadi pasar bagi produk-produk asing?



