Dari Hacker Otodidak ke Keamanan Siber Berbasis AI: Perjalanan Nico Waisman di Xbow
Baca dalam 60 detik
- Nico Waisman, kini CTO Xbow, menapaki karier dari peretas otodidak hingga memimpin inovasi keamanan ofensif bertenaga AI.
- Xbow memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi deteksi dan respons serangan, menjawab kebutuhan industri akan pertahanan yang lebih adaptif.
- Perkembangan ini menandai pergeseran paradigma keamanan siber global, dengan implikasi bagi adopsi teknologi di Indonesia.

Nico Waisman, yang kini menjabat sebagai Chief Technology Officer di Xbow, membuktikan bahwa jalan menuju puncak industri keamanan siber tidak selalu dimulai dari ruang kelas formal. Berawal dari rasa penasarannya sebagai peretas otodidak, Waisman kini berada di garda terdepan pengembangan solusi keamanan ofensif yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI). Kisahnya menjadi cermin bagaimana pendekatan non-tradisional dapat melahirkan inovasi yang justru dibutuhkan industri saat ini.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Waisman menuturkan bahwa fondasi keahliannya dibangun dari eksplorasi mandiri, jauh sebelum istilah AI menjadi tren. Ia mengawali karier dengan menguji sistem secara manual, memahami celah keamanan dari sudut pandang penyerang. Kini, di Xbow, ia memimpin tim yang mengembangkan platform yang memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi proses identifikasi dan eksploitasi kerentanan. Langkah ini dinilai sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas serangan siber yang tidak lagi bisa ditangani dengan metode konvensional.
Transformasi Waisman mencerminkan pergeseran besar dalam industri keamanan siber global. Jika sebelumnya keamanan ofensif sangat bergantung pada keahlian manual para ahli, kini AI memungkinkan otomatisasi yang lebih cepat dan akurat. Xbow, sebagai perusahaan rintisan yang relatif baru, berani mengambil posisi di niche ini dengan menawarkan solusi yang menggabungkan pemahaman mendalam tentang perilaku peretas dengan kecepatan komputasi mesin. Menurut Waisman, pendekatan ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah lanskap ancaman yang terus berevolusi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Adopsi teknologi digital yang semakin masif di sektor pemerintahan dan swasta membuat negeri ini menjadi target empuk bagi serangan siber. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ribuan percobaan serangan setiap tahunnya, dan banyak di antaranya mengeksploitasi kerentanan yang sebenarnya sudah diketahui. Kehadiran solusi keamanan berbasis AI seperti yang dikembangkan Xbow dapat menjadi salah satu jawaban untuk memperkuat pertahanan siber nasional. Namun, tantangan utamanya bukan hanya pada teknologi, melainkan juga pada kesiapan sumber daya manusia dan regulasi yang mendukung.
Para analis menilai bahwa langkah Xbow ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara manusia dan mesin. AI memang mampu memproses data dalam skala besar, tetapi intuisi dan pengalaman manusia tetap diperlukan untuk menafsirkan konteks serangan yang kompleks. Waisman sendiri mengakui bahwa perjalanannya dari peretas otodidak hingga menjadi eksekutif teknologi memberinya perspektif unik: ia memahami cara berpikir penyerang, sekaligus mampu merancang pertahanan yang efektif. Kombinasi inilah yang coba ditanamkan Xbow ke dalam produknya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana ekosistem keamanan siber di Indonesia dapat mengadopsi inovasi semacam ini secara lebih luas. Apakah perusahaan lokal akan berani berinvestasi pada teknologi AI untuk keamanan, atau justru tertinggal karena keterbatasan anggaran dan keahlian? Sementara itu, Xbow terus mengembangkan platformnya, dan Waisman optimistis bahwa masa depan keamanan siber akan semakin bergantung pada kecerdasan buatan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat; yang terpenting adalah bagaimana manusia menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.



